Tingkatkan Perekonomian Warga, Pesantren Nurul Ulum Produksi Kopi

Pengasuh Pesantren Nurul Ulum, Desa Pace, Kecamatan Silo, Jember, Ustadz Tantowi (sebelah kanan) menyerahkan bantunan kopi Annajun kepada PCNU Jember yang diwakili oleh Gus Robith Qashidi. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Pengasuh Pesantren Nurul Ulum, Desa Pace, Kecamatan Silo, Jember, Ustadz Tantowi (sebelah kanan) menyerahkan bantunan kopi Annajun kepada PCNU Jember yang diwakili oleh Gus Robith Qashidi. (Foto: NU Online/Aryudi AR), Tingkatkan Perekonomian Warga, Pesantren Nurul Ulum Produksi Kopi
Pengasuh Pesantren Nurul Ulum, Desa Pace, Kecamatan Silo, Jember, Ustadz Tantowi (sebelah kanan) menyerahkan bantunan kopi Annajun kepada PCNU Jember yang diwakili oleh Gus Robith Qashidi. (Foto: NU Online/Aryudi AR), Tingkatkan Perekonomian Warga, Pesantren Nurul Ulum Produksi Kopi

Jember, NU Online

Pondok Pesantren Nurul Ulum, Desa Pace, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, Jawa Timur selangkah maju. Pesantren yang diasuh oleh Ustadz Tantowi ini tidak cuma membina akhlaq generasi penerus bangsa namun juga memikirkan bagaimana meningkatkan ekonomi warga di sekitarnya, terutama petani kopi.

 

Sebab bagi Ustadz Tantowi, meningkatkan ekonomi warga tak kalah pentingnya dibanding mengajar santri dengan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, maka keberadaan pesantren benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga dan wali murid.

 

“Sejak awal, kami memang sangat ingin berbuat sesuatu untuk meningkatkan perekonomian warga,” ucap Ustadz Tantowi di kediamannya, Kamis (9/1).

 

Alumnus Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura, Jawa Timur itu memilih usaha produksi kopi bubuk. Ini karena warga Desa Pace dan sekitarnya memang banyak yang jadi petani kopi. Mereka memanfaatkan lahan kebun milik sendiri untuk ditanami kopi. Sebagian juga memanfaatkan lahan milik Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP) dengan cara disewa dalam jangka waktu yang cukup lama.

 

“Jadi kalau pas musim panen, produksi kopi melimpah,” terangnya.

 

Kendati melimpah, namun petani tidak mendapatkan keuntungan yang maksimal. Itu karena kopi di petani tidak langsung dijual kepada pembeli, tapi masih melalui pengepul. Sehingga harganya tentu saja tidak begitu mahal. Nah, Ustadz Tantowi ingin memangkas mata rantai alur penjualan kopi yang dinilainya merugikan petani tersebut.

 

“Caranya kami beli langsung ke petani,” ungkapnya.

 

Usaha produksi kopi dia dimulai sejak tahun 2012. Bentuknya bubuk, dikemas dalam plastik mulai dari ukuran seperempat kilogram hingga 1 kilogram. Namun agar lebih gampang dibawa dan lebih keren, maka sejak dua bulan lalu dikembangkan dalam bentuk saset. Merknya Kopi Annajun.

 

“Kami pertama ini buat 1000 saset. Dan alhamdulillah, sambutan masyarakat luar biasa,” ucapnya.

 

Untuk menjamin mutu terbaik, Ustadz Tantowi memproduksi kopi bubuk dengan alat tradisional, terutama proses sangrai dan penumbukan. Yaitu disangrai dengan menggunakan kayu bakar dan ditumbuk dengan memakai lesung, tidak diselep.

 

“Kami ingin mempertahankan ciri khas kopi desa dengan aroma yang khas pula,” tuturnya.

 

Ustadz Tantowi adalah model pengasuh pesantren yang tidak saja memikirkan bagaimana santrinya pandai dan berakhlaq, tapi juga berusaha memberi manfaat ekonomi bagi pesantren dan warga, betapapun kecilnya.

 

Pewarta: Aryudi AR

Editor: Ibnu Nawawi

 

BNI Mobile