Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Dakwah Jadi Spirit Seniman di Jombang

Dakwah Jadi Spirit Seniman di Jombang
Komunitas Seni Anak Jombang (Kosajo) merayakan 1st anniversary. (Foto: NU Online/Syarif Abdurrahman)
Komunitas Seni Anak Jombang (Kosajo) merayakan 1st anniversary. (Foto: NU Online/Syarif Abdurrahman)
Jombang, NU Online
Komunitas Seni Anak Jombang (Kosajo) merayakan 1st anniversary. Acara berpusat di Nest Coffe, Jombang, Jawa Timur. Acara diformat dengan model pameran hasil karya dari anggota Kosajo, pagelaran musik, sarasehan, dan terdapat pula beberapa workshop yang bertema  keseni rupaan.
 
"Ini sebagai rasa syukur kami atas perjalanan komunitas seni yang kami bentuk sampai sejauh ini," kata salah satu anggota Kosajo Zainul Mujib, Selasa (14/1).
 
Selain itu, menurut Mujib acara ini juga sebagai wadah silaturahim antarkomunitas di Jombang dan sekitarnya. Tujuan lainnya sebagai media promosi bagi perusahaan sponsor, juga sebagai hiburan bagi seluruh member atau non-member untuk bisa merasakan kebahagiaan di hari jadi Kosajo ke-1.
 
Panitia juga mengadakan Workshop Brush Kaligrafi yang diisi oleh Serat Jombang, Workshop Estetika Kaligrafi Klasik dan Modern oleh Sakal Jombang, Workshop Teknik menggambar dan mewarnai oleh Anak Seni Indonesia.
 
"Saya perwakilan dari Sekolah Kaligrafi Al-Qur’an (Sakal) untuk mengisi acara Workshop ke-2 bersama sahabat saya Anas," tambah pria asal Lamongan ini.
 
Mujib menjelaskan, kali ini ia mengangkat tema Estetika Kaligrafi Klasik dan Modern berawal dari spirit dakwah mengenai pentingnya budaya tulis menulis terkhusus menulis indah. 
 
Hal ini menjadi penting melihat pergerakan dan perubahan di era milenial ini begitu cepat dan semua didominasi dengan penggunaan mesin digital. Peran seni menulis indah cukup berperan dalam mentransfer value-value kebenaran pengetahuan dan menjadikan kebenaran itu semakin jelas (الخط الحسن يزيد الحق وضوحا ). 
 
"Pemilihan tema di atas diharapkan masyarakat mendapatkan pencerahan bahwa kaligrafi itu fleksibel, dinamis, dan mampu diaktualisasikan di banyak bidang. Meskipun di dalam kaligrafi itu sendiri terdapat pula kaedah pakemnya," ungkapnya.
 
Namun, bagi Mujib terpenting dalam kaligrafi adalah nilai dakwah dan syiar Islam. Sehingga semangat yang dibawa adalah mengajak ke jalan kebaikan bukan malah menyalahkan pihak manapun. Semangat jadi ruh dalam berseni. Sehingga tak lelah dan mundur di tengah jalan saat ada masalah.
 
"Merupakan kewajiban yang melekat pada diri seorang khattath (kaligrafer) untuk mendakwahkan nilai-nilai Islam dalam ranah seni dan kebudayaan. Perpaduan dengan teknologi adalah strategi agar bisa diterima dan lebih masif dakwahnya," pungkas Mujib
 
Kontributor: Syarif Abdurrahman
Editor: Syamsul Arifin
BNI Mobile