Melihat Virus Corona dari Dalam China

Melihat Virus Corona dari Dalam China
Atas wabah radang paru–paru Wuhan, warga China bahu-membahu layaknya warga sebuah negara yang sedang dirundung bencana. (Foto ilustrasi: WHO)
Atas wabah radang paru–paru Wuhan, warga China bahu-membahu layaknya warga sebuah negara yang sedang dirundung bencana. (Foto ilustrasi: WHO)

Hari-hari ini dunia membelalakkan mata ke arah Republik Rakyat Tiongkok seiring berkecamuknya wabah radang paru-paru (pneumonia) tak-biasa dari Wuhan. Banjir informasi pun mengalir deras lewat aneka media elektronik dan media sosial, dengan hoaks, propaganda dan kejadian sesungguhnya saling tercampur-baur. Di tengah kebingungan dan kepanikan, peristiwa ini juga dimanfaatkan sebaik mungkin oleh para pihak berkepentingan yang mempunyai agendanya sendiri-sendiri dengan satu maksud bersama guna menjatuhkan reputasi Republik Rakyat Tiongkok.

 

Sebagai orang Indonesia dan warga Nahdliyin yang sedang menjalankan tugas belajar di Kota Xi’an, perkenankan saya menyampaikan situasi di sini. Berdasarkan apa yang saya lihat, saya dengar dan yang saya rasakan. Kota Xi’an di Provinsi Shaanxi hanya berjarak 650 kilometer dari kota Wuhan di Propinsi Hubei, kota yang menjadi episentrum wabah radang paru-paru itu.

 

Berdasarkan penjelasan first affiliation hospital Xi’an Jiaotong University yang dibagikan kepada seluruh mahasiswa secara elektronik per 18 Januari 2020, radang paru-paru tak-biasa dari Wuhan disebabkan oleh novel coronavirus yang dinamakan 2019–nCoV atau disebut coronavirus Wuhan. Disebut novel coronavirus karena merupakan virus corona atau coronavirus yang baru diketahui atau dikenali manusia. Sebelum 2020 manusia belum mengenal coronavirus yang satu ini, meski mungkin ia sudah ada dan beranak-pinak dengan damai di muka bumi dalam ribuan tahun terakhir tanpa bersinggungan dengan manusia.

 

Jika dilihat melalui instrumen yang tepat, coronavirus akan menampakkan diri sebagai gumpalan mirip bola yang permukaannya ditumbuhi rambut-rambut. Mirip buah rambutan. Atau perbandingan yang lebih pas, mirip dengan wajah matahari pada saat puncak gerhana matahari total dalam ilmu falak. Rambut-rambut itu merupakan korona yang memiliki arti mahkota, sehingga virus mendapatkan namanya sebagai coronavirus. Informasi coronavirus Wuhan mulai tersalurkan kepada mahasiswa di Xi’an pada awal tahun 2020, tepat pada saat pergantian tahun 2019 ke 2020. Dan benar adanya seperti yang diberitakan bahwa coronavirus ini memang menjangkit dan menular begitu cepat. Kecepatan itu membuat takut banyak pihak.

 

Di samping informasi dari otoritas yang berwenang di sini, mahasiswa khususnya asal Indonesia juga banyak menerima aneka informasi dari tanah air. Dengan kadar akurasi yang tidak jelas seperti banyak termuat di aneka media sosial. Misalnya isu tentang orang China yang gemar menyantap makanan-makanan ekstrem seperti daging anjing, kucing, kelelawar dan sebagainya. Daging dari hewan-hewan yang dianggap tidak lazim dikonsumsi sehingga coronavirus ini disebabkan oleh hal itu. Lantas isu yang tak kalah seram, tentang coronavirus Wuhan sebagai agen senjata biologi yang bocor dari salah satu laboratorium rahasia di dekat kota. Ada juga isu bahwa coronavirus Wuhan adalah azab bagi pemerintah Tiongkok terkait perilaku kontemporer mereka, dan seterusnya.

