IMG-LOGO
Nasional
RISET BLA JAKARTA

Hikayat Nabi Bercukur Paparkan Jalur Masuk dan Perkembangan Islam Lampung


Sabtu 21 Desember 2019 06:30 WIB
Bagikan:
Hikayat Nabi Bercukur Paparkan Jalur Masuk dan Perkembangan Islam Lampung
Potongan Naskah Hikayat Nabi Bercukur (Foto: eap.bl.uk)
Studi naskah merupakan salah satu langkah heuristik dalam historiografi kesejarahan suatu bangsa. Penyusunan sejarah yang melibatkan analisis naskah di masanya menjadi langkah yang tepat untuk menyusun kesejarahan secara komprehensif. Hal itu disebabkan karena keberadaan naskah (dunia literasi) meggambarkan tingkat pengetahuan suatu masyarat dalam membangun peradabannya.
 
Baca Juga:
 
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Mahmudah dari Balai Litbang Agama (BLA) Jakarta Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia tentang naskah Hikayat Nabi Bercukur (HNB) yang didapati dari Abdul Roni, salah satu anggota Majelis Penyeimbang Adat Lampung (MPAL) menuturkan bahwa pengaruh Islam terhadap kepercayaan masyarakat Lampung telah dimulai sejak abad-15.
 
Untuk menguatkan temuan tersebut, Mahmudah mengutip hasil penelitian Syahputra dan Riyansyah. Dalam catatan yang dikutip oleh peneliti dituturkan bahwa Islam masuk ke daerah Lampung melalui tiga pintu. Pintu pertama, masuk dari arah barat (Minangkabau), melalui Balalu (Lampung Barat). Pintu kedua, masuk dari jalur utara (Palembang) melalui Komering pada masa Adipati Arya Damar. Pintu ketiga, masuk dari jalur selatan (Banten) oleh Fatahillah atau Sunan Gunung Djati melalui Labuhan Maringgao di Keratuan Pugung.
 
Dari tiga pintu jalur masuk tersebut, terdapat dua jalur pintu yang secara tegas para pelakunya hidup di abad-15. Yaitu melalui Komering pada masa Adipati Arya Damar di abad-15 yang hidup bersamaan dengan masa akhir Kerajaan Majapahit (1520 M), dan melalui Raden Fatahillah atau Sunan Gunung Djati (1448- 1568 M).
 
Berdasarkan bukti-bukti sejarah tersebut, hipotesa Mahmudah tentang naskah NHB yang dituliskan paskamasuknya Islam di tanah Lampung, secara koheresi teoritis dapat dibenarkan. Sehingga dari itu, Mahmudah dapat dengan mudah menyimpulkan bahwa NHB banyak dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Islam di masanya. Islam digunakan pula sebagai media dakwah untuk menanamkan keyakinan terhadap Allah dan Rasul-Nya, Muhammad kepada masyarakat Lampung.
 
Berkembangnya Islam Lampung dalam Naskah HNB
Setelah peneliti dapat membuktikan naskah HNB banyak dipengaruhi Islam dan digunakan untuk memengaruhi masyarakat agar masuk Islam di masanya, selanjutnya ada satu hal menarik yang juga penting diungkapkan dari hasil penelitian Mahmudah. Yaitu, strategi penyebaran Islam di daerah Lampung yang dilakukan dengan metode akulturasi kebudayaan.
 
Strategi dakwah Islam yang disampaikan melalu strategi akulturasi ini dapat dilihat pada banyak aspek. Di antaranya adalah aspek dialek linguistik. Secara kebahasaan, naskah HNB dituliskan dengan bahasa Melayu. Hal ini, menurut peneliti mengindikasikan bahwa naskah HNB yang didapati dari Abdul Ronimemang sengaja ditulis khusus sebagai media dakwah Islam di tanah Melayu, Nusantara. Sehingga, bahasa yang dipilihkannya pun mesti menggunakan bahasa kesaharian mereka sendiri.
 
Sementara itu, secara leksikal pemilihan aksara dalam penulisan naskah HNB menggunakan Had Lampung. Menurut peneliti hal ini menunjukkan bahwa Islam masuk ke tanah Lampung berhadapan dengan masyarakat yang sudah mengenal dunia literasi. Dengan begitu, berbagai ajaran dan pesan-pesan agama yang hendak disampaikan dapat menggunakan aksara masyarakat setempat, bukan aksara Arab. Adapun bentuk Had Lampung itu sendiri memiliki kemiripan dengan aksara Pallawa dari India Selatan.
 
Selanjutnya, media yang digunakan dalam penulisan HNB adalah kulit kayu atau biasa disebut buku kayu lipat. Kebiasaan menulis di atas kulit kayu menurut peneliti sudah berlangsung cukup lama dalam tradisi masyarakat Nusantara, khususnya Lampung. Pada lumrahnya naskah yang dituliskan di kulit kayu ini berisi tentang hikayat, nasihat dan ritual-rutual mistis yang diwariskan secara turun temurun. 
 
Dari tiga karakter penulisan tersebut, menurut hasil penelitian Mahmudah menunjukkan bahwa penulisan naskah HNB versi Lampung mengikuti ketentuan adat Lampung yang masih ketat dengan aturan-aturan yang berlaku. Dengan kata lain,Lampung yang dikenal dengan julukan Sai Bumi Ruwa Jurai (satu bumi dua etnis) sudah sejak dahulu kala mempertahankan kultur dan kebudayaan mereka. Ajaran Islampun yang masuk ke tanah Lampung mesti harus mengikuti ketentuan adat mereka. Termasuk dalam pemilihan dialek kebahasaa dan aksara penulisan.
 
Setelah mengikuti ketentuan adat, serta tetap memerhatikan isi kandungan pesan yang hendak disampaikan, ajaran agama Islam dengan mudah dapat diterima oleh masyarakat Lampung. Bahkan lebih dari sekedar itu, Mahmudah mendeskripsikan perkembangan Islam di tanah Lampung pada masa-masa selanjutnya benar-benar menyatu dengan bahasa dan peraktik keseharian mereka. 
 
Maka dari itu, sebagai dampak sosial dari pola persebaran agama Islam model ini, serta didukung dengan pengaruh kepercayaan yang sangat kuat atas naskah HNB, pada tahap selanjutnya masyarakat menjadikan naskah HNB sebagai suatu benda yang keramat. Sehingga, naskah tersebut dibacakan pada saat ritual gunting rambut pertama seorang anak. 
 
 
Penulis: Ahmad Fairozi
Editor: Kendi Setiawan
 
Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG