NU Jatim Berharap Tahun 2020 Suasana Semakin Kondusif 

NU Jatim Berharap Tahun 2020 Suasana Semakin Kondusif 
Suasana jumpa pers di ruang lobi PWNU Jatim terkait pergantian tahun. (Foto: NU Online/Ibnu N)
Suasana jumpa pers di ruang lobi PWNU Jatim terkait pergantian tahun. (Foto: NU Online/Ibnu N)
Surabaya, NU Online
Menghadapi Hari Natal dan pergantian tahun, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur mengingatkan agar masyarakat, khususnya umat Islam tetap menjaga suasana aman.
 
Penegasan ini disampaikan Wakil Rais PWNU Jatim, KH Nuruddin A Rachman di hadapan sejumlah insan media di ruang lobi kantor setempat, Jalan Masjid al-Akbar Timur 9 Surabaya, Selasa (24/12) petang.
 
“Kami berharap ke depan pelaksanaan kehidupan agama dijaga sesuai ukhuwah. Barangkali ke depan perlu duduk bersama menyikapi persoalan,” katanya yang didamping sejumlah kiai serta pengurus harian PWNU Jatim.
 
Menurut Pengasuh Pesantren Mambaul Hikam Bangkalan tersebut, sepanjang tahun 2019 kondisi kemasyarakat berjalan aman. Karenanya suasana selama setahun berikutnya hendaknya tidak diciderai oleh sikap dan tindakan sejumlah pihak yang akan mengganggu kondisi aman tersebut. Dan bila ada perbedaan hendaknya dijembatani, khususnya oleh pemerintah. 
 
“Harapan kami ke depan, agar tercipta ukhuwah islamiyah, dijembatani, diakomodir pemerintah. Pemerintah lebih aktif dalam hal ini Kementerian Agama, sehingga tidak terjadi saling klaim benar dan salah,” ungkap Kiai Nuruddin, sapaan akrabnya.
 
 
Ucapan Natal dan Jaga Gereja
 
Pada saat yang sama, KH Abdul Matin Djawahir menambahkan, saat ini ramai hukum tentang bagaimana menyampaikan ‘Selamat Natal’. Dan hal itu sudah menjadi ‘tamu tahunan’  yang hendaknya dijelaskan secara bijak.
 
“Soal pengucapan selamat natal memang khilafiyah,” kata Wakil Rais PWNU Jatim ini. Ada ulama yang melarang mengucapkan, namun ada juga pendapat yang membolehkan, lanjutnya.
 
Demi menjaga ukhuwah, menurut Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Bejagung Tuban tersebut, soal ucapan natal hendaknya tidak perlu dipertentangkan.
 
“Tidak boleh ya, memang ada yang menghukumi haram. Tapi, bagi pejabat publik seperti bupati, gubernur silakan, karena posisinya untuk mengayomi masyarakat. Hal itu bukan berarti merusak iman kita,” jelasnya. 
 
Kendati demikian, Kiai Matin mengingatkan bahwa Allah SWT tidak melarang berbuat baik kepada orang yang tidak memusuhi Islam.
 
Sikap PWNU Jawa Timur, intinya mengucapkan selamat Natal kepada non-Muslim itu khilafiyah. Ada yang membolehkan, ada pula yang tidak membolehkan alias mengharamkannya.
 
“Yang boleh, berkeyaninan boleh silahkan. Bagi yang tidak ya tidak. Kalau tidak punya kepentingan apa-apa, ya diam saja,” tegasnya.
 
Bagaimana dengan keberadaan barisan Ansor Serbaguna atau Banser yang menjaga gereja? Terkait hal ini tapi tidak ada instruksi khusus.
 
“Kalau ada permintaan pemerintah ya silakan. Tidak ada larangan,” pungkas Kiai Matin.
 
Tampak mendampingi saat jumpa pers ini KH Athoillah Anwar Manshur, KH Fahrur Rozi dan Sekretaris PWNU Jatim, Akh Muzakki.
 
 
Pewarta: Ibnu Nawawi
Editor: Aryudi AR
 
BNI Mobile