 

Sebagai orang yang sedang belajar di daratan China, saya cukup shock atas aneka informasi yang menyebar dan cukup meresahkan itu. Jarak antara Xi’an dan Wuhan setara dengan jarak antara Jakarta dan Surabaya di Indonesia, jadi ya cukup dekat secara geografis dan terasa menakutkan.

 

Tapi apa yang saya lihat dan rasakan selama kurang setahun tinggal di tengah-tengah warga Xi’an, tidak semua prasangka itu terbukti. Misalnya, tidak semua orang China gemar mengonsumsi makanan ekstrem seperti daging anjing, kucing, kelelawar dan sebagainya. Teori makanan ekstrem sebagai penyebab penularan coronavirus Wuhan pun bisa diperdebatkan. Karena di Indonesia ada juga lho pangsa pasar daging ekstrem seperti kalong, kelelawar, reptilia dan sebagainya. Paling menonjol di Sulawesi, meski banyak juga dijumpai di tempat-tempat lain termasuk Jawa. Dan sejauh ini tak dijumpai kejadian penularan coronavirus di Indonesia. Bahkan pada negara semaju Jepang pun terdapat kultur makanan ekstrem seperti ikan Fugu, ikan paling beracun di dunia. Namun daging Fugu justru menjadi salah satu makanan favorit orang Jepang.

 

Teori coronavirus Wuhan sebagai senjata biologis yang sengaja dilepas juga memiliki masalah. Sebab hingga 26 Januari 2020 dari 80 orang korban meninggal akibat penyakit ini ternyata seluruhnya beretnis Han. Kota Wuhan sendiri berada di tengah-tengah komunitas Hebei, bagian dari etnis Han. Etnis Han adalah etnis utama di negeri China, 9 dari 10 orang China beretnis Han. Jika coronavirus itu senjata biologi yang sengaja dilepas, sanggupkah Republik Rakyat Tiongkok

membunuhi etnis utamanya sendiri?

 

Teori coronavirus Wuhan sebagai senjata biologi yang bocor akibat kecelakaan laboratorium, juga mengandung masalah. Di dekat Kota Wuhan memang ada laboratorium BSL–4 (bioasafety level–4). Tidak logis bila suatu laboratorium kelas militer pengelola program senjata pemusnah massal seperti senjata biologi ditempatkan dekat sebuah kota besar seperti kota Wuhan. Apalagi berada di lembah sungai utama China, sungai Yangtze. Bila terjadi kebocoran dan agen senjata biologinya dapat terlarut dalam air, salah-salah seluruh lembah Yangtze dari Wuhan hingga Nanjing dan Shanghai akan tercemari bakteri atau virus. Dalam tradisi militer manapun, laboratorium terkait senjata pemusnah massal selalu ditempatkan di kawasan terpencil yang tak berpenghuni. Misalnya dalam laboratorium senjata nuklir, Republik Rakyat Tiongkok menempatkannya jauh di Lop Nur, di tengah–tengah gurun pasir Taklamakan–Kumtag yang termasuk wilayah China barat laut.

 

Dan teori coronavirus Wuhan sebagai azab pun perlu dipertanyakan dan direnungkan. Akankah Allah SWT akan mengazab suatu kaum yang bertempat tinggal di suatu wilayah sementara pada wilayah itu masih banyak orang yang sedang menuntut ilmu di jalan–Nya dan juga masih banyak orang yang alim di dalamnya? Sebagai Muslim, saya bebas melaksanakan aktivitas ibadah tanpa mendapat hambatan di negara ini. Satu dari setiap 222 orang China adalah Muslim dan tersebar di setiap provinsi meski distribusinya belum merata.

 

Atas wabah radang paru–paru Wuhan yang sedang terjadi, respons warga China layaknya warga sebuah negara yang sedang dirundung bencana pada umumnya. Solidaritas dan bantuan domestik terus mengalir. Warga saling bahu–membahu menjadi relawan untuk memberikan bantuan ke kota Wuhan dan daerah sekitarnya serta saling menguatkan. Pada 24 Januari 2020 malam, tepat di tengah momen tahun baru China (Imlek), kota Xi’an memberangkatkan tim relawan ke kota Wuhan dan sekitarnya yang beranggotakan tenaga medis dan tentara. Meski infeksi masih terus terjadi dan terus meluas, terdapat kabar positif di mana dari ribuan orang yang terjangkiti wabah radang paru–paru ini terdapat 53 orang yang dinyatakan sudah sembuh total.

 

Sementara itu warga negara asing telah dan terus saling berdiskusi untuk memperbaharui informasi tentang proses yang dilakukan baik dari tingkat universitas hingga komunitas. Untuk warga Indonesia, pihak kedutaan besar (KBRI), konsul–konsul jenderal (KJRI) dan perhimpunan pelajar/mahasiswa (PPI) di seluruh Tiongkok sudah saling berkoordinasi. Pada pembaharuan terkini, ada himbauan yang dikeluarkan KBRI untuk segenap mahasiwa asal Indonesia yang berada di daratan China per 24 Januari 2020 yaitu :

  1. Jika memilih untuk pulang ke Indonesia, maka segeralah pulang sebelum akses di kampus diisolasi. Kepulangan tersebut harus berkoordinasi dengan pihak kampus.
  2. Jika memilih untuk tetap tinggal di daratan China, tetap menjaga diri dan kesehatan baik–baik serta lakukan usaha preventif seperti yang telah diberitahukan pihak pemerintah Tiongkok, kampus maupun KBRI sendiri.

 

Terkait mahasiswa asal Indonesia dan WNI lainnya yang sampai sekarang masih berada di kota Wuhan pada khususnya dan Provinsi Hebei pada umumnya dengan jumlah total 254 orang, KBRI dan KJRI sekarang sedang berfokus pada suplai logistik. Juga sedang diusahakan untuk membawa mereka keluar dari kota Wuhan dan Provinsi Hebei. Langkah serupa juga diambil negara–negara lainnya yang warganya ada di kota tersebut.

 

Respon saya awalnya biasa saja dalam melihat wabah radang paru–paru Wuhan. Tapi kemudian menjadi was–was melihat penyebarannya sangat cepat dan melihat upaya pemerintah setempat untuk melokalisir wabah dengan menghentikan akses transportasi umum di beberapa wilayah. Perasaan untuk pulang ke kampung halaman tentu ada. Tetapi pada saat ini perasaan itu sudah mulai hilang, seiring sudah munculnya informasi mulai pulihnya sejumlah korban yang terjangkiti wabah ini, seperti diberitakan CGTN.

 

Akankah wabah segera tertangani? Saya percaya wabah ini akan segera menemui titik terang. Saya sendiri memutuskan untuk tetap tinggal di Xi’an sampai saat ini. Selain menunggu informasi selanjutnya dari Pemerintah Tiongkok, juga mengantisipasi perkuliahan semester baru di kampus yang baru akan dimulai di minggu ketiga Februari. Dan meski terjadi wabah ini, belum ada aba–aba terkait perpanjangan masa libur semester. Faktor lain yang membuat saya tetap tinggal di daratan China adalah saya berangkat dari Indonesia dengan niat tholabul ‘ilmi dan pasti Allah SWT akan menunjukkan jalan–Nya.

Dan saya sampaikan kepada masyarakat khususnya di Indonesia, janganlah berasumsi terkait hal–hal yang belum benar faktanya. Lebih baik doakanlah kami yang sedang berjuang disini agar wabah radang paru–paru Wuhan segera teratasi. Atau mungkin bisa berbagi pengetahuan untuk mencari solusi atas obat untuk coronavirus ini, yang sedang dicari oleh pakar dan ilmuwan disini. Sekian dan terimakasih.

 

 

Penulis adalah kader IPNU & LFNU. Sedang belajar Master Program of Materials Science and Engineering Xi’an Jiaotong University

BNI Mobile