Tujuh Program untuk Memakmurkan Masjid 

Tujuh Program untuk Memakmurkan Masjid 
KH Sholeh Qosim (kiri) menyampaikan materi di hadapan takmir masjid di kawasan Sidoarjo. (Foto: NU Online/Sutrisno)
KH Sholeh Qosim (kiri) menyampaikan materi di hadapan takmir masjid di kawasan Sidoarjo. (Foto: NU Online/Sutrisno)
Sidoarjo, NU Online
Masjid tidak semata tempat ibadah, namun dapat pula digerakkan untuk pemberdayaan. Hanya saja tidak banyak pengurus yang memiliki kemampuan dan pengetahuan terkait hal ini.
 
Karena itu, dalam rangka penguatan kelembagaan , Takmir Masjid Ibrahim Babus Salam Desa Keper Kecamatan Krembung Sidoarjo, Jawa Timur mengundang KH M Sholeh Qosim untuk belajar bersama tentang strategi memakmurkan masjid, Selasa (21/1).
 
Dalam paparannya KH Sholeh Qosim telah memulai dengan sejarah Masjid diera Nabi Muhammad hingga para wali di Nusantara dalam membangun peradaban. 
 
Wakil Ketua Pengurus Pusat (PP) Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) tersebut menjelaskan bahwa takmir masjid harus memahami karakter jamaah dan mengerti tentang fungsi masjid yang sebenarnya. Karena dasar kepemimpinan pengurus  takmir masjid adalah pengemban amanah dan partisipasi, bukan semata berkuasa.  
 
"Kriteria pemimpin masjid atau takmir harus mempunyai kemampuan di antaranya dalam masalah agama akidah harus jelas dan kuat. Kemudian juga menjadi panutan masyarakat atau uswatun hasanah), dapat mempersatukan umat yakni pengayom, menghidupkan semangat musyawarah dan dapat memberdayakan potensi jamaah atau kreatif,” jelas Pengurus Pusat Jam'iyyatul Qurra' wal Huffazh (JQH) tersebut.  
 
Penulis buku Tuntunan Shalat Sempurna seperti Rasulullah SAW ini juga menguraikan tentang tujuh aksi program memakmurkan masjid sesuai dengan doa selamat. Di antaranya salamatan fiddin atau sebagai tempat gerakan pemeliharaan aqidah umat Islam Ahlu sunnah wal Jama’ah sesuai dengan sunnah Rasulullah.  
 
"Hal nyata yang bisa kita lakukan adalah shalat berjamaah dan mendata jamaah, mempersatukan mereka, mengadakan pelatihan imam dan khatib, pengajian Al-Quran, sertifikat masjid, data based masjid, dan sebagainya," jelas KH Sholeh Qosim.
 
Sedangkan aksi yang kedua adalah waafiatan filjasadi atau sebagai tempat gerakan pelayanan kesehatan umat. 
 
“Aksi nyata yang bisa dilakukan antara lain kerja sama dengan dinas kesehatan atau Puskemas, mendirikan rumah sehat dan menyelenggarakan gerakan kebersihan masjid dan lingkungan sekitar,” urainya. 
 
Yang ketiga adalah waziyadatan fil ilmi atau masjid sebagai tempat gerakan peningkatan SDM jamaah masjid di bidang keilmuan dan keterampilan. 
 
"Artinya yang bisa takmir lakukan antara lain adalah pelatihan kaderisasi dan kepemimpinan remas, menyelenggarakan bimbingan belajar pura putri jamaah masjid untuk keterampilan belajar,” terang Katib PCNU Sidoarjo tersebut.
 
Hal keempat adalah wabarakatan fir rizqi yaitu sebagai pusat gerakan pemberdayaan ekonomi umat. Dan hal tersebut dapat dilkakukan membuat lembaga atau wadah seperti LAZISNU, UPZIS, JPZIS, GISMAS dan juga membangun kewirausahaan masjid. 
 
“Kelima adalah wataubatan qablal maut atau sebagai pusat gerakan dakwah mengajak dan menyadarkan orang Islam yang belum menjalankan syariat dan dakwah sebagai tempat kembali kepada Allah SWT,” jelasnya.
 
Praktik keenam adalah sesuai lafadz warahmatan indal maut dalam artian masjid sebagai pusat gerakan kepedualian sosial.
 
"Contohnya menjenguk dan mengantar jamaah yang sakit, pelatihan pemulasaran jenazah, menyediakan kain kafan, membimbing orang yg sakaratul maut, menolong orang yang terkena bencana, dan sejenisnya," paparnya. 
 
Sedangkan terakhir adalah wamaghfiratan bakdal maut.
 
“Artinya masjid sebagai tempat berdoa dan mendoakan orang yang telah wafat. Aksi nyata antara lain berupa talqin mayit, tahlil dan yasinan, ratiban dhibaan, istighotsah dan lailatul ijtima,” pungkasnya. 
 
 
Kontributor: Sutrisno
Editor: Ibnu Nawawi
 
BNI Mobile