Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Soal Yel ‘Kafir No’, PB Kopri Sarankan Guru Dibekali Modul Islam Wasathiyah

Soal Yel ‘Kafir No’, PB Kopri Sarankan Guru Dibekali Modul Islam Wasathiyah
Ketua Bidang Pendidikan, Budaya dan Olahraga KOPRI PB PMII, Maya Muizatil Lutfillah (baju garis-garis) saat menghadiri salah satu kegiatan di KOPRI PMII. (Foto: Istimewa)
Ketua Bidang Pendidikan, Budaya dan Olahraga KOPRI PB PMII, Maya Muizatil Lutfillah (baju garis-garis) saat menghadiri salah satu kegiatan di KOPRI PMII. (Foto: Istimewa)
Jakarta, NU Online
Kejadian tepuk pramuka ‘Islam yes, Kafir no’ oleh Salah satu Pembina Pramuka di Yogyakarta, pada Jumat (10/1) lalu viral di media sosial. Peristiwa itu membuat resah beberapa pihak, salah satunya adalah Pengurus Besar Korps PMII Putri (PB Kopri). 

Ketua Bidang Pendidikan, Budaya dan Olahraga PB Kopri, Maya Muizatil Lutfillah, mengatakan warga negara Indonesia yang hidup dalam kemajemukan sejak ratusan tahun yang lalu seharusnya sudah sadar terkait toleransi.
 
Tidak perlu lagi ada narasi-narasi yang menjurus pada retaknya kerukunan umat beragama seperti menyebut non-Muslim sebagai kafir atau mengklaim dirinya paling memiliki otoritas kebenaran.

PB Kopri menyebut, penyebab masih ditemukannya dewan guru atau pembina pramuka yang menggunakan yel-yel rasis karena tidak memahami agama secara mendalam.
 
Untuk itu, agar tak membuat gaduh dan mewariskan intoleransi di kalangan pelajar harus ada komitmen yang kuat dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Agama untuk menanamkan niai-nilai islam wasathiyah kepada jutaan guru dan pembina Pramuka di Indonesia. 

“Cara paling sederhana untuk mengefesienkan program tersebut yakni dengan membuat modul Islam washatiyah khusus untuk guru. Bahkan bisa dibuat buku saku yang setiap harinya bisa dibaca oleh guru-guru tersebut,” kata Alumnus Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini kepada NU Online, Rabu (15/1). 

Ia menjelaskan, seorang tenaga pengajar atau pembina ekstrakulikuler harus melihat peserta didiknya, apakah dia TK, SD atau Mahasiswa di Perguruan Tinggi. Artinya, guru dianjurkan menyesuaikan bahan ajar dengan peserta didik yang akan menerima pelajaran. Jangan sampai, isu-isu yang seharusnya belum saatnya dikonsumsi oleh peserta didik justru malah diajarkan melalui ragam pendekatan. 

“Ini masalahnya, guru-guru kita terkadang tidak bisa membedakan mana pendekatan dia sebagai guru dan mana pendekatan dia sebagai pemeluk agama,” kata Maya. 

Seperti diketahui, salah satu peserta kursus pembina pramuka mahir tingkat lanjutan (KML) membuat geger karena mengajarkan tepuk dan yel-yel pramuka menyinggung kafir, pada Jumat (10/1). Peristiwa itu pun diprotes wali murid karena dinilai rasis.

Peristiwa terungkap setelah tangkapan layar status WhatsApp salah satu wali murid SDN Timuran berinisial K tersebar di WhatsApp Group di Yogya. Dalam tangkapan layar itu, K bercerita mengenai tepuk Pramuka rasis yang diajarkan di sekolah anaknya yang berbunyi, “Islam-islam Yes, Kafir-kafir No”.

Pewarta: Abdul Rahman Ahdori
Editor: Fathoni Ahmad
BNI Mobile