Inilah 5 Model Orang Ber-NU

Inilah 5 Model Orang Ber-NU
Ketua PC LDNU Jember, Jawa Timur, Gus Rofi’i Baidlowi saat memberikan tausiyah dalam Gumukbago Bershalawat dalam Rangka Maulid Nabi Muhammad SAW di Jember. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Ketua PC LDNU Jember, Jawa Timur, Gus Rofi’i Baidlowi saat memberikan tausiyah dalam Gumukbago Bershalawat dalam Rangka Maulid Nabi Muhammad SAW di Jember. (Foto: NU Online/Aryudi AR)

Jember, NU Online

Ketua Pengurus Cabang (PC) LDNU Jember, Jawa Timur, Gus Rofi’i Baidlowi menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama yang berarti kebangkitan orang-orang berilmu (alim), sesungguhnya bermuatan pengertian bukan hanya kebangkitan ulama tapi juga umat. Sebab orientasi perjuangan ulama adalah untuk kemaslahatan umat. Ulama terus berusaha mempelopori kebangkitan umat. Karena itu, keliru jika ada anggapan bahwa NU hanya ulamanya yang bangkit. Sedangkan umatnya teap tenggelam.

 

“Jadi tagarnya ulama untuk umat. Dan memang ulama yang harus bangkit, karena kalau orang bodoh yang bangkit, pekerjaannya hanya menyalahkan, bahkan mengkafirkan orang lain,” ujarnya saat memberikan tausiyah dalam Gumukbago Bershalawat dalam Rangka Maulid Nabi Muhammad SAW di Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari, Jember Jawa Timur, Sabtu (14/12) malam.

 

Dalam kesempatan itu, Gus Rofi’i membagi prilaku orang ber-NU dalam lima model. Pertama, dia ber-NU tapi tidak tahu NU itu apa dan bagaimana. Dia bodoh soal NU, tapi mengaku warga NU. Tidak masalah.

 

Kedua, dia ber-NU dan sedikit tahu soal apa dan bagaimana NU. Cuma dia tidak peduli kepada NU. Bagi dia yang penting, NU dan mengamalkan ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) . Itu saja. Tapi dia tak mau tahu dengan urusan NU.

 

“Untuk manusia NU model pertama dan kedua, masih bisa dimaklumi,” ucapnya.

 

Ketiga adalah dia ber-NU dan pinter soal seluk beluk NU. Dia terus belajar soal NU seraya menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh NU, tapi tujuannya untuk memperlemah poisisi NU. Dia ‘menjual’ kelemahan NU untuk mendapatkan materi atau sekadar pujian dari pihak-pihak tertentu.

 

“Nahdliyin yang seperti itu, sangat bahaya. Kalau ada masalah sosial, dia paling ribut sambil berteriak-teriak ‘mana NU kok tidak bergerak’. Padahal dia sendiri warga NU,” tambah Gus Roi’i.

 

Keempat adalah dia sesungguhnya tidak jelas ke-NU-annya tapi masuk ke NU untuk merusak NU dari dalam. Model warga ber-NU semacam ini jarang terjadi, namun perlu diwaspadai.

 

Kelima adalah orang ber-NU dengan tulus. Ia sungguh-sungguh bergabung dalam NU karena ingin berjuang bersama-sama para ulama dalam menegakkan Aswaja. Dia selalu bersemagat jika bekerja untuk NU, dan memeberikan pelayanan kepada masyarakat.

 

“Orang NU yang demikian maka dianggap sebagai santri KH Hasyim Asy’ari,” pungkasnya.

 

Pewarta: Aryudi AR

Editor: Ibnu Nawawi

 

BNI Mobile