Praktik Tasawuf Saat Ini, Jadilah Bagian dalam Tatanan Sosial 

Praktik Tasawuf Saat Ini, Jadilah Bagian dalam Tatanan Sosial 
KH Nasaruddin Umar (baju biru) bersama rektor dan pimpinan Unisma. (Foto: NU Online/panitia)
KH Nasaruddin Umar (baju biru) bersama rektor dan pimpinan Unisma. (Foto: NU Online/panitia)
Malang, NU Online
Yang dikatakan tasawuf modern adalah meninggalkan segala praktik tasawuf yang memisahkan diri dari kehidupan dunia dan menggantikannya dengan praktik tasawuf yang tidak memisahkan diri dari tatanan sosial kemasyarakatan. 
 
“Tasawuf itu pada intinya menyucikan diri dari polusi pemikiran materialistis yang masuk ke dalam pemikiran komprehensif,’’ kata KH Nasaruddin Umar pada kegiatan ‘Mbalah Aswaja’ dengan tema Tasawuf di Era Modern  di Universitas Islam Malang (Unisma) Jawa Timur,  Rabu (15/1).
 
Menurut guru besar UIN Syarif Hidayatullah itu, tasawuf  pada zaman dahulu sangat terasa di kalangan masyarakat. Peran tasawuf sangat membawa dampak yang sangat positif. Rasa persatuan yang sungguh erat, jiwa gotong royong yang sungguh terasa.
 
Berbeda dengan zaman modern ini, dimana mulai lunturnya beberapa konsep kehidupan yang saling mengasihi dan mencintai sesama umat manusia. Atau bahkan, sesama Muslim. 
 
“Yang terjadi dewasa ini bahwa umat manusia atau umat Muslim telah hilang daya nalar kehidupan yang cinta damai dan saling mengasihi. Dan munculnya rasa saling membenci satu sama lain,’’ kata imam masjid Istiqlal Jakarta tersebut.
 
Sementara itu Rektor Unisma, Masykuri menyampaikan bahwa kampus yang sekarang dipimpinnya memiliki sekitar 15 ribu mahasiswa dan  berasal dari 15 negera dan 34 provinsi. Maka terkait dengan amanah masyarakat yang dari hari kehari animonya semakin besar. Maka Unisma ingin mempersiapkan mahasiswa memiliki kopentsi plus disamping juga interprenur yang andal dan moralitas yang tinggi. 
 
“Kegiatan-kegiatan ritual keagamaan sudah menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa dan civitas akademika Unisma. Tiada hari tanpa Al-Quran dan shalawat,” katanya.  
 
Kegiatan ritual baik membaca al-Qur'an, shalawat dan tahlil, istighotsah dan shalat berjamaah akan menjadi bagian sehari-hari di Unisma sehingga diharapkan menjadi rujukan kampus Ahlussunah Waljama’ah bagi perguruan tinggi nasional maupun internasional. .
 
Dalam pandangannya, ternyata  perguruan tinggi tidak cukup dengan ritual keagmaan. Kampus agama juga perlu kajian akademik yang bersifat ritual dan diemplementasikan melalui kajian akademik yang di Unisma beri nama Mbalah Aswaja.
 
“Kegiatan ini diselenggarakan setiap hari Rabu pada pekan kedua dan ketiga. Dalam Kegiatan rutin ini kita menghadirkan tokoh regional, nasional dan internasional,’’ urainya.
 
Masykuri berharap civitas akademika Unisma bukan hanya paham pada ritual dan ajaran yang berbasis Aswaja.Tetapi juga paham dengan dasar filosofis dan sosilogisnya serta tasawuf. 
 
“Ini semangat kami,” tegasnya. 
 
Bahkan dirinya berharap Kiai Nasaruddin berkenan untuk ikut membina di program doktor pascasarjana Unisma. Karena dulu KH Tholchah Hasan juga sangat merindukan bisa menjadi bagian dari civitas akademika Unisma. 
 
“Paling tidak mengajar di S3. Bangga Unisma bila kiai bisa menyisihkan waktu. Ini bagaikan embun yang jatuh di Unisma,’’ harapnya. 
 
 
Kontributor: Imam Kusnin Ahmad
Editor: Ibnu Nawawi
 

 
BNI Mobile