Di Kedubes Singapura, Pergunu Sampaikan Pendidikan NU yang Moderat

Pertemuan Pergunu dan Kedubes Singapura, Kamis (19/12) (Foto: NU Online/Erik Alga Lesmana)
Pertemuan Pergunu dan Kedubes Singapura, Kamis (19/12) (Foto: NU Online/Erik Alga Lesmana), Di Kedubes Singapura, Pergunu Sampaikan Pendidikan NU yang Moderat
Pertemuan Pergunu dan Kedubes Singapura, Kamis (19/12) (Foto: NU Online/Erik Alga Lesmana), Di Kedubes Singapura, Pergunu Sampaikan Pendidikan NU yang Moderat
Jakarta, NU Online
Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) memenuhi undangan Kedutaan Besar Singapura Kamis (19/12). Rombongan Pergunu dipimpin Wakil Ketua Umum PP Pergunu, Aris Adi Leksono tiba di Kedubes Singapura, Jl HR Rasuna Said Blok X-1, Kuningan, Jakarta Selatan disambut oleh Mr Cai Xihao selaku perwakilan dari Dubes Singapura.
 
Mr Cai Xihao menyampaikan ​​​​​​​pihaknya ingin mempelajari kondisi pendidikan di Indonesia. "Sebenarnya hari ini saya ingin belajar dari Bapak-bapak mengenai situasi pendidikan di sini karena ada kebijakan baru yang akan diambil oleh pemerintah," ungkapnya.
 
Wakil Ketum PP Pergunu, Aris Adi Leksono menanggapi maksud dan tujuan baiknya untuk mempelajari kondisi pendidikan saat ini. Ia menegaskan bahwa Pergunu selalu komitmen berpegang teguh pada paradigma pendidikan yang moderat atau tawasut. 
 
"Saya pastikan Pergunu tidak mengusung paradigma konservatisme dan liberalisme. Tapi lebih mengusung moderatisme atau tawasutiah salah satu prinsip pengembangan pendidikan yaitu menjaga dan melestarikan nilai-nilai lama yang masih baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik," ungkap Aris.
 
Melihat kondisi sekarang terutama kebijakan yang mengarah kepada pendidikan, Aris juga mengkhawatirkan bergesernya nilai-nilai lama yang seharusnya dilestarikan, namun mendapat tantangan baru yang dampaknya akan tergerus oleh perkembangan itu sendiri.
 
"Hari ini sedikit bertolak belakang memang sekarang kita masuk era globalisasi. Tetapi ini tidak serta-merta semua pemahamannya diadopsi begitu saja. Betul memang harus ada sentuhan globalisasi di pesantren, tetapi harus dijaga nilai-nilai lama yang masih baik dan harus dilestarikan, karena itu menjadi jati diri kami dan sejauh ini pesantrenlah yang menjaga nilai-nilai itu," lanjut Aris.
 
Aris juga mengharapkan kebijakan yang diambil harus melihat nilai-nilai luhur yang sudah melekat dan menjadi jati diri bangsa. Menurutnya, apabila nilai-nilai itu tergerus begitu saja, kita sudah tidak ada artinya lagi sebagai generasi bangsa.
 
Dalam pertemuan itu hadir juga para ketua Pergunu wilayah DKI Jakarta.
 
 
Kontributor: Erik Alga Lesmana
Editor: Kendi Setiawan
BNI Mobile