ANJANGSANA ISLAM NUSANTARA

Ngaji dengan Suasana Alam Asri di Pesantren Al-I’tishom Cianjur

Ngaji dengan Suasana Alam Asri di Pesantren Al-I’tishom Cianjur
Pondok Pesantren Al-I’tishom Choblong yang terletak di Kampung Pasirangin, Desa Tegallega, Kecamatan Warungkondang, Cianjur, Jawa Barat. (Foto: NU Online/Syakir NF)
Pondok Pesantren Al-I’tishom Choblong yang terletak di Kampung Pasirangin, Desa Tegallega, Kecamatan Warungkondang, Cianjur, Jawa Barat. (Foto: NU Online/Syakir NF)
Jakarta, NU Online
Pagi yang cerah dengan pemandangan hijau rerumputan dan pepohonan. Gunung Gede pun terlihat jelas dari pematang sawah. Belum lagi semilir angin yang membawakan kesejukan.

Pagi itu semakin nikmat manakala sarapan terhidang di pelataran rumah. Nasi lengkap dengan petai, ikan tongkol, ayam, dan cah kangkung, serta dua jenis sambal yang tersaji di atas daun pisang pun dilahap. Betul-betul makan ala santri.

Begitulah pengalaman para pengajar Fakultas Islam Nusantara (FIN) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) saat berkunjung ke Pondok Pesantren Al-I’tishom Choblong yang terletak di Kampung Pasirangin, Desa Tegallega, Kecamatan Warungkondang, Cianjur, Jawa Barat.

Suasana alam yang asri menjadi satu daya tarik tersendiri. Di tempat tersebut, para santri bisa dengan tenang mengaji, lepas dari ingar-bingar yang membuat hilangnya konsentrasi.

Pesantren ini didirikan oleh Abah H Badri dan putra-putranya pada akhir ’90-an, tepatnya pada 1 Syawal 1421 H. Seluruh putra dan menantunya merupakan alumni dari Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Tak ayal, pesantren salaf ini memiliki metode dan sistem pendidikan yang mirip dengan pesantren yang didirikan oleh Mbah KH Abdul Karim itu.

Usai sarapan, para pengajar FIN Unusia tak menyia-nyiakan waktu dengan berkunjung ke toko kitab Al-I’tishom. Saat berjalan menuju toko melewati ruang-ruang kelas, terdengar bait-bait nazam Alfiyah Ibnu Malik tengah dilantunkan oleh para santri. 

Selain kitab-kitab yang biasa dikaji di pesantren lainnya, toko tersebut juga menyediakan berbagai literatur karya ulama Sunda, baik berupa terjemahan atas kitab lain, ataupun karya para ulama Sunda tersendiri. Mengingat semua masyayikh di pesantren tersebut lulusan Lirboyo, tak aneh jika buku-buku karya para santri Lirboyo juga tersedia di tokoh kitab tersebut.

Para pengajar FIN Unusia tiba di pondok tersebut pada Senin (13/1) malam sekitar pukul 22.00 WIB setelah sowan ke Pondok Pesantren Sunanul Huda dan ziarah masyayikh Pondok Pesantren Al-Masthuriyah di Sukabumi pada sore hingga petang.

Pesantren Al-I’tishom menjadi destinasi menginap rombongan yang melaksanakan Anjangsana Pesantren di Tatar Sunda sebelum melanjutkan perjalanannya ke Bandung, tepatnya di Pesantren Sirnamiskin, Al-Ittifaq Ciwidey, dan Al-Istiqomah.

Sebelum beranjak ke Bandung, para pengajar FIN Unusia menyempatkan waktunya untuk berziarah ke makam Mama Sohih dan Mama Gentur yang letaknya tak jauh dari pesantren tersebut. Dua ulama tersebut merupakan guru dari para ajengan-ajengan yang ada di wilayah Priangan.

Ajengan Heri Romdloni, salah satu Pengasuh Pondok Pesantren Al-I’tishom, menikah dengan keturunan Mama Gentur. Dalam satu perbincangan dengan para pengajar FIN Unusia, ia meminta doa agar anaknya dapat meneruskan kiprah leluhurnya itu. Sementara itu, dewan pengasuh lainnya adalah KH Badruddin Ilham. Menantu Abah H Badri itu berasal dari Mlangi, Yogyakarta.

Pewarta: Syakir NF
Editor: Fathoni Ahmad
BNI Mobile