IMG-LOGO
Internasional

Jadi Pembicara di Pertemuan Antaragama di Vatikan, Gus Yahya Sampaikan Rencana Strategis NU

Senin 13 Januari 2020 15:45 WIB
Jadi Pembicara di Pertemuan Antaragama di Vatikan, Gus Yahya Sampaikan Rencana Strategis NU
Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf saat bertemu Paus Fransiskus di Vatikan, September 2019. (Foto: Ist)
Jakarta, NU Online
Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf dijadwalkan hadir sebagai pembicara dalam Pertemuan Tingkat Tinggi Agama-agama Ibrahim di Vatikan, Selasa-Jumat (14-17/1). Dia menjadi salah satu dari enam tokoh wakil dunia Islam yang diundang untuk memberikan kontribusi pemikiran tentang gerakan bersama untuk perdamaian dunia.

Dalam pertemuan itu, Gus Yahya sendiri akan membawa wawasan-wawasan tentang cita-cita peradaban mulia yang terkandung dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Selain itu, dia juga menyampaikan rencana-rencana strategis yang telah dibangun di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) seperti Deklarasi Nahdlatul Ulama ISOMIL 2016, Deklarasi Global Unity Forum I GP Ansor 2016, Deklarasi GP Ansor Tentang Humanitarian Islam 2017, Manifesto Nusantara GP Ansor, 2018, dan Hasil-hasil Musyawarah Nasional Alim-Ulama Nahdlatul Ulama di Kota Banjar, Jawa Barat 2019. 
 
“Dialog Antaragama tidak boleh lagi hanya berhenti dengan bertukar kata-kata manis dari kutipan-kutipan kitab suci dan pernyataan tokoh-tokoh suci. Sudah terlalu lama umat manusia menunggu para tokoh agama bicara sejujur-jujurnya tentang masalah-masalah yang nyata-nyata sedang menimpa umat manusia dewasa ini, termasuk permusuhan dan konflik yang bengis di antara kelompok-kelompok berbeda agama,” kata Gus Yahya dalam rilisnya yang diterima NU Online, Senin (13/1).

Gus Yahya menambahkan, pada hakikatnya agama diturunkan sebagai anugerah Tuhan untuk menolong umat manusia dalam mencari jalan keluar dari masalah-masalah mereka. Namun karena kelemahan dalam sifat dasar manusia, agama dalam perjalanan sejarahnya kemudian direduksi para pemeluknya menjadi sekadar identitas kelompok dan dijadikan alasan untuk bersaing dan bertarung melawan kelompok yang dianggap berbeda identitasnya. 

“Pada titik itulah, agama menjadi sumber konflik. Sebab itu, kita harus memerdekakan agama dari jerat posisi sebagai sumber masalah dan mengembalikannya kepada tujuan hakiki sebagai landasan untuk memecahkan masalah,” jelas mantan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden ini. 
 

Pertemuan ini diinisiasi oleh Multi-Faith Neighbours Network (Jaringan Tetangga Antaragama), sebuah organisasi Amerika yang diawaki Imam Mohamed Magid. Magid adalah Imam Eksekutif All Dulles Area Muslim Society (ADAMS) Center (Pusat Komunitas Muslim Wilayah Dulles) di Sterling, Virginia, Amerika Serikat. Selain itu, ada Pastor Bob Roberts, pendiri Gereja Northwood di Keller, Texas, AS; dan Rabbi David Saperstein, Presiden World Union for Progressive Judaism (Perserikatan Yahudi Progresif Seluruh Dunia). 

Penyelenggara acara mengatakan, partisipasi Gus Yahya dalam pertemuan ini mutlak diperlukan. Dalam surat undangannya kepada Gus Yahya, Pastor Bob Roberts atas nama Multi-Faith Neighbours Network mengatakan bahwa “Kepemimpinan Anda yang mendunia dalam humanitarian Islam dan kegigihan Anda untuk mewujudkan tindakan-tindakan nyata akan sangat memperkaya Abrahamic Faiths Initiative serta implementasi dan dampak globalnya.”

Hal senada juga disampaikan Duta Besar Keliling Amerika Serikat untuk Kebebasan Beragama, Samuel D Brownback. Disebutkan, dia meminta secara langsung kehadiran Gus Yahya dengan mengirimkan surat pribadi. Dalam suratnya, Brownback mengatakan “Adalah harapan terbesar saya bahwa Anda dapat bergabung dengan kami untuk mendiskusikan agama-agama kita sebagai landasan menuju perdamaian. Upaya yang akan kami lakukan hanya mungkin terwujud dengan kehadiran Anda.”

Dari kalangan Islam, selain KH Yahya Cholil Staquf, akan hadir Syaikh Abdul Karim Khasawneh, Grand Mufti Yordania; Syaikh Abdullah Bin Bayah dari Dewan Fatwa Uni Emirat Arab; Sayyed Yousif Al Khoei, Direktur Pusat Studi Akademik Syiah di Inggris; Imam Hassan Qazwini dari Institut Islam Amerika di Michigan; dan Dr Ingrid Mattson, profesor dari University of Western Ontario, Kanada. 

Editor: Muchlishon
Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG