Ratusan Warga NU Lamongan Hadiri Bedah Buku 'Menjerat Gus Dur'

Virdika Rizky Utama (tengah) saat menjadi pembicara di bedah bukunya, Menjerat Gus Dur di Lamongan (Foto: NU Online)
Virdika Rizky Utama (tengah) saat menjadi pembicara di bedah bukunya, Menjerat Gus Dur di Lamongan (Foto: NU Online)
Virdika Rizky Utama (tengah) saat menjadi pembicara di bedah bukunya, Menjerat Gus Dur di Lamongan (Foto: NU Online)
Lamongan, NU Online
Sekitar 400 warga NU Lamongan, Jawa Timur menghadiri acara bedah buku ‘Menjerat Gus Dur’ di gedung Budi Luhur Convention Hall Jumat (24/01). Acara yang digelar oleh Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum NU (LPBHNU) Lamongan bersama Ansor, Fatayat, PMII, IPNU dan IPPNU dihadiri penulis buku, Virdika Rizky Utama.

Ketua LPBHNU Lamongan Nihrul Bahi Alhaidar, dalam sambutannya, mengatakan bahwa buku menjerat Gus Dur merupakan salah satu temuan menarik tentang penjatuhan Presiden keempat RI, KH Abdurraman atau Gus Dur. "Fakta sejarah ini telah terungkap. Kedatangan Penulis di Lamongan akan menjelaskan semuanya fakta sejarah waktu itu,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, panitia juga menghadirkan Pengurus Wilayah LPBHNU Jawa Timur Mochammad Ilham Mu'ari sebagai pembanding untuk menjelaskan kasus pelengseran Gus Dur yang menurutnya terbukti dilakukan secara inkonstitusional.

Buku 'Menjerat Gus Dur' ini sendiri mendapat respons yang tinggi dari masyarakat, terutama kalangan Nahdliyin. Menurut pengakuan moderator, Ahmad Rozali, buku ini telah dicetak ketiga kalinya dengan total percetakan sebesar 25 ribu eksemplar. Di samping itu, hingga saat ini telah ada sekitar 30 titik bedah buku yang telah terdaftar di Jawa, Bali dan Madura. 

Tingginya respons akan buku ini tak lain karena sang penulis berhasil mengungkap skenario penggulingan Gus Dur dari kursi kepresidenan yang dilakukan oleh sejumlah tokoh politik yang diduga berperan dalam skenario tersebut.

Dalam kesempatan diskusi ini, penulis buku, Virdika mengatakan, buku tersebut dibuat melalui proses yang cukup panjang yang berawal dari ketidaksengajaan menemukan dokumen yang ternyata sangat penting dan rahasia.

"Sekitar 2,5 tahun yang lalu, saat saya lagi liputan Setya Novanto, saya lihat ada petugas kebersihan lagi mau buang dokumen, terus saya lihat dan saya minta ternyata dikasih," katanya.

Setelah mendapatkan dokumen tersebut, Virdika kemudian melakukan kajian pustaka dan uji narasumber untuk memvalidasi data yang terdapat pada dokumen tersebut. "Prosesnya benar-benar panjang. Saya juga riset dari koran-koran tahun kejadian untuk mengutip dan memastikan lagi," katanya.

Virdika juga mengaku mendapatkan ancaman dari sejumlah pihak, yang salah satunya terjadi pada Januari 2018. "Ada beberapa orang yang datang ke rumah siang-siang, padahal kalau siang saya gak ada di rumah, lagi kerja. Orang itu nanyain dokumen ke orang rumah saya, mungkin itu jadi sebuah ancaman buat nakut-nakutin keluarga saya," kata dia.

Sementara itu, pembanding Ilham Mu’ari mengatakan bahwa pelengseran Gus Dur dari kursi presiden bukan tindakan yang konstitusional. "Salah satu peristiwa kontroversial dari Gus Dur ialah ketika ia dilengserkan pada 23 Juli 2001 melalui sidang istimewa MPR. Terkait hal itu, ada begitu banyak spekulasi. Sebenarnya dasar pelengseran Inkonstitusional, sebab lebih pada kepentingan politik bukan pada dasar hukumnya," kata Ilham Muari.

Acara itu sendiri berhasil mengundang antusiasme warga Lamongan. Hal itu tidak hanya terlihat dari jumlah peserta yang hadir, namun juga dari tingginya minat peserta untuk memberi tanggapan saat sesi tanya jawab berlangsung.

Editor: Abdullah Alawi
 
BNI Mobile