Toleransi Antarumat Beragama Merupakan Tradisi Lama Bangsa Indonesia

Toleransi Antarumat Beragama Merupakan Tradisi Lama Bangsa Indonesia
Kartun Banser Riyanto dalam buku Wahid Foundation.
Kartun Banser Riyanto dalam buku Wahid Foundation.

Jakarta, NU Online

 

Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Idelogi Pancasila (BPIP), Romo Benny Susetyo mengatakan bahwa, bagi suku bangsa Nusantara, toleransi bukanlah barang baru. Toleransi, bagi masyarakat Indonesia sudah dipraktikkan dalam kehidupan sehari-harinya sejak masa nenek moyang.

 

“Sudah ratusan bangsa kita hidup dalam persaudaraan sejati, yaitu bekerja sama meskipun berbeda keyakinan karena hidup dalam kultur yang disebut gotong royong. Sehingga ketika ada perayaan hari besar keagamaan, di daerah-daerah pedesaan itu sudah biasa mereka saling membantu, ikut menghiasi atau saling menjaga. Itulah tradisi kita yang sebenarnya dan sudah terjadi,” ujar Romo Benny Susetyo di Jakarta, beberapa waktu lalu.

 

Anggota Gerakan Suluh Kebangsaan ini juga menuturkan bahwa jika kemudian terdapat perbedaan-perbedaan di masyarakat seharusnya hal tersebut dapat diselesaikan bersama dengan prinsip musyawarah mufakat yang sudah menjadi ciri khas perdaban masyarakat bangsa ini sejak lama.

 

“Memang ada sebagian kecil masyarakat kita yang intoleran, tetapi intoleran itu kan hampir semua negara mengalami intoleran itu. Jadi kalau misalnya ada pelarangan ibadah dan lainnya perlu ada musyawarah mufakat untuk diberi pengertian dan penjalasan bahwa pelarangan ibadah itu tidak dibenarkan karena ibadah setiap agama itu dijamin oleh konstitusi,” tuturnya.

 

Menurutnya, meningkatnya aksi intoleransi yang terjadi beberapa tahun terakhir merupakan fenomena baru bagi bangsa ini. Karena itu, menurutnya perlu ada penguatan kembali kultur kebangsaan yang ada di masyarakat untuk memperkuat toleransi antar sesama anak bangsa dengan kembali lagi kepada kearifan lokal seperti budaya kerja bakti, silaturahmi dan saling mengunjungi.

 

“Misalnya seperti lebaran Idul Fitri atau Natal itu orang-orang bisa makan bersama tanpa ada ritual ibadat di situ. Mereka hanya ikut makan dan kumpul. Kultur itulah yang harus terus diperkuat dan diarusutamakan dalam kehidupan bangsa ini,” ucap alumni Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Widya Sasana Malang ini.

 

Selain itu, Romo Benny juga mengatkan bahwa masyarakat bangsa ini juga harus meneladani sikap dari para tokoh bangsa yang walaupun berbeda keyakinan, namun tetap bisa bersahabat.

 

Namun demikian, ia mengaku memaklumi jika ada sebagian kecil dari orang atau kepompok menolak untuk memeberi ucapan selamat Natal. Menurutnya hal tersebut bukan persoalan besar dan tidak perlu dibesar-besarkan.

 

“Menurut saya kalau ada kelompok kecil yang tidak mau mengucapkan selamat Natal ya sudahlah tidak usah dibesarkan. Dan itu hak setiap orang dalam demokrasi, tetapi yang terpenting adalah kita mencontoh para tokoh bangsa yang menjaga persatuan dan nasionalisme, karena bangsa ini dibangun dari perjuangan segenap anak bangsa,” ujarnya

 

Editor: Ahmad Rozali

BNI Mobile