Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Wakil Rais PCNU Jember Tutup Usia

Wakil Rais PCNU Jember Tutup Usia
Wakil Rais Syuriah PCNU Jember, KH Imam Habibul Haramain wafat di usia 69 tahun. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Wakil Rais Syuriah PCNU Jember, KH Imam Habibul Haramain wafat di usia 69 tahun. (Foto: NU Online/Aryudi AR)

Jember, NU Online

Mendung duka menyelimuti Jember. Salah seorang putra terbaiknya, KH Imam Habibul Haramain hari ini, Ahad (5/1) wafat di Rumah Sakit Husada Utama Surabaya. Kiai Imam –sapaan akrabnya- adalah termasuk kiai yang sangat istiqamah berjuang di NU. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah, Desa Karangharjo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, Jawa Timur itu, selain berjuang untuk NU di tataran kultural melalui kegiatan dakwahnya, juga aktif di struktural kepengurusan PCNU Jember, bahkan sejak 15 tahun yang lalu. Hingga akhir hayatnya posisi Kiai Imam adalah Wakil Rais Syuriah PCNU Jember.

 

“Beliau adalah pengurus yang aktif di NU. Rapat-rapat selalu datang,” ujar Katib Syuriyah PCNU Jember, KH Ahmad Dawam Wahid kepada NU Online di Pesantren Nuris Jember, Ahad (5/1).

 

Menurutnya, Kiai Imam begitu cintanya kepada NU. Hal ini bisa dilihat dari perhatiannya yang besar saat warga NU ‘diganggu’ oleh kelompok radikal. Iapun tak segan-segan turun ke masyarakat untuk memberikan pencerahan terkait Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja).

 

Di luar itu, Kiai Imam juga punya perhatian besar untuk terus mengerek bendera NU tinggi-tinggi. Sebagai muballigh, tak lupa beliau menyelipkan materi Aswaja dalam dakwah-dakwahnya.

 

“Kiai Imam termasuk da’i yang cukup humoris tapi tak lupa menjelaskan soal Aswaja jika lagi berceramah,” tambah Kiai Dawam.

 

Kiai Imam juga punya perhatian besar terhap masalah tambang. Beliau cukup getol menolak rencana eksplorasi tambang di Kecamatan Silo. Bersama sejumlah elemen masyarakat, Kiai Imam bahkan ikut turun ke jalan untuk memprotes rencana penamabangan itu. Alasannya satu: penambangan lebih banyak mudharatnya dibanding manfaatnya, apalagi penduduk desa di sekitar area penambangan adalah Nahdliyin.

 

“Perjuangan Kiai Imam bersama kita semua, akhirnya membuahkan hasil. Pemerintah pusat memastikan tak ada penambangan di Silo. Itulah kenangan terakhir saya bersama beliau. Sebetulnya beliau masih sangat kami butuhkan sebagai sesepuh dan pembimbing yang bijak,” ungkap tokoh pemuda Silo, Heru Purnomo kepada NU Online.

 

Betapapun ia dibutuhkan oleh masyarakat, namun kehedak Allah tak bisa dilawan. Kiai Imam tak berdaya menghadapi penyakit yang Allah berikan. Menurut anak sulungnya, Gus Syihabuddin Atha’illah, sang ayah menderita penyempitan usus. Ia sempat dirawat di Rumah Sakit Jember Klinik selama 4 hari, sebelum akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Husada Utama di Surabaya. Namun manusia cuma berusaha, Allah yang punya kuasa. Upaya yang dilakukan keluarganya untuk menyembuhkan sang kiai, tak membuahkan hasil. Kiai Imam menghembuskan nafas terakhirnya hari ini pukul 9.15 menit di usia 69 tahun.

 

Menurut rencana, jenazah almarhum Kiai Imam akan diberangkatkan dari Surabaya sekitar pukul 14.00. Diperkirakan tiba di Jember sore hari.

 

Kiai Imam, sang kiai bijak telah pergi untuk selamanya. Tak ada yang tersisa kecuali amal baik yang telah ditebarkannya sebagai amal jariyah. Oh, selamat jalan wahai jiwa yang tenang.

 

Pewarta: Aryudi AR

Editor: Ibnu Nawawi

Posisi Bawah | Youtube NU Online