Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Tiga Model Pengurus Organisasi Menurut Kiai Marsudi

Tiga Model Pengurus Organisasi Menurut Kiai Marsudi
Kiai Marsudi saat menyampaikan ceramah di Arab Saudi (istimewa)
Kiai Marsudi saat menyampaikan ceramah di Arab Saudi (istimewa)

Arab Saudi, NU Online

 

Ketua PBNU KH Marsudi Syuhud menjelaskan tiga tipe atau model pengurus dalam sebuah organisasi. Pertama adalah mereka yang menganiaya diri sendiri, kedua adalah mereka ada yang berada di tengah-tengah, dan ketiga mereka yang berbuat kebaikan. Semua ini sudah dijelaskan dan sesuai dengan QS Fathir: 32.

 

Tipe yang menganiaya diri sendiri menurutnya adalah model orang yang sebelum berorganisasi meminta diri dimasukkan dalam kepengurusan. Namun setelah masuk, ia tidak aktif dan hanya menjadikan jabatan dalam organisasi sebagai sebuah kebanggaan.

 

"Setelah itu, pleng... ilang. Tidak pernah tahu kemana lagi. Ngurusi nggak, tanya nggak, kelihatan juga nggak," kata Kiai Marsudi saat hadir pada Pelantikan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Saudi Arabia periode 2019-2021 di Masjid Indonesia Jeddah, Jumat (27/12).

 

Tipe pengurus yang kedua yang berada di tengah-tengah menurutnya adalah mereka yang berorganisasi namun belum bisa konsisten atau istiqomah dalam berkhidmah. Terkadang tipe ini memiliki waktu dan semangat tinggi. Namun kadang juga tidak bisa menjaga kesemangatan sehingga tidak maksimal berorganisasi.

 

Sementara tipe ketiga yang berbuat kebaikan lah yang menurut Kiai Marsudi merupakan sosok pengurus yang dicari dan diidam-idamkan oleh organisasi. Sosok pengurus yang setiap waktu memikirkan perkembangan organisasi mendarma baktikan diri untuk berkhidmah. Inilah yang diharapkan dalam kepengurusan NU.

 

"Tidur ngomongin NU, mimpinya NU, nglindur NU dan bangun ngomongin NU," katanya disambut senyum yang hadir.

 

Kenapa pengurus NU harus bertipe yang ke tiga? Karena pengurus NU memiliki tugas berat yakni mengurus sebuah warisan. Selain itu pengurus NU juga harus mampu mempertahankan dan meninggalkan warisan kepada pengurus selanjutnya.

 

Hal ini sebagaimana kiai pendahulu yang juga memiliki warisan-warisan pesantren. Setelah itu mereka berkumpul lagi dengan membentuk warisan baru yakni dengan membentuk NU. Setelah itu para kiai juga berkumpul lagi untuk mendirikan NKRI untuk diwariskan kepada generasi penerus.

 

"Maka Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah warisan dari kiai-kiai Nahdlatul Ulama," jelasnya melalui live streaming Facebook di akun PCINU Arab Saudi.

 

Jadi tugas para pengurus NU saat ini adalah meneruskan warisan dan juga harus bisa memberi warisan kepada pengurus selanjutnya. Ia mengingatkan juga bahwa menjadi pengurus NU adalah merupakan pilihan Allah SWT.  "Kita harus punya warisan," katanya sekaligus mengingatkan bahwa orang yang dalam kehidupannya memiliki warisan maka akan dikenang sepanjang masa.

 

Pewarta: Muhammad Faizin

Editor: Ahmad Rozali

BNI Mobile