IMG-LOGO
Nasional

Sikapi Yel-yel Pramuka di Jogja, LP Ma'arif NU: Toleransi Sejak Dini Sangat Penting


Selasa 14 Januari 2020 17:30 WIB
Bagikan:
Sikapi Yel-yel Pramuka di Jogja, LP Ma'arif NU: Toleransi Sejak Dini Sangat Penting
Ketua PP LP Ma'arif NU KH Zainal Arifin Junaidi di Gedung PBNU. (Foto: NU Online/Husni Sahal)
Jakarta, NU Online
Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama menegaskan, bahwa penanaman sikap toleran atau menghargai perbedaan kepada anak-anak sangat penting dilakukan sejak dini, khususnya melalui sekolah.

"Iya sangat penting, sangat penting. Kami menyadari itu," kata Ketua PP LP Ma'arif NU KH Zainal Arifin Junaidi di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (14/1).

Sebab menurut Kiai Arjuna, mendidik anak sedari kecil itu bagaikan melukis di atas batu. Sebaliknya, jika mendidik orang yang sudah dewasa seperti mengukir di atas air. "Kalau mengukir di atas batu kan akan sulit terkikis. Kalau tidak dari kelas yang paling bawah ya akan susah," ucapnya.

Ia menyatakan, di sekolah-sekolah Ma'arif NU, mata pelajaran ke-NU-an dan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) diterapkan sejak kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah (MI). Namun demikian, sekali pun bagi kelas yang ada di bawahnya belum ada pelajaran tersebut, namun pihaknya telah menanamkan nilai-nilai ke-NU-an dan persaudaraan.

"(Peserta didik) sudah ditanamkan sejak dini bahwa hidup kita ini bersama orang lain," jelas Kiai Arjuna, sapaan akrabnya.

Menurut dia, keberagaman yang ada di Indonesia menjadi kewajiban dan kebutuhan bersama, sehingga siapa pun harus menjaganya supaya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tetap utuh. "Jadi keberagaman itu kewajiban sekaligus kebutuhan kita," ucapnya.

Beberapa hari terakhir, warganet dihebohkan video yel-yel Pramuka yang diketahui dilakukan di sebuah SD Timuran, Prawirotaman Kota Yogyakarta pada 10 Januari 2020. Dalam video tersebut diduga seorang pembina Pramuka dari Gunungkidul mengajarkan anti-keberagaman dengan kata 'Islam Yes, Kafir No' saat memberikan pelatihan. Peristiwa itu diungkapkan oleh seorang wali murid melalui status media sosial.

Kiai Arifin melihat adanya kasus tersebut menandakan radikalisme di Indonesia masih gencar dilakukan kelompok tertentu. Ia pun memastikan bahwa ucapan atau tindakan radikal tidak berasal dari kalangan NU. Sebab katanya, warga NU selalu ditanamkan tentang pentingnya ukhuwah atau persaudaraan, mulai dari persaudaraan sesama warga NU, sesama umat Islam, sesama warga bangsa, hingga sesama umat manusia.

"Ucapan dan tindakan radikal itu pasti dari luar NU. Kalau ada orang NU dan mengatakan dirinya NU tetapi ngomong yang gak genah itu diragukan ke-NU-annya," pungkas Kiai Arjuna.

Pewarta: Husni Sahal
Editor: Musthofa Asrori
 
Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG