IMG-LOGO
Nasional
RISET BLA JAKARTA

Folklor Keagamaan Sumber Belajar yang Tepat


Rabu 4 Desember 2019 20:45 WIB
Bagikan:
Folklor Keagamaan Sumber Belajar yang Tepat
Kepala Puslitbang LKKMO Balitbang Diklat Kemenag Muhammad Zain (di podium) saat membuka Seminar Hasil Penelitian Isu-isu Aktual Bidang Lektur dan Khazanah Keagamaan di Hotel Santika Bekasi, Jawa Barat, Rabu (4/12) malam (Foto: Aji Budiono/BLAJ)
Bekasi, NU Online
Banyaknya folklor (cerita rakyat) di Indonesia menjadi salah satu sumber belajar yang tepat bagi generasi saat ini. Pasalnya, dalam kebanyakan folklor yang berhasil terungkapkan, menyimpan ajaran-ajaran luhur yang sarat akan nilai keagamaan.

Kepala Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi (LKKMO) Balitbang Diklat Kementerian Agama, Muhammad Zain menegaskan hal itu usai membuka Seminar Hasil Penelitian Isu-isu Aktual Bidang Lektur dan Khazanah Keagamaan di Hotel Santika Bekasi, Jawa Barat, Rabu (4/12) malam. Kegiatan tersebut diselenggarakan Balai Litbang Agama Jakarta (BLAJ) Balitbang Diklat Kemenag.
 
Menurut Zain, dalam dua tahun terakhir penelitian Puslitbang LKKMO menyasar berbagai folklor keagamaan di Jawa dan Sumatera. Hal itu dilakukan agar tradisi lisan yang menyimpan memori intelektual dapat dibaca dan dinikmatii generasi sekarang. 
 
"Bangsa Indonesia ini kan memiliki suku, agama, bahasa yang majemuk, juga memiliki tradisi folklor. Folklor-folklor yang dimiliki pesantren seperti Tebuireng, Lirboyo, Buntet; lalu di Banda Aceh, Sumatera Selatan kita teliti karena tradisi lisan yang ada mengandung nilai luhur seperti mengenai kejujuran, keberanian, dan keteguhan hati," kata Zain.
 
Penyebaran Islam damai
Menurut Zain, salah satu folklor yang ditemukan antara lain kisah pengasingan Syekh Yusuf al-Makassari, seorang wali yang melanglang buana ke 22 negara. Saat perjalanan dari Bangladesh ke Afrika Selatan, kapal VOC yang ditumpanginya kehabisan air. Padahal air bersih diperlukan untuk menanak nasi dan minum. Sementara hujan juga tidak turun-turun.
 
Di antara penumpang kapal lalu berkata bahwa di kapal tersebut ada seorang suci yang dapat dimintai agar memohon kepada Tuhan untuk mendapatkan air. Orang suci tersebut, yakni Syekh Yusuf Al-Makassari, dikisahkan mencelupkan sebelah kakiknya ke laut. Syekh Yusuf juga meminta nahkoda kapal mengambil air dari telapak kakinya.
 
Dikisahkan orang-orang ini takjub keada Syekh Yusuf Al-Makassari, kemudian menganut agama Islam. "Di sini digambarkan seorang wali yang mengajarkan Islam dengan damai," kata Zain seraya menyebutkan bahwa kisah tersebut sangat masyhur di kalangan muslim di Cape Town, Afrika Selatan.

Baca juga: Semai Toleransi, BLA Jakarta Kembangkan Nilai-nilai Folklor bagi Milenial
 
Ada lagi di Jawa Serat Iskandar yang bercerita tentang perebutan kekuasan para pangeran. Uniknya, serat ini dibuat dan berisi kisah yang berkebalikan dengan Mahabharata yang mengisahkan perebutan kekuasaan, hingga saling bunuh antarsaudara.

"Serat Iskandar ini memberitahu bahwa konflik dapat diakhiri dengan damai, karena Islam menyebarkan ajarannya dengan damai," tandas Zain.
 
Kisah-kisah demikian juga tersaji dalam sejarah dan kisah para Walisongo.
 
Zain menegaskan, dalam folkor tidak perlu diperdebatkan soal kebenaran dan fakta sebenarnya. Karena yang terpenting adalah hikmah atau makna di balik kisah-kisah yang tersaji.
 
Karena itu, hasil penelitian terkait folklor perlu dituliskan dan disebarkan. Mengingat generasi saat ini yang lekat dengan karakter milenial seperti akrab dengan teknologi dan bahasa yang ringan, menurutnya, penyebaran tersebut juga dengan gaya popular sehingga enak dibaca oleh generasi milenial. 
 
Hal lain perlunya penyebaran nilai-niai dalam folklor, kata Zain, menurut para antropolog, 25 tahun mendatang masyarakat Indonesia diprediksi menjadi masyarakat yang cuek. Hal itu sebagai akibat dari lebih dekat masyarakat dengan ponsel dan media sosial. Medsos yang lebih diakrabi, mengubah perilaku seseorang.
 
"Sekarang orang kalau melihat orang jatuh di pematang akan lebih dulu memfoto dan merekam, tidak langsung menolong. Ini berarti ada rasa kemanusiaannya yang hilang. Orang mau makan enak yang dilakukan adalah memfoto, baru share. Ini perilaku yang melanda kita. Nah, folklor bisa mengisi kekosongan ini. Inilah arti pentingnya riset terkait folklor ini," papar Zain.

Penelitian folklor sebagai salah satu bidang lektur, kata Zain, menjadi bagian dari riset penutaan lisan di masyarakat. "Sekali lagi saya berharap folklor menjadi sumber belajar kita karena di situ memuat nilai luhur yang sangat kaya tentang kearifan, menghadapi hidup yang penuh tuberlensi ini. Kalau tidak kita bisa oleng," katanya. 
 
Pewarta: Kendi Setiawan
Editor: Musthofa Asrori
 
Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG