Gerakan Koin Muktamar NU Maanfaatkan Kecanggihan Teknologi

Gerakan Koin Muktamar NU Maanfaatkan Kecanggihan Teknologi
Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini saat menyosialisasikan gerakan Koin Muktamar. (Foto: istimewa)
Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini saat menyosialisasikan gerakan Koin Muktamar. (Foto: istimewa)
Mataram, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah menetapkan penyelenggaraan Muktamar ke 34 dilaksanakan di Provinsi Lampung pada 5-10 Rabiul Awwal 1442 Hijriah atau tanggal 22-27 Oktober 2020. Muktamar kali ini berbarengan dengan momen Hari Santri.
 
Persiapan Muktamar sendiri sejak beberapa bulan yang lalu sudah dilakukan, termasuk perencanaan pembiayaan yang diharapkan berasal dari gerakan Koin Muktamar.

PBNU menginginkan muktamar kali ini pembiayaannya dari NU, oleh NU, dan untuk NU. Maka, melalui gerakan Koin Muktamar seluruh Nahdliyin di seluruh penjuru dunia diharapkan mampu membangun kemandirian untuk agenda lima tahunan NU itu.  

Sekretaris Jendral PBNU Helmy Faishal Zaini menuturkan, Koin Muktamar yang digerakan oleh NU Care-LAZISNU tidak lagi manual, seluruh penghimpunan memanfaatkan kecanggihan teknologi.
 
Kini, penggalangan dana untuk Muktamar menggunakan aplikasi daring NU Cash, dan situs nucare.id. Hal itu, lanjut dia, mengingat kondisi perbankan Indonesia yang hampir 90 persen transaksi keungan beralih ke transaksi digital.

“Semuanya serba digital. Maknya kita juga harus beradaptasi. Dalam waktu dekat NU akan menyelenggarakan hajatan besar yakni Munas dan Konbes di Sarang. Satu lagi Muktamar di Lampung, oleh karena itu saya atas nama Sekjen PBNU berharap pengurus dan warga NU di NTB ikut serta mensukseskan gerakan Koin Mukatamar NU untuk menunjukan kekompakan dan kemandirian NU,” kata H Helmy Faisal Zaini saat melakukan kunjungannya ke Kantor PWNU Nusa Tenggara Barat, di Mataram, NTB, Jumat (24/1) lalu. 

Ia menjelaskan, Koin Muktamar yang digerakkan oleh NU Care-LAZISNU hasilnya memuaskan. Saat ini sudah terkumpul Rp200 miliar sebagai perolehan dana ZIS dalam kurun waktu setahun.  Itu, kata dia, menunjukkan potensi jamaah dan jamiyah NU yang sangat besar. 

“Apabila digali lebih jauh maka akan menjadikan NU menjadi organisasi yang terbesar dan mandiri,” tuturnya. 

“Mindset dakwah kita hari ini harus kita rubah, anak-anak millenial jika menemukan persoalan yang membutuhkan jawaban agama maka yang pertama kali yang didatangi bukan kiai atau tuan guru akan tetapi google, youtube, facebook, instagram twitter dan lainnya. Oleh karena itu kita harus mengisi Medsos dengan konten ceramah yang membuat adem, ceramah keislaman yang rahmatan lil 'alamin,” ujarnya menambahkan. 

Pewarta: Abdul Rahman Ahdori
Editor: Fathoni Ahmad
BNI Mobile