Anak Kejang Demam, Lakukan Hal Ini dan Tidak Perlu Panik

Anak Kejang Demam, Lakukan Hal Ini dan Tidak Perlu Panik
Dokter Nur Liya Khanifa saat menangani pasien anak-anak di RSI Siti Hajar Sidoarjo. (Foto: NU Online/M Kholidun)
Dokter Nur Liya Khanifa saat menangani pasien anak-anak di RSI Siti Hajar Sidoarjo. (Foto: NU Online/M Kholidun)
Sidoarjo, NU Online
Kejang demam merupakan kejang yang terjadi saat suhu tubuh 38 derajat selsius atau lebih yang disebabkan oleh proses di luar otak. Rentan usia kejadian kejang demam adalah pada usia 6 bulan sampai 5 tahun.
 
Ciri khas dari kejang demam yakni demamnya yang mendahului kejang, pada saat kejang anak masih dan sedang demam, setelah kejang anak langsung sadar kembali atau menangis. Kejang demam akan berhenti sendiri dalam waktu kurang dari 5 menit dan tidak berulang lebih dari satu kali dalam 24 jam.
 
“Kejang demam masih menjadi mimpi buruk bagi orang tua. Hal itu terjadi pada saat anak demam yang menimbulkan kejang, kejang yang disertai mata terbelalak, kaku sampai kelojotan, dan lidah tergigit,” kata dokter Nur Liya Khanifa, Senin (25/11).
 
Menurut dokter di Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar, Sidoarjo, Jawa Timur tersebut, kondisi itu tentu saja membuat orang tua panik dan bisa saja melakukan hal yang tidak seharusnya menjadi pertolongan pertama saat kejang terjadi. 
 
Nur Liya Khanifa  menjelaskan, penyebab kejang demam adalah demam yang terjadi secara mendadak. Demam disebabkan infeksi bakteri atau virus, misalnya infeksi saluran napas atas (batuk dan pilek), diare yang disertai dehidrasi.
 
“Tidak diketahui secara pasti mengapa demam dapat menyebabkan kejang pada satu anak dan tidak pada anak lainnya, namun diduga ada faktor genetik yang berperan. Jika ada salah satu anggota keluarga yang pernah mengalami kejang demam, maka bisa terjadi pada anggota keluarga yang lain,” jelasnya.
 
Tetap Tenang
Menurutnya, bila melihat anak kejang usahakan untuk tetap tenang dan lakukan hal berikut. 
 
Langkah awal, letakkan anak pada tempat yang aman. Jauhkan dari benda-benda berbahaya seperti api, listrik dan benda pecah belah.
 
“Posisikan anak dalam keadaan miring, agar muntahan atau benda lain yang ada dalam mulut akan keluar sehingga anak tidak tersedak. Jangan memasukkan benda apapun ke dalam mulut. Memasukkan sendok, jari orang tua, atau benda lainnya ke dalam mulut berisiko menjadi sumbatan jalan napas,” ujarnya.
 
Tidak hanya itu, jangan memberi minum anak yang sedang kejang, berisiko menyebabkan sumbatan jalan nafas apabila luka. Jangan menahan gerakan anak atau menghentikan kejang dengan paksa, karena dapat menyebabkan patah tulang.
 
“Ingat dan amati apa yang terjadi saat anak kejang, karena dapat menjadi informasi berharga bagi dokter. Tunggu sampai kejang berhenti, kemudian bawa anak ke unit gawat darurat terdekat,” terangnya.
 
Pencegahan kejang demam yang pertama tentu dengan usaha menurunkan suhu tubuh apabila anak demam. Jika anak sudah memiliki riwayat kejang demam, maka sebisa mungkin dijaga agar tidak demam atau mengalami infeksi. 
 
Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan obat penurun panas, misalnya parasetamol atau ibuprofen (jika anak tidak memiliki alergi obat). Pemberian kompres air hangat (bukan dingin) pada dahi, ketiak, dan lipatan siku juga dapat membantu. Memakai pakaian longgar saat mengalami demam, agar suhu tubuh tidak semakin meningkat.
 
“Sebaiknya, wajib bagi orang tua memiliki termometer di rumah dan mengukur suhu anak saat sedang demam. Pengukuran suhu berguna untuk menentukan apakah anak benar mengalami demam dan pada suhu berapa kejang demam timbul. Pengobatan jangka panjang hanya diberikan pada sebagian kecil kejang demam dengan kondisi tertentu,” tegasnya.
 
Kejang demam tidak berpengaruh terhadap perkembangan atau kecerdasan anak. Biasanya kejang demam menghilang dengan sendirinya setelah anak berusia 5 hingga 6 tahun. Sebagian besar anak yang pernah mengalami kejang demam akan tumbuh dan berkembang secara normal tanpa adanya kelainan. 
 
Epilepsi terjadi pada kurang dari 5 persen anak kejang demam, dan biasanya pada anak-anak ini terdapat faktor risiko lain. Oleh karena itu, sebagian besar anak dengan kejang demam tidak memerlukan bermacam pemeriksaan seperti rekam otak atau elektroensefalografi (EEG) maupun CT (computerized tomography) scan.
 
Dalam pandangannya, kejang memang tampak menakutkan dan merupakan momok bagi semua orang tua. Pada umumnya kejang demam tidak berbahaya, tidak merusak otak anak, tidak mengganggu kecerdasan anak. Dan kejang akan menghilang sendiri seiring bertambahnya usia.
 
"Maka dari itu, ayah bunda tidak perlu panik dan khawatir apabila buah hatinya mengalami kejang demam,” pungkasnya. 
 
 
Kontributor: Moh Kholidun
Editor: Ibnu Nawawi
 
BNI Mobile