Ribuan Warga Hadiri Haul ke-19 Pengarang Shalawat Nahdliyah

Ribuan Warga Hadiri Haul ke-19 Pengarang Shalawat Nahdliyah
Suasana masyarakat saat melaksanakan haul ke-19 almaghfurllah KH Hasan Abdul Wafi di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Suasana masyarakat saat melaksanakan haul ke-19 almaghfurllah KH Hasan Abdul Wafi di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. (Foto: NU Online/Aryudi AR)

Probolinggo, NU Online

Ribuan orang memadati halaman Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur untuk memperingati haul ke-19 almaghfurlah KH Hasan Abdul Wafi, Kamis (26/12).

 

Mereka berasal dari berbagai daerah, sengaja hadir dalam puncak peringatan haul ke-19 pengarang Shalawat Nahdliyah tersebut. Sejumlah ulama dan habaib turut hadir dalam acara itu, antara lain adalah KH Syainuri Sufyan (Situbondo), Habib Muhammad Ba'ali (Probolinggo), dan KH Hafidz Malik Suger.

 

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH Zuhri Zaini dalam sambutanya mewakili keluarga menjelaskan bahwa perayaan haul almarhum KH Hasan Abdul Wafi mengingatkan masyarakat untuk terus meneladani perjuangannya dalam menegakkan syiar Islam ala Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja).

 

“Perjuanggannya dalam menegakan Islam, patut diteladani,” ungkap Wakil Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur itu.

 

Sementara itu, KH Hafidz Malik dalam tausyiahnya menyampaikan bahwa almarhum KH Hasan Abdul Wafi adalah tokoh yang benar-benar tegas dalam menegakkan amar makruf nahi munkar dan istiqamah berjuang di NU. Dikatakannya, beliau memilki kecintaan yang luar biasa terhadap NU.

 

KH Hasan Abdul Wafi berjuang melalui struktural dan kultural NU. Salah satu bukti kecintaannya kepada NU adalah munculnya Shalawat Nahdliyah yang saat ini lagi naik daun.

 

“Kalau bicara NU, beliaulah orangnya. Beliau benar-benar berjuang untuk NU,” terangnya.

 

Di tempat yang sama, cucu KH Hasan Abdul Wafi, Lora Miftahul Arifin Hasan, menegaskan bahwa semasa hidupnya almarhum merupakan sosok yang sangat konsisten dengan khidmahnya sebagai pengasuh pesantren yang mengajar beberapa kitab untuk santri. Selain mengajar santri, almarhum juga sering menghadiri undangan masyarakat untuk mengisi pengajian.

 

“Walaupun demikian, jika ada tugas NU, tetap diutamakan,” katanya.

 

Salah seorang pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Desa Suren, Kecamatan Ledokombo, Jember ini, menuturkan, selain menggubah Shalawat Nahdliyyah, KH Hasan Abdul Wafi juga mengarang doa Nadhiyyah. Sebagian dari doa tersebut berisi permohonan kepada Allah agar Ahlussunnah wal Jama'ah dan jam’yah Nahdlatul Ulama dihidupkan (diberi kekuatan).

 

“Semog kita dapat mengamalkan doanya dan meneladani perjuangannya,” pugkasnya.

 

Pewarta: Aryudi AR

Editor: Ibnu Nawawi

 

BNI Mobile