Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Haul Kesepuluh Tunjukkan Gus Dur sebagai Budayawan

Haul Kesepuluh Tunjukkan Gus Dur sebagai Budayawan
Nyai Hj Sinta Nuriyah, istri almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid (Foto: NU Online)
Nyai Hj Sinta Nuriyah, istri almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid (Foto: NU Online)
Jakarta, NU Online
Banyak orang mengenal KH Abdurrahman Wahid sebagai sosok presiden keempat Republik Indonesia dan juga kiai yang begitu memahami beragam pengetahuan Islam.

Di luar kedua itu, tokoh yang akrab disapa Gus Dur itu juga merupakan sosok demokratis, humanis, humoris, bahkan budayawan. Hal terakhir inilah yang diangkat pada Haul Kesepuluh Gus Dur.

"Satu lagi, Gus Dur adalah budayawan. Terbukti dulu pernah menjabat Dewan Kesenian Jakarta," kata Nyai Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid saat memberikan sambutan pada Haul Kesepuluh Gus Dur di Kediamannya di Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu (28/12).

Gus Dur dalam tulisan dan pembicaraannya menyampaikan gagasan dan ide kebudayaannya. Tetapi tidak hanya itu, Nyai Sinta menyebut bahwa laku Gus Dur juga penuh dengan kebudayaan.

"Kebudayaan Gus Dur juga dibuktikan dengan pemikiran gagasan dan laku hidupnya yang konsisten sebagai cermin nilai kemanusiaan," ujar perempuan yang pada 18 Desember 2019 lalu mendapatkan anugerah doktor honoris causa dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta itu.

Tradisi dan budaya, lanjutnya, adalah harkat kemanusiaan. Karenanya, bagi Gus Dur, menjaga kebudayaan adalah menjaga kemanusiaan itu sendiri.

Sosok yang pluralis itu juga melakukan gerakan kultural dengan merajut serpihan hati dan retakan kebudayaan agar bisa kembali utuh.

Mengangkat kembali Gus Dur sebagai sosok budayawan ini sangat penting mengingat kondisi kebudayaan saat ini sejak kepulangan Gus Dur terus mengalami pembrangusan, seperti pelarangan upacara adat, penghancuran patung, dan sebainya. Terlebih hal itu dilakukannya atas nama agama.

"Kondisi ini telah membuat bangsa ini defisit tradisi," ujar perempuan kelahiran Jombang, 8 Maret 1948 itu.

Oleh karena itu, katanya, ia mengingatkan kepada seluruh masyarakat akan pentingnya menjaga kebudayaan. "Tanpa kebudayaan, manusia tidak lagi menjadi manusia," katanya.

Haul, menurutnya, merupakan momentum penting dalam menjaga rajutan budaya dan agama yang telah dilakukan para pendahulu. Dengan haul, ada silaturahmi yang mempertemukan berbagai elemen bangsa.

"Kita bisa keluar dari kepengapan budaya selama ini terjebak dalam kotak keyakinan. Haul ini mempererat tali silaturahmi," pungkasnya.

Pewarta: Syakir NF
Editor: Abdullah Alawi
 
Posisi Bawah | Youtube NU Online