Masyarakat Harap Museum Mbah Hasyim Jombang Segera Dioptimalkan

Masyarakat Harap Museum Mbah Hasyim Jombang Segera Dioptimalkan
Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy'ari di Jombang, Jawa Timur. (Foto: NU Online)
Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy'ari di Jombang, Jawa Timur. (Foto: NU Online)
Jombang, NU Online
Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy'ari (MIIHA) yang berdiri megah di kawasan pemakaman KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) Jombang, Jawa Timur termyata hingga hari ini belum ada isinya. Padahal keberadaannya sudah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo 18 Desember 2018.
 
Menurut salah seorang petugas, Kusnan, gedung tersebut memang belum difungsikan secara optimal karena isinya masih kosong.
 
"Saya tidak tahu pasti mengapa gedung ini belum diisi. Kami hanya ditugaskan untuk menjaga dan melayani pengunjung," katanya kepada NU Online di gedung tersebut, Ahad (8/12).
 
Hal yang sama disampaikan petugas lain,  Maryono. Menurutnya, soal isi gedung museum tergantung kepada kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sebagai pengelola.
 
"Museum ini sudah dibuka untuk umum, dan kami hanya bertugas mengelola meski belum ada isinya," jelasnya.
 
Ia menambahkan, jumlah personel yang bertugas menjaga gedung museum itu adalah 12 orang. Semuanya berasal dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur yang berpusat di Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
 
"Setiap petugas ada bagiannya masing-masing," ucapnya.
 
Walaupun masih belum terisi, namun  gedung museum itu tampak masih ada beberapa orang yang mengunjunginya. Entah hanya sekadar berswafoto atau melihat-lihat keunikan bangunan gedung tersebut. Maklum gedung museum itu, berada di samping jalur yang menghubungkan ke makam Gus Dur.
 
Namun sejumlah pengunjung mengaku sangat menyayangkan belum terisinya gedung yang berbentuk piramida itu. Di antaranya adalah H Abdullah. 
 
Menurut pria asal Jember itu, sebenarnya museum tersebut sangat diharapkan dapat memberikan penjelasan tentang pelaku dan sejarah keislaman, terutama yang terkait dengan KHM Hasyim Asy’ari atau Mbah Hasyim sebagai representasi dari Nahdlatul Ulama.
 
"Namun apa boleh buat, museumnya kosong. Kami berharap agar gedung ini segera difungsikan secara maksimal," terangnya.
 
MIHA tersebut  berdiri diatas lahan seluas 4,9 hektar.  Di bagian depan,  sebuah monumen At-Tauhid dengan hiasan 99 Asmaul Husna, berdiri kokoh di atas kolam, menyambut kedatangan pengunjung.
 
Bangunan tersebut terdiri dari 5 lantai. Menurut rencana, lantai dua sampai empat menjadi kawasan transformasi pengetahuan tentang sejarah masuknya Islam ke Indonesia.
 
Sedangkan lantai pertama, berisi pengetahuan tentang kiprah dan perjuangan para ulama dalam mendirikan negara Indonesia. 
 
 
Pewarta: Aryudi AR
Editor: Ibnu Nawawi
 
BNI Mobile