IMG-LOGO
Opini

Muhasabah 2019 dalam Kacamata Tasawuf


Senin 30 Desember 2019 02:30 WIB
Bagikan:
Muhasabah 2019 dalam Kacamata Tasawuf
Sudah terlalu mahal harga yang harus dibayar saat akal/nalar dan rasa dinafikan dalam kehidupan.
Oleh Suwarsa
 
Jika di berbagai media massa –dan ini selalu dilakukan setiap akhir tahun- ramai dibahas kaleidoskop 2019, artinya mengulang rekam jejak peristiwa selama satu tahun ke belakang, maka dalam terma keberagamaan kata muhasabah dapat digunakan untuk membuka rekaman peristiwa baik secara individu atau kelompok sosial masyarakat. 

Harus diakui, selalu saja di setiap akhir tahun, warga di negara ini sering disibukkan oleh dua hal, sifatnya arus utama, peringatan Natal dan perayaan pergantian tahun. Sudah dapat diterka jauh hari sebelumnya, topik-topik di media sosial dan media arus utama terpusat pada dalil, hukum, dan dasar mengucapkan selamat Natal oleh umat Islam (karena mayoritas) dan merayakan pergantian tahun 2019 ke 2020.

Perayaan Natal telah berlalu, ingar-ingar status dan komentar entah itu atas nama keyakinan, akidah, kehatia-hatian, toleransi, pluralitas, dan kebinekaan semeriah apa pun telah dan dapat dilalui. Bahkan, umat Kristiani dapat menjalankan perayaan Natal dengan suka cita tanpa disertai kejadian dan ancaman bom seperti yang terjadi beberapa tahun lalu. 

Beberapa hari lagi, perayaan pergantian tahun akan menjadi momentum kembali ramainya persinggungan dan saling sindir di dalam status. Biasanya dibesar-besarkan karena salah satu kubu selalu menyeret-nyeret dalil keagamaan untuk menghukumi perayaan tahunan umat manusia. Bahkan cenderung mengemukakan dalil-dalil yang dikutip di dalam Al-Qur’an dan hadits secara gegabah tanpa mendalami maksud dari dalil-dalil tersebut secara utuh. Tetapi biarlah, toh meskipun segudang dalil dan alasan keyakinan dikemukakan, perayaan pergantian tahun akan tetap berjalan seperti tahun-tahun sebelumnya.

Muhasabah di tahun 2019 merupakan upaya kita, terutama sebagai bangsa Indonesia, melakukan introspeksi selama satu tahun. Sebuah proses permenungan (muhasabah) hal-hal apa saya yang terjadi selama tahun 2019, apakah pelajaran dan pemelajaran apa yang dapat diambil dari persitiwa-peristiwa tersebut? Dalam tulisan ini, saya akan menguraikan muhasaban di tahun 2019 dalam perspektif tasawuf. 

Sudah tentu bukan tanpa alasan muhasabah ini penting dilakukan. Di dalam setiap keyakinan ditekankan pentingnya seseorang dan masyarakat menilai dan mengevaluasi kehidupan yang telah berjalan dengan tanpa menyesali. Dalam tradisi kekristenan kita mengenal Augustinus, seorang santo yang pernah menulis risalah “pengakuan diri atau confessions’. Dia dengan jujur membeberkan sikap dan perilaku hidupnya sebelum menganut Kristen. Dengan jujur juga dia mengakui tabiat-tabiat yang telah dilakukannya dan jauh dari nilai-nilai ilahi. 

Demikian juga dalam tradisi Islam, sejarah kehidupan para sufi –misalnya Syekh Abu Harits Al-Muhasibi- menulis sebuah kitab Riaayah li Huquqillah. Sebuah kitab monumental, meskipun tipis namun memiliki pengaruh besar kepada teolog berikutnya, misalnya Abu Hamid Al-Ghazali. Almuhasibi, sesuai julukannya, mengajak kepada kita agar selalu menghisab perilaku-perilaku kita, mendeteksi berbagai penyakit hati yang menjangkiti manusia agar jalan menuju Allah SWT benar-benar dapat dilalui.

Keriuhan Tahun 2019 dalam Perspektif Tasawuf
Kita harus mengakui, sebesar 80% hari-hari kita di tahun 2019 disibukkan oleh gempita perhelatan pemilihan presiden. Sejak awal tahun, saat masa kampanye hingga bulan Oktober, saat pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih, riuh gemuruhnya begitu meledak-ledak. Bahkan residu ledakan itu sampai saat ini tetap dapat kita rasakan. Baru pada penyelenggaraan pilpres 2019 ini, sejak era reformasi, warga negara benar-benar antusias menyuarakan pandangan mereka, tanpa kecuali pernyataan-pernyaataan nyinyir tidak hanya ditujukan kepada para calon, juga kepada masing-masing pendukung. Sebutan cebong, kampret, kadrun, dan sudrun memenuhi grup media sosial. Ungkapan itu menjadi sangat akrab dengan kedua kubu, bahkan kita dapat mengidentifikasi ciri-ciri cebong atau kampret hanya dengan membaca status yang mereka tulis di media sosial.

Dalam perspektif tasawuf, peristiwa-peristiwa di atas memang akan selalu berlangsung di dalam kehidupan manusia awam, manusia biasa, manusia yang baru mencapai maqam biasa. Sebab dalam kehidupan manusia biasa kepala manusia akan selalu dipenuhi oleh keramaian dan keriuhan pikiran. Tentu saja termasuk diri saya sebagai manusia biasa, kecamuk dan kekalutan pikiran akan selalu memenuhi kepala, dampaknya tentu saja pada cara kita mengemukakan pandangan dan menyuarakan isi kepala dan hati melalui tulisan dan status dalam media sosial.

