Kiai Said Ingatkan Tugas Manusia Menurut Al-Qur'an

Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj.
Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj., Kiai Said Ingatkan Tugas Manusia Menurut Al-Qur'an
Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj., Kiai Said Ingatkan Tugas Manusia Menurut Al-Qur'an
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengingatkan tentang tugas manusia diciptakan di muka bumi. Menurut Kiai Said, manusia diberi amanat sebagaimana yang tertera dalam Al-Qur'an untuk membangun kehidupan yang harmonis dan rukun dengan cara menaati peraturan yang ada.

"Bagaimana kita membangun masyarakat yang ideal, nas (manusia) yang islah (menciptakan perdamaian), nas yang bermartabat," kata Kiai Said pada acara Peringatan Hari Lahir ke-52 Kopri Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (Kopri PB PMII) di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (16/12).

Namun, kata Kiai Said menyayangkan, negara-negara yang penduduknya mayoritas umat Islam hingga kini belum menunjukkan pelaksanaan atas ajaran-ajaran Islam. Sebaliknya, banyak negara yang mayoritas penduduknya menganut agama di luar Islam, tetapi mampu mewujudkan kehidupan yang adil dan tenteram.

"(Negara-negara seperti) Swedia, New Zealand (menjadi negara) yang adil. Semua sadar pajak, sadar aturan. Bukan Saudi, bukan Mesir, bukan Irak, bukan Indonesia," katanya.

Ia mencontohkan bagaimana gambaran keadilan di Indonesia masih sulit didapatkan. Hukum masih tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Ketimpangan ekonomi masih terlihat di mana-mana. "Kita tidak menuduh siapa-siapa, tapi Ini artinya bahwa kita jauh dari islahin bainannas (membangun kemaslahatan di tengah komunitas manusia). Indonesia ini jauh dari islahin bainannas," ucapnya.

Pada kesempatan lain, Kiai Said menyatakan bahwa penduduk Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan masih di atas 9 persen atau sekitar 25 juta jiwa. Mirisnya, sebagian di antaranya bertempat tinggal di sekitar sumber daya alam yang melimpah.  

"Sila kelima jauh panggang dari api," jelasnya.

Menurutnya, tidak sedikit orang yang berada di pinggir laut. Padahal, mereka hidup di sebelah kekayaan alam, tetapi mereka miskin. "Penduduknya tidak memiliki apa-apa. Itu ketimpangan yang sangat besar," tegasnya. 

Di sisi lain, lanjut Kiai Said, ada orang-orang yang berfoya-foya padahal kemiskinan jelas terlihat di depan mata. Mereka ini kelompok kecil yang menghabiskan kekayaan alam Indonesia yang begitu melimpah.  

"Kemiskinan masih ada di depan kita. Warga NU masih miskin. Sementara kelompok kecil menikmati kekayaan alam luar biasa. Semuanya dihabiskan oleh segelintir orang saja," ujar Guru Besar Ilmu Tasawuf itu.

Pewarta: Husni Sahal
Editor: Muchlishon
BNI Mobile