Kiai Kafabihi Ingatkan Alumni Pesantren untuk Berkhidmah di NU

Kiai Kafabihi Ingatkan Alumni Pesantren untuk Berkhidmah di NU
Reuni Akbar ke-6 dan Munas 4 Himpunan Santri Lirboyo (Himasal), serta Munas 1 Lembaga Ittihadul Muballighin di Pondok Pesantren Al Hikmah, Bandarlampung. (Foto: NU Online/Faizin)
Reuni Akbar ke-6 dan Munas 4 Himpunan Santri Lirboyo (Himasal), serta Munas 1 Lembaga Ittihadul Muballighin di Pondok Pesantren Al Hikmah, Bandarlampung. (Foto: NU Online/Faizin)
Bandarlampung, NU Online
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdullah Kafabihi Mahrus mengingatkan para alumni pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur untuk berkhidmah di Nahdlatul Ulama. Ia mengutip pesan Khadratus Syeikh KH Hasyim Asy'ari yang sangat masyhur yakni "Siapa yang mengurus NU, saya anggap santriku, siapa yang menjadi santriku saya doakan husnul khatimah beserta keluarganya".
 
Hal ini disampaikan Pengasuh Pesantren Lirboyo saat Turba dan Silaturrahim Masyayikh Pondok Pesantren Lirboyo dalam rangka Reuni Akbar ke-6 dan Munas 4 Himpunan Santri Lirboyo (Himasal), serta Munas 1 Lembaga Ittihadul Muballighin di Pondok Pesantren Al Hikmah, Bandarlampung, Selasa (21/1) malam.
 
Kiai Kafabihi mengingatkan bahwa berkhidmah juga merupakan tarekat. Tarekat para santri di antaranya adalah dengan belajar, mengajar, dan berkhidmah. Tarekat dalam bentuk khidmah menurutnya lebih utama dari tarekat zikir. Pasalnya zikir lazim dirasakan oleh diri sendiri sedangkan berkhidmah bisa dirasakan orang lain. 
 
"Berkhidmah akan mendapat barakah dan bisa menjadi wasilah (jalan/perantara) masuk surga," katanya.
 
Pada acara bertema Meneguhkan Peran Santri dalam Meneguhkan NKRI ini, Kiai Kafabihi menegaskan juga bahwa jika Nahdlatul Ulama kuat maka Indonesia pun akan menjadi negara yang kuat.
 
"NU kuat negara aman. Karena NU setia pada Pancasila, NKRI, Bhineka Tunggal Ika, dan UUD 1945. Kesetiaan ini juga dipegang teguh oleh pesantren," tegasnya.
 
Sehingga untuk melanjutkan komitmen ini, ia juga mengingatkan para alumni pesantren untuk mendidik putra-putrinya di pondok pesantren. Jangan sampai tradisi belajar di pesantren terputus sehingga anak-anaknya tidak ada yang melanjutkan jalan hidup orang tuanya.
 
Kiai Kafabihi mengungkapkan bahwa sistem pendidikan di pesantren sangat luar biasa. Pesantren sudah terbukti mampu menghasilkan sosok individu yang mengedepankan akhlakul karimah dan memiliki jiwa yang lembut. 
 
Sejarah menunjukkan bahwa dalam mendidik para generasi penerus, ulama Indonesia lebih sukses dari ulama luar negeri. Sistem pendidikan yang menggunakan cara ngaji kitab kuning dengan istilah "utawi iki iku" bisa berhasil dan hanya ada di Indonesia.
 
"Jangan ragu memondokkan anak di pesantren. Silakan coraknya apa saja yang penting ada salafnya karena terbukti mampu menjadikan santri terampil membaca kitab," anjurnya.
 
Selain ilmu agama yang bisa diraih, lebih dari itu, pendidikan pesantren juga akan mendatangkan keberkahan karena proses belajarnya diikuti dengan berbagai macam riyadloh (usaha) seperti tirakat, puasa, dan sebagainya.
 
"Orang yang sukses awalnya masaqot (penuh kesusahan). Menuju sukses harus susah dulu. Belajar yang diriyadlohi akan berbeda hasilnya dengan yang tak ada riyadlohnya," katanya.
 
Kehadiran Kiai Kafabihi ke Lampung juga untuk menyaksikan pelantikan Pengurus Himasal Lampung yang diketuai oleh KH Basyaruddin Maisir. Hadir pada acara tersebut Wakil Gubernur Lampung Hj Chusnunia, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung KH Khairuddin Tahmid, Wakil Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung KH Sholeh Bajuri, dan tokoh-tokoh NU Lampung.
 
Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Syamsul Arifin
BNI Mobile