8 Tahun Berjalan, Suluk Maleman Bahas Tanda Kiamat hingga Fitnah yang Diperjualbelikan

8 Tahun Berjalan, Suluk Maleman Bahas Tanda Kiamat hingga Fitnah yang Diperjualbelikan
Suluk Maleman 'Mengintip Yang Akan Datang' Sabtu (25/1)
Suluk Maleman 'Mengintip Yang Akan Datang' Sabtu (25/1)
Pati, NU Online
Pagelaran Suluk Maleman pada Sabtu (25/1) hingga Ahad (26/1) kemarin terasa berbeda. Sejumlah tokoh besar seperti Presiden Jancukers Sujiwo Tedjo, Sayatri Wilonoyudho, Abdul Jalil, Budi Maryono, Eko Tunas hingga Direktur TV 9 Hakim Jalyli turut hadir sebagai narasumber pada Ngaji NgAllah yang tepat memasuki tahun kedelapan ini.

Acara yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia itu pun kembali membawa tema yang menarik, yakni Mengintip Yang Akan Datang. Meski sempat diwarnai hujan, ratusan hadirin tetap khusuk dalam mengikuti jalannya Suluk Maleman tersebut.

Abdul Jalil, salah satu narasumber menyebut di antara tanda kiamat disebutkan jika nantinya kebodohan akan semakin banyak dipertontonkan. Hal yang mengkhawatirkan, fitnah pun akan turut diperjualbelikan. 
 
"Kita lihat sekarang ini hampir semua dijualbelikan. Bahkan agama maupun sekolah," ujarnya.

Senada dengan Abdul Jalil, Anis Sholeh Baasyin pun meyakini sekarang ini fitnah cukup banyak tersebar. Masyarakat mulai dikacaukan pemahaman terkait benar dan salah. Semua itu banyak diperdagangkan.
 
"Perdagangan itu tak sebatas soal uang saja tapi juga bisa kekuasaan dan politik," terangnya.
 
Hakim Jalyli mengamini sekarang ini dalam dunia pertelevisian pun dihadapkan tantangan besar. Yakni persoalan rezim survei, rating, dan share. Sedangkan hasil selama ini selalu menempatkan sinetron sebagai enam besar pemegang rating paling tinggi.

Bahkan muncul teori prinsip media menjual audiens kepada para pengiklan. Cukup banyak pemikiran yang melihat TV hanya untuk mencari hiburan. Sementara hiburan yang dihadirkan hanyalah konten yang dapat melupakan masalah sementara. Ironisnya itu menjadi semacam candu.
 
"Sementara untuk pengajian sendiri ratingnya berada di tingkatan bawah. Tapi kami akan coba tetap istiqomah berjalan di jalan sunyi itu," terangnya.
 
Untuk menghadapi hal yang semacam itu, Anis mengingatkan bagaimana pentingnya kerohanian dalam kehidupan. Yakni dalam memperkuat kuda-kuda keimanan. Melihat sesuatu secara lebih detil juga akan menghindarkan termakan berita bohong maupun fitnah.
 
"Orang beragama outputnya selalu berbuat baik pada orang lain. Efeknya selalu ke sosial. Dengan keimanan kita akan digerakkan menuju sesuatu yang baik," tambahnya.
 
Budi Maryono yang juga menjadi narasumber mengingatkan jika sejatinya manusia tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi. Bahkan untuk satu menit kedepan. Meski begitu manusia tidak perlu khawatir lantaran diberi bekal untuk dapat selalu beradaptasi dengan keadaan.
 
"Yang terpenting, jangan terperdaya kemiskinan begitu pula jangan terperdaya kekayaan. Jangan pernah menjangkau sesuatu yang diluar jangkauan manusia," tambahnya.
 
Sementara itu Sujiwo Tedjo justru memberikan kritik nya terkait fenomena munculnya kerajaan-kerajaan baru. Baginya hal semacam itu justru tidak menjadi bahan candaan. Karena konsep seperti itu justru sekarang ini tak berbeda jauh dari demokrasi sekarang ini.
 
"Jika dilihat kalau kerajaan pemegang kekuasaannya selalu darah biru. Tapi dalam demokrasi selalu darah tajir (kaya). Jika di kerajaan ada kasta dalam dunia sekarang juga ada. Coba kalian beli tiket pesawat ekonomi pasti tidak akan bisa naik pesawat bisnis," terangnya.

Acara itu pun semakin hangat dengan tampilan musik-musik religi Sampak GusUran. Sujiwo Tedjo bahkan sempat berkolaborasi menyanyikan syairnya.
 
 
Editor: Kendi Setiawan
BNI Mobile