Pesantren di Jember Kembangkan Usaha untuk Kemandirian Lembaga

Pesantren di Jember Kembangkan Usaha untuk Kemandirian Lembaga
Sejumlah karyawan Koperasi Addimyati Dusun Pondok Lalang, Desa Wonojati, Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Mereka menyiapkan barang yang akan dikirim ke sejumlah pelanggan. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Sejumlah karyawan Koperasi Addimyati Dusun Pondok Lalang, Desa Wonojati, Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Mereka menyiapkan barang yang akan dikirim ke sejumlah pelanggan. (Foto: NU Online/Aryudi AR)

Jember, NU Online

Idealnya, pondok pesantren tidak cuma bergerak di bidang pendidikan tapi juga mempunyai unit usaha untuk menunjang kemandirian ekonomi lembaga tersebut. Sebab, selain dituntut untuk membenahi akhlaq anak bangsa, pesantren juga diharapkan dapat memberdayakan masyarakat di sekitarnya melalui gerakan ekonomi yang mumpuni.

 

Itulah yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Addimyati, Dusun Pondok Lalang, Desa Wonojati, Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Pesantren ini memang getol dalam berwirausaha. Setidaknya sudah ada 3 produk made in koperasi Addimyati. Yaitu, kerudung, teh susu, dan kopi.

 

Ngopeni santri dan berwirausaha sama-sama penting, dan dua-duanya kami lakukan,” ucap salah seorang pengasuh, Gus Abdullah Faqih kepada NU Online di kediamannya, Jumat (1.1).

 

Menurutnya, penduduk Indonesia cukup banyak dan teritorialnya begitu luas, sehingga membuat apa saja laku asalkan tahu selera yang dibutuhkan pasar. Salah satu contoh hasil produksi Addimayati adalah kerudung. Meskipun baru diluncurkan setahun yang lalu, namun pemesannya lumayan. Ada dua model produk yaitu kerudung panjang dengan merk Nawaning, dan model kerudung pendek dengan merk Bilbana. Segmen pasar kedua merk itu juga berbeda. Pemesan tidak hanya dari Jember tapi juga berasal dari Bogor, bahkan Kalimantan.

 

“Ya kita harus pandai-pandai memanfaatkan media sosial dan jejaring perkawanan untuk pemasaran produk,” lanjutnya.

 

Selain kerudung, Addimyati juga memproduksi teh susu. Sesuai dengan namanya, ini teh serasa susu. Namun untuk menghasilkan cita rasa teh yang spesial, Addimyati menggunakan teh impor (Thailand) untuk bahan baku teh susu itu. Teh hasil olahan Addimyati diberi merk Thai Milk Tea.

 

“Bukan tidak mau produk dalam negeri, tapi memang bahan baku teh kami itu butuh teh hijau, yang itu tidak ada di Indonesia,” jelasnya.

 

Selain dijual di Jember melalui toko-toko tertentu, teh Thai Milk Tea juga dipasarkan hingga ke Bali. Setiap dua pekan, pesantren melalui koperasi Addimyati, membuka DO (delivery order) teh susu untuk konsumen. Rata-rata setiap bulan minimal 300 botol teh dipesan masyarakat.

 

“Angka pemesan masih kecil, tapi kami akan terus berusaha untuk meningkatkan konsumen,” lanjut Gus Faqih.

 

Addimyati terus berkreasi dalam berwirausaha. Bahkan dalam waktu dekat Addimyati akan memproduksi kopi secara massal. Namanya kopi Wayang. Dikatakan Gus Faqih, Jember sebagai daerah penghasil kopi terbaik di dunia, seharusnya memilik kopi yang berciri khas Jember.

 

“Itulah kopi Wayang. Semua (produk) itu kami maksudkan untuk kemandirian ekonomi pesantren,” ujarnya.

 

Pewarta: Aryudi AR

Editor: Ibnu Nawawi

BNI Mobile