Ansor Batu Bekali Kader dan Warga soal Pancasila dan Khilafah

Ansor Batu Bekali Kader dan Warga soal Pancasila dan Khilafah
Seminar dan bedah buku Pancasila dan Khilafah digelar PC GP Ansor Kota Batu. (Foto: NU Online/Bellgis Avrianzah)
Seminar dan bedah buku Pancasila dan Khilafah digelar PC GP Ansor Kota Batu. (Foto: NU Online/Bellgis Avrianzah)
Batu, NU Online
Pemahaman yang keliru tentang khilafah telah membuat resah banyak pihak. Salah satunya adalah warga dan masyarakat di Kota Batu. Karenanya, pemberian pemahaman dan penjelasan yan g mendalam terkait hal tersebut mendesak dilakukan.
 
Karenanya, Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Batu, Jawa Timur mengadakan seminar nasional dan bedah buku bertajuk Pancasila VS Khilafah. Acara yang dipusatkan di basemant Masjid Agung An-Nur Kota Batu tersebut berlangsung, Sabtu (7/12).
 
Ahmad Fauzi sebagai ketua pelaksana mengungkapkan bahwa seminar ini adalah Rencana Tindak Lanjut (RTL) dari acara Ansor.
 
"Acara ini adalah RTL Pendidikan Kepemimpinan Lanjutan atau PKL Ansor Kota Batu yang diikuti peserta se- Jawa Timur satu bulan lalu. Setelah acara ini juga ada pembagian sertifikat untuk mereka yang telah mengikuti PKL," ujarnya.
 
Salah satu bentuk keresahan anggota Ansor kepada masyarakat adalah kurangnya pengetahuan tentang radikalisasi dan terorisme. 
 
"Seperti halnya kemarin ada kasus soal ujian sekolah yang menjurus kepada khilafah. Kami ingin hal-hal seperti itu dapat difilter oleh pemerintah. Dari hal itu kami memiliki inisiatif untuk membuat acara ini," jelasnya.
 
Pada kegiatan ini, tampil sebagai pemateri atau narasumber adalah Habib Nuruzzaman selaku Ketua Densus 99 Asmaul Husna Banser dan pengamat konflik dan radikalisme.
 
"Kita mendatangkan pembicara yang tepat di bidangnya. Habib Nuruzzaman adalah kepala Densus 99 Banser dan satunya Alto Luger, seorang pengamat konflik dan radikalisme. Beliau sudah banyak pengalaman dalam bidang tersebut," kata pria berkacamata ini.
 
"Pengalamannya Mas Alto Luger ini tentang teroris sudah mumpuni. Meskipun yang bersangkutan non-muslim tapi memiliki banyak pengalaman di luar Indonesia termasuk di Timur Tengah. Seperti di Yaman, Irak, dan lain-lain," tambahnya.
 
Peserta yang datang bukan hanya dari kalangan Nahdatul Ulama, tetapi dari kalangan mahasiswa, pemerintahan, wartawan, dan lainnya.
 
"Sebagai warga negara, saya juga turut prihatin. Semoga ke depan rasa nasionalisme kita lebih melekat. Sebagai kader muda juga harus paham Pancasila itu apa, khilafah itu apa. Biar tidak salah pemahaman," pungkasnya. 
 
 
Kontributor: Bellgis Avrianzah
Editor: Ibnu Nawawi
 
BNI Mobile