Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Banser Jalan Kaki Bangil-Jakarta, Perjalanannya Diceritakan kepada Kiai Said

Banser Jalan Kaki Bangil-Jakarta, Perjalanannya Diceritakan kepada Kiai Said
Banser asal Bangil, Pasuruan, Jawa Timur Nashih Damanhuri bertemu dengan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj (Foto: NU Online/Husni Sahal)
Banser asal Bangil, Pasuruan, Jawa Timur Nashih Damanhuri bertemu dengan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj (Foto: NU Online/Husni Sahal)
Jakarta, NU Online
Nazar anggota Banser asal Bangil, Pasuruan, Jawa Timur Nashih Damanhuri atau biasa dipanggil Gus Acid untuk bertemu dengan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dengan berjalan kaki terlaksana. Gus Acid diterima Kiai Said di ruangan kerjanya di lantai 3 Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (26/12).

Pada pertemuan itu, Kiai Said mengemukakan sejumlah pertanyaan seperti rentang waktu perjalanan yang dilaluinya dari Bangil ke Jakarta, selama perjalanan istirahatnya di mana saja, dan pandangannya tentang keberadaan NU di daerah-daerah yang dilaluinya.

Gus Acid pun menjawab dengan suara rendah mencerminkan akhlak santri ke kiai.
Katanya, perjalanan yang ditempuh menghabiskan waktu sekitar 50 hari. Sementara selama perjalanan, ia istirahat di sejumlah pesantren, masjid, dan kantor NU di daerah yang tengah dilaluinya.

Ia juga mengemukakan agar Ansor melakukan penguatan terhadap masjid-masjid supaya tidak dikuasi kelompok-kelompok yang suka menyalahkan amaliyah NU. "Masjid-masjid tolong dikuati, jangan sampai dirampas oleh kelompok sebelah," katanya dengan kepala menunduk.

Menurutnya, di beberapa daerah yang dilaluinya, Nahdliyin belum pada memahami tentang NU. Nahdliyin disebutnya hanya mengerti pembedaan antara NU dan lainnya pada ranah amaliyah. Akibatnya, masyarakat dan masjidnya mudah kemasukan paham-paham yang berseberangan dengan NU.

Mendengar laporan Gus Acid, Kiai Said pun menyatakan bahwa persoalan tersebut bukan hanya pekerjaan Ansor, melainkan juga pengurus NU. Menurutnya, kiai-kiai NU merupakan pemimpin informal di tengah-tengah masyarakat yang bertugas untuk mewarnai kehidupan masyarakat dengan berbagai kegiatan-kegiatan NU.

"Sehingga kiai itu menjadi pemimpin masyarakat: pemimpin agama, pemimpin budaya, pemimpin akhlak, pemimpin moral, bukan pemimpin formal," katanya.

Selain itu, Kiai Said juga menjelaskan tentang ketidakbenaran apabila ada orang yang menjadikan NU sebagai kendaraan politik, seperti menjadi pengurus NU untuk mencalonkan diri menjadi bupati atau gubernur. Menurutnya, siapa pun yang memcalonkan diri menjadi pejabat publik diharuskan keluar dari kepengurusan NU.

"Saya jadi Ketua Umum PBNU karena target cita-cita ingin jadi presiden, gak bener itu. Saya jadi ketua cabang karena ingin jadi bupati, itu gak bener. Adapun seorang mencalonkan diri jadi bupati, gubernur, presiden atau apa, haknya sebagai warga negara, bukam haknya karena pengurus NU," terangnya.

Seusai menemui Kiai Said, Gus Acid berencana ziarah ke sejumlah makam yang ada di Jakarta, seperti makam Mbah Priok di Koja, Jakarta Utara dan makam Pangeran Jayakarta di Jakarta Timur.

Sebagai informasi, nazar dilakukan Gus Acid seusai mengikuti Pelatihan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) yang diselenggarakan oleh PCNU Bangil. Selain itu, ia beralasan untuk memberikan motivasi kepada anggota GP Ansor dan Banser untuk istiqomah dalam berkhidmah di NU. Ia memulai perjalanan pada 6 November 2019.
 
Pewarta: Husni Sahal
Editor:  Abdullah Alawi
 
BNI Mobile