IMG-LOGO
Nasional

Tiga Kunci Wasathiyah Menurut Prof Quraish Shihab


Ahad 1 Desember 2019 13:30 WIB
Bagikan:
Tiga Kunci Wasathiyah Menurut Prof Quraish Shihab
Prof Quraish pada acara Shihab & Shihab di Masjid Al-Azhar, Jakarta Selatan, Sabtu (30/1) (Foto: NU Online/Husni Sahal)
Jakarta, NU Online
Pakar Tafsir Al-Qur'an Indonesia, Prof Quraish Shihab mengemukakan tiga kunci seseorang bisa menerapkan wasathiyah atau moderasi beragama. Tiga kunci, ialah pengetahuan, mengganti emosi keagamaan dengan cinta agama, dan selalu berhati-hati. 
 
Pertama, pengetahuan. Pengetahuan yang dimaksud adalah mengetahui tentang ajaran agama dan kondisi masyarakatnya. "Tanpa mengetahui itu, tidak akan bisa (menerapkan moderasi). Semua (perbedaan) bisa ditampung oleh wasathiyah," kata Prof Quraish pada acara Shihab & Shihab di Masjid Al-Azhar, Jakarta Selatan, Sabtu (30/1).
 
Contoh pengetahuan tentang ajaran agamanya, ialah seperti zakat fitrah dengan menggunakan uang. Kata Prof Quraish, boleh tidaknya uang untuk zakat fitrah terjadi perbedaan di antara ulama madzhab. Madzhab Hanafi membolehkan. Sementara mazhab Syafi'i tidak membolehkan. Perbedaan antara kedua mazhab juga terjadi misalnya dalam hal apakah qunut saat shalat subuh itu sunnah atau bukan.
 
Menurutnya, untuk menyikapi  perbedaan-perbedaan yang ada, maka seseorang diharuskan memiliki pengetahuan, sehingga nantinya tidak mudah menyalahkan. Baginya, selama  prinsipnya sama, seperti Tuhan itu Esa, Nabi Muhammad adalah utusan Allah, dan menyakini kebenaran Al-Qur'an, maka seseorang atau sekelompok orang tidak perlu saling menyalahkan.
 
Kedua, mengganti emosi keagamaan dengan cinta keagamaan. Penulis Tafsir Al-Misbah ini menyatakan, emosi keagamaan bisa menjadikan seseorang melanggar agamanya. Ia mencontohkan, seseorang rajin shalat tahajud dan yang lainnya tidak. Menurutnya, jika orang yang gemar tahajud ini tidak bisa mengubah emosi keagamaan menjadi cinta keagamaan, maka akan mudah menyalahkan orang yang tidak rajin sahalat tahajud.
 
Ketiga, selalu berhati-hati. Ia mengatakan, tidak ada satu kegiatan positif yang setan tidak datang kepada seseoeang, kecuali meminta seseorang tersebut untuk melebihkan atau menguranginya. Ia memberi contoh. Saat seseorang hendak memberikan uang 50 ribu ke pengemis, setan datang dengan membisiki. Bisikan itu berupa permintaan untuk melebihi atau mengurangi nilainya.
 
"Boleh jadi dia (setan) berkata begini, '50 ribu, waduh terlalu sedikit, tambah, dong'. Bisa jadi juga ngurangi, 'terlalu banyak (50 ribu itu). Itu syetan begitu. Jadi harus hati-hati. Kalau tidak Anda tidak bisa menerapkan wasathiyah," ucapnya.
 
Pewarta: Husni Sahal
Editor: Kendi Setiawan
Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Maulid Akbar dan Doa untuk Keselamatan Bangsa
Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
IMG
IMG