Sedekah Oksigen Ansor dan Gusdurian Lampung

Sedekah Oksigen Ansor dan Gusdurian Lampung
Relawan menanam pohon pada program 'Sedekah Pohon' di Waykanan (Foto: Gatot Arifiato)
Relawan menanam pohon pada program 'Sedekah Pohon' di Waykanan (Foto: Gatot Arifiato)
Waykanan, NU Online
Pohon sangat penting untuk keberlangsungan kehidupan mendatang. Kelestariannya yang berdampak positif bagi lingkungan hidup hingga kesehatan manusia merupakan investasi, menanam, merawat dan menumbuhkannya tanggungjawab setiap manusia.
 
Beragam manfaat itulah yang membuat Gusdurian Lampung bekerjasama dengan PAC GP Ansor, Waytuba, Waykanan, Lampung bertekad melanjutkan program 'Sedekah Oksigen' yang sudah berlangsung sejak 2016. 
 
Penggiat Gusdurian Lampung, Gatot Arifianto, di Blambangan Umpu, Waykanan, Selasa (14/1) menyebut, menanam pohon ialah langkah kecil. 
"Tapi itu adalah investasi luar biasa. Solusi sederhana terhadap perubahan iklim dan tercapainya kesehatan. Menanam pohon ialah jalan melindungi hutan dari deforestasi yang dapat membantu membatasi dampak dan tingkat keparahan bencana alam," ujarnya.
 
Setelah Brasil, pada 2010 sampai 2015, Indonesia tercatat menempati urutan kedua tertinggi kehilangan hutan, mencapai 684.000 hektar tiap tahunnya. Padahal, kata Gatot, manfaat pohon tidak hanya berimplikasi pada lingkungan, dalam hal kesehatan, juga memiliki beragam manfaat. 
 
Kementerian Kesehatan RI menyebut, suplai udara segar dari pepohonan berdampak pada proses penyembuhan sebagai sarana relaksasi. Warna hijau pepohonan adalah warna yang menyenangkan, spektrumnya merupakan keseimbangan. Melihat tanaman hijau, merupakan salah satu cara menghilangkan ketegangan, depresi, dan kelelahan mata.
 
Tahun 2016, ujar Gatot, seribu pohon produktif, mangga Thailand dan nangkadak Rp50 ribu per batang hasil sedekah para donatur telah tersalurkan di sejumlah pesantren yang ada di Waykanan. Antara lain, Pesantren Assidiqiyah 11 dan Pesantren Hidayatus Salafiyah Kampung Karya Agung, Kecamatan Negeri Agung, asuhan KH Muhammad Yunus Hasyim (Gus Yunus).
 
"Tapi ada evaluasi. Jenis pohon produktif disalurkan masih mengenal musim atau berjangka waktu panjang untuk panen. Selain itu, belum terintregasi dengan kemandirian ekonomi yang lain. Seperti budidaya lebah untuk menghasilkan madu yang memiliki beragam khasiat bagi kesehatan dan kecantikan," paparnya.
 
'Sedekah Oksigen' kali ini fokus pada dua jenis pohon yaitu belimbing madu dan jambu kristal. Hal itu karena masa panen sangat produktif, seminggu sekali bisa panen. Nilainya sama Rp50 ribu per batang pohon.
 
Gatot menyebutkan, satu pesantren targetnya seratus pohon. Kedepan sangat potensial untuk diintregasikan dengan budidaya lebah madu karena selalu adanya pasokan bunga dari tumbuhan dimaksud.
 
Pengasuh Pesantren Assidiqiyah 11, Gunung Labuhan, Kabupaten Way Kanan, Lampung, Kiai Imam Murtadlo Sayuthi mengatakan manusia dan hewan memiliki ketergantungan pada hutan dan pohon. Kehidupan sehari-hari mahkluk hidup harus ditopang dengan keberadaan pohon. Untuk menghadapi perubahan iklim, penting menjaga keberadaan pohon. Setiap orang harus terlibat, bersama-sama mengambil tindakan melawan perubahan iklim.
 
"Subhanallah, dampak gerakan tersebut luar biasa sekali," ujar Kiai Imam Murtadlo Sayuthi. 
 
Sekian tahun berlalu, gerakan 'Sedekah Oksigen' telah menuai hasil. Pohon di tanam di pesantren membuat lingkungan cukup hijau dan teduh sehingga sedikit banyak menghambat pemanasan global dan meningkatkan ketersediaan air tanah.   
 
Kiai Imam menyebut, 'Sedekah Oksigen' merupakan ilmu haal (ilmu tingkah) yang patut dilakukan lantaran menyangkut kesehatan hidup manusia. Dalam hal ini, tentu para kader NU dengan gerakan menanam seribu pohon itu telah berjasa memberikan kontribusi nyata yang sangat penting bagi kehidupan manusia, yaitu oksigen.
 
Calon donatur yang berminat berpartisipasi dalam program 'Sedekah Oksigen' bisa menghubungi Bendahara PAC Waytuba, Robingali dinomor 0821-7732-2181. Sedekah oksigen bisa disalurkan ke rekening BRI: PAC GP Ansor Way Tuba 8136-01-004629-53-2.
 
Kontributor: Syuhud Tsaqafi
Editor: Kendi Setiawan
BNI Mobile