Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download
ANJANGSANA ISLAM NUSANTARA

Hal yang Jarang Diketahui tentang KH Tubagus Muhammad Falak

Hal yang Jarang Diketahui tentang KH Tubagus Muhammad Falak
KH Tubagus Muhammad Falak Pagentongan. (Foto: Dok. Pesantren Al-Falak Pagentongan)
KH Tubagus Muhammad Falak Pagentongan. (Foto: Dok. Pesantren Al-Falak Pagentongan)
Bogor, NU Online
Fakultas Islam Nusantara (FIN) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) sowan kepada KH Tubagus Asep Zulfiqar Falak, cicit KH Tubagus Muhammad Falak Pagentongan, Bogor, Jawa Barat pada Senin (13/1).

Dalam kesempatan tersebut, Tubagus Asep menyampaikan bahwa Mama Falak merupakan sosok ulama yang sangat lama belajar di Makkah, sekitar 60 tahun, setelah mengaji di beberapa kiai di Banten, Cirebon, dan kiai-kiai lainnya di wilayah Jawa.

Dari hal tersebut, Pengajar FIN Unusia Ngatawi Al-Zastrouw mengatakan bahwa memang para ulama Nusantara belajar di Makkah itu sudah memiliki bekal yang cukup dari guru-gurunya di Nusantara.

"Ke sana itu ya sudah membawa perspektif Nusantara," kata Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 2010-2015 itu.

Ulama yang berasal dari Pandeglang itu pindah ke Pagentongan karena mendapat istri orang daerah tersebut. Banyak tokoh yang mengaji dan belajar pada sosoknya. Di antaranya adalah Presiden pertama Indonesia Sukarno yang kerap berkunjung kepadanya untuk membicarakan persoalan perjuangan kemerdekaan dan kenegaraan.

Selain alim dalam berbagai keilmuan, Tubagus Falak juga seorang pengamal banyak tarekat. Banyak orang mengenalnya sebagai Mursyid Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah. Menurut Tubagus Asep, kakek buyutnya itu juga mengamalkan 23 tarekat muktabarah lainnya.

Beberapa saat sebelum wafat, keluarganya melihat Mama Falak seperti mengigau dalam tidurnya. Ia berbicara sendiri. Namun, hal tersebut terasa aneh karena bukan hal biasa.

Akhirnya, putranya bertanya kepadanya perihal peristiwa itu. Mama Falak pun bercerita bahwa ia berjumpa dengan para ulama dan habaib. Namun, nama-nama yang disebutkan tersebut semuanya sudah wafat.

Mendengar hal itu, putranya sudah mengira bahwa hidup Tubagus Falak sudah tidak lama lagi. Ia menangis. Benar saja. Azan Subuh sayup-sayup menembus dinding kamar ulama yang dikenal sangat ahli ilmu perbintangan itu.

Tepat saat lafal hayya ala al-sholah dikumandangkan, Tubagus Falak mengembuskan nafas terakhirnya. "Ucapan terakhirnya ya mengajak shalat, al-shalah, al-shalah," kata Tubagus Asep menceritakan akhir hayatnya Tubagus Falak di kediaman aslinya.

Sowan tersebut ditutup dengan berziarah ke makam Tubagus Falak yang berada persis di belakang kediamannya.

Pewarta: Syakir NF
Editor: Fathoni Ahmad
BNI Mobile