Fatayat NU Siapkan Kader Pelatih Andal dan Multi Talenta

Fatayat NU Siapkan Kader Pelatih Andal dan Multi Talenta
Sekretaris I PP Fatayat NU, Khizanaturrohmah, menjadi narasumber pelatihan kader pelatih Fatayat di Gedung PCNU Jepara, Jumat (24/1). (Foto: istimewa)
Sekretaris I PP Fatayat NU, Khizanaturrohmah, menjadi narasumber pelatihan kader pelatih Fatayat di Gedung PCNU Jepara, Jumat (24/1). (Foto: istimewa)
Jepara, NU Online
Dalam rangka menyiapkan kader untuk menghadapi 35 tahun mendatang, penguatan kader sangat dibutuhkan. Agar tercipta kader multi talenta yang siap menjawab tantangan zaman. Sebab, di era teknologi saat ini butuh berbagai kecerdasan teknologi, emosional, spiritual, dan lain sebagainya.

Sekretaris I Pimpinan Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama (PP Fatayat NU), Khizanaturrohmah, mengatakan hal tersebut saat menjadi narasumber dalam acara Training of Trainers (ToT) atau Pelatihan Kader Pelatih Fatayat NU se-eks Karesidenan Pati, Jawa Tengah.

“ToT ini diharapkan dapat memupuk kemampuan dasar pribadi yang dimiliki setiap kader secara komprehensif dan tidak parsial,” kata dia di hadapan ratusan kader Fatayat di Gedung PCNU Jepara, Jumat (24/1).

Mbak Khiz, sapaan akrabnya, menyambut positif penyelenggaraan ToT yang Kota Ukir ini. Sebab, kegiatan ToT bertujuan untuk penguatan kapasitas kader, mengingat pada kegiatan Latihan Kader Dasar (LKD) dan Latihan Kader Lanjut (LKL) memiliki keterbatasan pada para trainers.

“Oleh karena itu, ToT merupakan salah satu usaha menyiapkan para trainers yang handal,” ujar mantan Ketua PW Fatayat NU Jateng ini kepada NU Online usai mengisi materi Ke-Aswaja-an.

Secara khusus, ia menaruh harapan besar agar setelah kegiatan ToT muncul para pelatih berkualitas yang nantinya akan lebih banyak menerapkan metode praktek. “Misalnya, bagaimana cara mendesain pelatihan, dan lain sebagainya sehingga menjadi trainer yang profesional,” paparnya.

Menurut Mbak Khiz, kegiatan ToT sangat penting karena menjadi kebutuhan yang sangat mendasar. Jika kegiatan ini tidak diadakan, maka tidak akan ada pengkaderan. “Sehingga ketika tidak ada pengkaderan maka yang terjadi adalah keterbatasan pada kuantitas trainers yang ada,” terangnya.

Perempuan kelahiran Pekalongan, 15 Februari 1970 ini menambahkan, perlu sekali menjadi seorang pelatih profesional dengan manajemen emosi yang baik, tidak anti kritik, dan tidak mudah marah.

“Trainer yang profesional adalah trainer yang dapat mengontrol emosinya dengan baik, tidak takut dikritik, dan tidak gampang marah,” tutur Mbak Khiz serasa senyum sumringah.
 
Kontributor: Afina Izzati
Editor: Musthofa Asrori

 
BNI Mobile