Pentingnya Revitalisasi Pola Gerakan Nahdlatul Ulama

Pentingnya Revitalisasi Pola Gerakan Nahdlatul Ulama
Wakil Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung KH Khairuddin Tahmid memberi pembekalan dan penguatan kepada pengurus NU se-Kabupaten Pringsewu dalam Konferensi Cabang ke-3 Nahdlatul Ulama. (Foto: NU Online/Faizin)
Wakil Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung KH Khairuddin Tahmid memberi pembekalan dan penguatan kepada pengurus NU se-Kabupaten Pringsewu dalam Konferensi Cabang ke-3 Nahdlatul Ulama. (Foto: NU Online/Faizin)
Pringsewu, NU Online
Wakil Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung KH Khairuddin Tahmid mengatakan bahwa NU saat ini harus memulai paradigma arah perubahan baru jelang satu abad. Persepsi terhadap NU selama ini yang tradisional misalnya harus direvitalisasi menjadi organisasi yang modern.
 
Ada lima arah perubahan NU hari ini dan ke depan dalam paparannya yang bertema Revitalisasi Pola Gerakan Nahdlatul Ulama. Yakni dari jamaah ke jamiyyah, dari eksklusif ke inklusif, dari volunter (sukarela) ke militansi, dari kejumudan ke pemberdayaan, dan dari fikrah tradisionalis ke modernis.
 
Hal ini dipaparkannya saat memberi pembekalan dan penguatan kepada pengurus NU se-Kabupaten Pringsewu dalam Konferensi Cabang ke-3 Nahdlatul Ulama yang dilaksanakan di aula gedung NU Pringsewu, Ahad (5/1).
 
Untuk mewujudkan hal ini, Kiai yang juga Ketua Umum MUI Provinsi Lampung ini mengingatkan para pengurus NU untuk meningkatkan kreativitas dan terus meningkatkan kompetensi. Hal yang harus dimiliki pengurus NU di antaranya memiliki karakter moral dan kinerja, kritis dan memiliki literasi yang baik.
 
"Saat ini adalah era post-truth (pasca kebenaran) di mana kebenaran bisa terkalahkan oleh banjirnya opini dan berita. Opini saat bisa jadi kebenaran karena secara masif digaungkan," ia mengingatkan seluruh pengurus tentang efek dan pentingnya sadar akan perkembangan teknologi informasi.
 
Terlebih bagi para pimpinan jamiyyah NU di setiap levelnya, kiai yang juga pernah menjadi Ketua PWNU Lampung ini menjelaskan empat kriteria yang idealnya dimiliki. 
 
"Pemimpin itu harus yang pertama istitha'ah (mampu), kedua masyhur (terkenal), ketiga berkhidmah sungguh-sungguh, dan keempat ber-akhlakul karimah," jelasnya.
 
Orang-orang yang berada di depan dalam kepengurusan NU saat ini harus mampu mampu bekerja kolaboratif dan komunikatif dengan tidak mengedepankan ego ke-aku-annya.
 
"Pengurus NU harus 'layyinan wala sotoriyyan wala baferiyyan' pengurus NU tidak boleh sotoy (sombong dan sok tahu) dan baperan. Jangan gampang jengkelan dan mutungan," ajaknya disambut senyum yang hadir.
 
Hadir pada kesempatan tersebut Bupati Pringsewu KH Sujadi, Wakil Ketua PWNU Lampung H Khaidir Bujung dan Solihin, Ketua DPRD Pringsewu Suherman, para anggota DPRD Pringsewu, dan Ketua PCNU Tanggamus serta Pesawaran.
 
Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Syamsul Arifin
BNI Mobile