Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Salah Paham al-Wala wal Bara dalam Pandangan Alissa Wahid 

Salah Paham al-Wala wal Bara dalam Pandangan Alissa Wahid 
Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Indonesia Alissa Wahid
Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Indonesia Alissa Wahid
Jakarta, NU Online
Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Indonesia Alissa Wahid mengatakan salah satu tantangan dalam upaya menyatukan seluruh elemen bangsa dalam bayung kerukunan adalah ajaran kegamaan yang salah interpretasi seperti ajaran al-wala wal-bara atau ajaran kawan dan lawan.
 
Ajaran ini merupakan ajaran yang telah kehilangan konteksnya karena tidak sesuai dengan kondisi Indonesia yang aman dan tidak berada dalam masa peperangan, sebagaimana latar belakangan lahirnya ajaran tersebut.  
 
"Saat ini, ajaran seperti al-wala wal-bara yang mengajarkan larangan berteman dengan yang kelompok berbeda ini didorong oleh beberapa kelompok keagamaan tertentu hingga menimbulkan perpecahan. Padahal negara kita ini penuh keberagaman," kata Alissa Wahid di Jakarta, Jumat (29/11). 
 
Menurut Alissa, ajaran dapat menimbulkan masalah besar seperti merenggangkan hubungan antarumat beragama. Ajaran itu juga dapat memicu seseorang untuk bertindak intoleran hingga melakukan kekerasan terhadap kelompok yang berbeda agama. 
 
Ia mengatakan, di negara yang beragam seperti di Indonesia, diperlukan keseimbangan sikap antara sebagai warga negara dan sebagai pemeluk sebuah agama. Ia menyontohkan konsep trilogi ukhuwah yang diajarkan dalam Nahdlatul Ulama. 
 
"Seperti di NU yang mengenal trilogi ukhuwah: bahwa sebagai umat Islam harus berperilaku sehari-hari dengan tiga ukhuwah yaitu Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Wathaniyah dan Ukhuwah Basariyah. Intinya beragama tetapi dengan tetap menjunjung keberagaman," terang Sekretaris Jenderal Suluh Kebangsaan ini. 
 
Al-wala secara harfiah berarti loyalitas, sedangkan Al-bara berarti berlepas diri. Islam memerintahkan umat Islam untuk loyal kepada sesama Muslim dan melarang mereka untuk loyal kepada orang kafir, kekufuran, kesesatan, dan kezaliman orang kafir.
 
Ustad Alhafiz Kurniawan dalam ulasannya di NU Online menerangkan, Al-wala Wal-baro sering diterjemahkan secara berlebihan atau ekstrim dalam praktik kehidupan sosial dan politik, yang pada titik tertentu melewati batas. Menurutnya, gelombang aksi bela Islam yang menjadi fenomena sejak Pemilu 2014, Pilkada DKI 2017 dan Pemilu 2019, merupakan buntut dari penerapan ajaran Al-wala wal-bara ini secara keliru.
 
Bahkan, menurutnya, Al-wala wal-bara yang salah dimengerti secara berlebihan, selain menimbulkan sikap sosial dan politik yang eksklusif dan intoleran, lebih ekstrim lagi, dapat mengantarkan seseorang mengamini sikap ekstremisme, radikalisme kekerasan, hingga pembunuhan.
 
Ia menerangkan, pada dasarnya, ajaran Al-wala Wal-bara ini merupakan turunan dari ajaran jihad. Sama dengan jihad, ajaran ini hanya bisa diberlakukan dalam kondisi peperangan dan tidak dapat diaplikasikan dalam kondisi damai seperti Indonesia. Syarat utama kondisi peperangan adalah ditandai dengan pengumuman kondisi Darurat Militer yang diumumkan oleh pimpinan negara dan hanya dapat digunakan untuk kelompok di luar negara kita yang menjadi musuh dari negara yang kita bela.
 
Al-wala Wal-bara bukan akidah
Alhafiz secara gamblang menerangkan bahwa para ulama Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) tidak memasukkan al-wala wal bara ke dalam akidah Aswaja. Sehingga, orang yang berkembang dalam tradisi Asy’ariyah (peletak dasar teorisasi teologi Ahlussunnah wal Jamaah, 873 M-935 M). 
 
Statemen ini juga diperkuat oleh ustad Hengki Ferdiansyah, Lc. MA, yang menjelaskan kelompok yang memasukkan ajaran ini sebagai bagian dari aqidah berkutat di kelompok jihadis. Dalam usalannya yang berjudul Kritik Doktrin Al-wala Wal-bara di Islami.co, penerapan ajaran ini secara serampangan bermasalah. Karena konteks saat ajaran ini dikeluarkan dan kondisi Indonesia saat ini sudah sangat jauh berbeda. 
 
"Untuk memahami sebuat ayat, kita tidak bisa semerta-merta mengambil makna tekstual dari satu ayat kemudian menyimpulkannya tanpa membandingkan dengan ayat-ayat lain atau sumber lain. Paling tidak, tugas pertama kita adalah memeriksa sebab turunnya ayat (sabab al-nuzul)," tulis ustad Hengky.
 
Mengutip al-Qasimi dalam Tafsir Mahasin al-Ta’wil yang merujuk riwayat dalam tafsir Ibn Katsir, ajaran Al-wala wal-bara memang menjadi perintah bagi orang-orang beriman untuk tidak mendukung apalagi mencintai orang musyrik. Namun ia menekankan, yang harus digarisbawahi, adalah konteks ajaran itu adalah saat umat Islam diusir dari kota Makkah.
 
"Maka dengan mengetahui sebab turunnya ajaran tersebut dan konteks yang melatarbelakanginya, kita mengetahui bahwa perintah di atas diperuntukkan bagi para sahabat yang mendapatkan tekanan di Makkah, sehingga sangat wajar kalau Allah berfirman bahwa mereka adalah musuh Allah," tulisnya.
 
 
Pewarta: Ahmad Rozali
Editor: Kendi Setiawan
BNI Mobile