Buku 'Menjerat Gus Dur' Ungkap Bagaimana Gus Dur Dijatuhkan Oligarki Politik

Buku 'Menjerat Gus Dur' Ungkap Bagaimana Gus Dur Dijatuhkan Oligarki Politik
Ketua PBNU H Robikin Emhas (tengah) saat menjadi salah satu pembicara bedah buku "Menjerat Gus Dur" di UNJ (Foto: NU Online/Husni Sahal)
Ketua PBNU H Robikin Emhas (tengah) saat menjadi salah satu pembicara bedah buku "Menjerat Gus Dur" di UNJ (Foto: NU Online/Husni Sahal)
Jakarta, NU Online
Bagi aktivis yang mengikuti proses naiknya Gus Dur menjadi presiden hingga dijatuhkannya, buku 'Menjerat Gus Dur' yang ditulis Virdika Rizky Utama merupakan konfirmasi atas peristiwa bersejarah itu. Namun, bagi generasi yang lahir belakangan dan tidak mengetahui langsung peristiwa tersebut, buku Virdi ini menjadi sumber penting yang harus dibaca.

Hal itu mengemuka pada acara yang diselenggarakan Prodi Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta di Aula Gedung Bung Hatta, Universitas Negeri Jakarta, Jakarta Timur, Rabu (22/1).

Ketua PBNU H Robikin Emhas yang menjadi pembahas pada forum tersebut menyatakan bahwa membaca buku Virdi dirinya dikembalikan kepada masa lalu pada tahun 1990 hingga 2000-an, sehingga menurutnya, isi buku tersebut hanya mengkonfirmasi apa yang diketahui dan dirasakannya.

"Saya kira kalau Mas Savic (Direktur NU Online), saya dan  temen-temen lain yang sudah aktivis, kisah ini bukan kisah yang baru. Kami bagian dari era reformasi karena itu buku Virdi ini hanya mengkonfirmasi apa yang kami ketahui, apa yang kami rasakan," kata Robikin.

Pria yang kini menjabat sebagai Stafsus Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin ini sangat mengapresiasi buku karya pria berambut gondrong itu. Menurutnya, sekali pun dokumen yang menjadi basis buku tersebut berasal dari tumpukan sampah, namun isi bukunya jauh dari sampah.

Sebab, melalui buku dengan tebal 376 halaman ini, pembaca mendapatkan informasi yang memadai dan tidak menjadikan peristiwa Bruneigate dan Buloggate sebagai satu-satunya sumber bacaan tentang bagaimana Gus Dur dijatuhkan.

"Publik (selain aktivis yang mengikuti era Gus Dur menjadi presiden) selama ini hanya punya pemahaman (bahwa Gus Dur jatuh karena kasus Bruneigate dan Buloggate), tapi dengan hadirnya buku ini, saya kira, orang bisa punya pandangan lain bahwa 'oh ternyata jatuhnya Gus Dur bukan karena kasus Bruneigate dan Bullogate, tapi karena skenario politik kekuatan-kekuatan oligarki tertentu," terangnya.

Sementara pembahas lainnya, Direktur NU Online yang juga Aktivis 1998 Savic Ali, menyatakan bahwa buku yang diterbitkan PT NUmedia Digital Indonesia akan menjadi buku yang paling berpengaruh, terutama bagi kalangan pro demokrasi dan generasi muda NU yang tidak mengetahui peristiwa penjatuhan Gus Dur.

"Saya ketemu dengan anak-anak muda NU dan mereka terkejut. 'Dulu itu begini, ya Mas'. Mereka gak tahu. Mereka cuma tahu hanya Gus Dur jatuh dan ketika Gus Dur jatuh yang diinget bahwa dulu Gus Dur punya kasus Bruneigate dan Buloggate. Itu jelas sebuah image yang buruk, tidak pernah terjelaskan, tapi dengan buku ini puluhan ribu generasi NU saya kira sudah tau," kata Savic.

Savic mengatakan, buku yang ditulis Virdi ini menjadi bacaan penting bagi generasi muda NU karena menjelaskan momentum sejarah politik Indonesia yang susah untuk dilupakan. 

"Buku ini adalah bagian dari momentum alat untuk membuat generasi kami paham bagaiamana Gus Dur dilengserkan. Jangan sampai apa yang terjadi pada generasi marhaen yang tidak banyak tahu bagaimana Bung Karno disingkirkan itu terjadi pada generasi NU sampai mereka tidak tahu bagaimana Gus Dur dilengserkan," terang pria berkacamata ini.

Pewarta: Husni Sahal
Editor: Abdullah Alawi
 
BNI Mobile