Abu Harits al-Muhasibi menyebutkan, “Telah berlalu waktu selama tiga puluh tahun, dan selama itu aku telah mendengar sesuatu dalam kepalaku. Kemudian telah berlalu pula masa tiga puluh tahun, dan selama itu aku tidak pernah mendengar sesuatu kecuali dari Allah SWT”. 

Dalam pernyataan tersebut dapat disimpulkan manusia biasa seperti kita akan selalu sibuk dan pekak dengan riuh gemuruh, beragam dan bermacam informasi dari yang hoaks hingga yang benar. Bercampur aduk. Disrupsi terjadi. 

Kita akan mengalami kesulitan memilih dan memilah mana informasi yang benar dan mana yang salah. Kenyataan yang terjadi di era revolusi industri 4.0 ini dapat diilustrasikan sebagai berikut; manusia-manusia di era ini merupakan milyaran komputer yang sangat terbatas, meskipun terkoneksi dengan internet tetapi tidak memiliki akses (privilege) membuka data-data yang tersimpan di dalam server utama. Kemungkinan besar, komputer-komputer tersebut hanya akan mendapatkan data dari server-server lain yang dengan sengaja membuka akses informasi beragam, tanpa alat penyaring.

Akan berbeda dengan komputer yang langsung terkoneksi dengan server utama, dalam tasawuf dikenal dengan terma tajalli, seorang manusia yang dapat menyambungkan diri secara langsung dengan Allah SWT. Manusia seperti ini akan langsung menerima informasi (pengetahuan) dari Allah SWT, di dalam dirinya tidak akan dipenuhi oleh riuh gemuruh informasi tidak karuan. Sama halnya dengan sebuah komputer yang dapat mengakses langsung data-data di server utama. Sudah tentu, dibutuhkan perangkat keras dan lunak yang mumpuni untuk dapat sampai ke sana. 

Komputer-komputer dengan piranti keras dan lunak sederhana akan mengalami kesulitan mengakses server utama, jika pun dapat kemungkinan besar akan lambat. Pun dengan manusia, untuk sampai kepada ketenangan jiwa –karena tidak akan hidup dalam riuh informasi, data-data kecil, termasuk, virus– harus dilengkapi dengan piranti keras dan lunak yang mumpuni, bahkan dalam konteksi manusia, jika tajalli telah tercapai, hungan antara manusia dengan Tuhannya akan berlangsung tanpa piranti.

Keriuhan yang berlangsung di dalam kehidupan ini disebabkan juga oleh penafian terhadap inti atau hal penting dalam kehidupan. Dalam tradisi sufisme akal tetap ditempatkan pada kedudukan sebagai inti kehidupan, seperti diungkapkan: segala sesuatu memiliki inti, inti di dalam diri manusia adalah akal, dan inti akal manusia adalah taufiq. Jika saja akal sehat telah benar-benar digunakan oleh manusia Indonesia, keriuhan dan keramaian yang terjadi di media social dan media arus utama akan dipenuhi oleh informasi-informasi nalariah, informasi yang dapat dicerna oleh akal sehat, bukan sekadar mengedepankan emosi dan amarah keagamaan atau kelompok.

Mengembalikan Aqliyah dan Rasa
Sudah terlalu mahal harga yang harus dibayar saat akal/nalar dan rasa dinafikan dalam kehidupan. Entah berapa besar tenaga, pikiran, dan waktu yang harus dikeluarkan selama satu tahun hanya karena memperkarakan pemilihan presiden. Jika saja nalar dan rasa ditempatkan secara tepat sudah dipastikan kita akan memandang perhelatan Pilpres hanya sebagai hiburan saja, lima tahunan. Karena di negara ini konstitusi telah mengatur demikian, maka siapa saja yang terpilih sebagai presiden dan wakil presiden itulah hal yang harus dihormati. 

Meskipun beberapa kelompok tertentu selalu menyeret-nyeret persoalan teologi ke dalam ranah sekular jika dicermati secara seksama, landasan dan dasar pijakan mereka sama sekali hanya menyentuh ranah pemikiran bukan pada konsepsi teologis yang jelas. Kepandaian satu kelompok dalam mengolah persoalan sekuler dengan ramuan teologis ini jelas sekali dapat menodai kesakralan teologi itu sendiri. Menyandingkan hal-hal immanent dengan persoalan profane sama halnya dengan mengotori kesucian sebuah keyakinan. 

Akal dan rasa menjadi hal penting yang harus diikutsertakan dalam kehidupan. Bahkan jika saja setiap manusia memiliki rasa yang benar, kita tidak akan keliru dalam mencicipi hidangan-hidangan yang telah dipersembahkan oleh Allah SWT di dalam kehidupan ini. Setiap orang dapat memiliki hidangan apa yang akan diambil tanpa harus dihakimi bahwa pilihannya salah sebab yang berhak menghakimi salah dan benar adalah pemilik hidangan tersebut. Akal sehat akan menerima pernyataan “persatuan dan kesatuan lebih utama” dari pada menyanjung pernyataan “apa pun akan kami perjuangkan untuk mencapai tujuan”. Akan lebih gegabah lagi jika nama Tuhan dan agama telah diseret-seret untuk mengelabui orang lain demi meraih tujuan sekular (duniawi). 
 
 
Penulis adalah guru MTs Riyadlul Jannah, Cikundul, Sukabumi, Jawa Barat
 
Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG