Refleksi Bencana: Konsolidasi Banom dan Lembaga NU Perlu Terus Dilakukan

Refleksi Bencana: Konsolidasi Banom dan Lembaga NU Perlu Terus Dilakukan
Anggota Banser Lebak membantu warga menyeberangi kali yang jembatannya rusak. (Foto: NU Online)
Anggota Banser Lebak membantu warga menyeberangi kali yang jembatannya rusak. (Foto: NU Online)
Jakarta, NU Online
Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Muhammad Ali Yusuf mengatakan keluarga besar NU melalui NU Peduli bekerja sama secara masif membantu warga yang terdampak bencana di awal tahun 2020. Gerakan itu dilakukan mulai dari pemetaan hingga distribusi bantuan ke berbagai wilayah. 

Ia menjelaskan, masalah bencana alam seperti banjir dan longsor tidak bisa hanya ditangani oleh penanganan dasar seperti memberikan bantuan kepada korban bencana. Harus ada kemauan dari berbagai pihak agar bencana alam terutama banjir dan longsor tidak kembali melanda wilayah Indonesia. 

“Sebenarnya kita habis energi dan biaya yang sangat besar. Kalau kita hanya menunggu kejadian itu muncul, terus baru kita bergerak, akan habis energi. Harus ada solusi yang nyata, misalnya di Jepang membangun tangki-tangki berukuran raksasa yang tersembunyi 22 meter di bawah tanah. Nah Indonesia itu solusi nyatanya apa? Semua harus mulai memikirkan ini,” kata Muhammad Ali Yusuf di Jakarta, Rabu (23/1) siang. 

Dia menambahkan, melihat keadaan Indonesia yang masih rentan terkena bencana alam, NU bergerak cepat di bidang kebencanaan dan kemanusiaan. Misalnya, terjun langsung ke lokasi bencana sesaat setelah banjir dan longsor terjadi, mengevakuasi korban, membersihkan rumah-rumah warga dan menyalurkan bantuan logistik serta kebutuhan lain untuk masyarakat. 

Potensi yang dimiliki NU sendiri, lanjutnya, sangat mumpuni sehingga cukup memperkuat potensi banom dan lembaga NU yang ada. 

“Bukan hanya NU, di pemerintah pun tantangannya sama, bagaimana ego sektor itu masih ada. Bahwa kementerian A dengan Kementerian B jalan sendiri-sendiri. Yang penting nama lembaganya muncul, bukan nama pemerintahnya atau negaranya,” tuturnya. 

Ali merasa prihatin atas berbagai kondisi korban banjir dan longsor seperti di Lebak, Banten dan Bogor, Jawa Barat. Mereka kehilangan harta berharganya termasuk tempat tinggal dan sanak keluarganya. Karenanya, harus ada kemauan yang kuat dari seluruh pihak untuk mencari jalan keluar atas masalah-masalah tersebut. 

“Yang kita perlukan bukan satu dua kali saja, tetapi bagaimana agar mereka (korban banjir dan longsor) pulih kembali. Terutama korban longsor, mereka itu luar biasa, kuat sekali padahal rumah dan ada sanak keluarganya yang hilang. Dan hari yang mereka butuhkan bukan makanan dan minuman tetapi masa depan,” ucapnya. 

Kontributor: Abdul Rahman Ahdori
Editor: Abdullah Alawi
 
BNI Mobile