IMG-LOGO
Nasional

Sunda Empire dan Sejenisnya Dianggap Pengalihan Isu, Ini Kata Sosiolog Unusia


Rabu 29 Januari 2020 13:00 WIB
Bagikan:
Sunda Empire dan Sejenisnya Dianggap Pengalihan Isu, Ini Kata Sosiolog Unusia
Kelompok yang menamakan dirinya sebagai 'Kerajaan' Sunda Empire di Bandung, Jawa Barat. (Foto: Ayo Bandung)
Jakarta, NU Online
Baru-baru ini muncul King of The King atau Raja Diraja di Tangerang, Banten. Kerajaan tersebut mengklaim aset senilai Rp60.000 T yang berada di Union Bank Switzerland (UBS) adalah kekayaannya yang diwariskan dari Sukarno. Sebelumnya, muncul juga Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Jawa Tengah dan Sunda Empire di Bandung, Jawa Barat.

Kemunculan ‘kerajaan-kerajaan’ dadakan yang hampir bersamaan tersebut membuat publik beranggapan hal itu merupakan bagian dari pengalihan isu belaka. Sosiolog Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Ngatawi al-Zastrouw menyebut anggapan tersebut hanya asumsi yang masih membutuhkan penelusuran.

“Itu kan masih asumtif. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut,” katanya saat ditemui NU Online di Bogor, Jawa Barat, Selasa (28/1).

Pasalnya, ada kerajaan yang menarik dana kepada masyarakat yang sudah dilakukan sejak lama. “Bisa jadi itu ada momentum terus ada yang bandari kemudian. Bisa terjadi. Tetapi asumsi itu perlu dibuktikan secara formal dan material,” jelasnya.

Namun yang pasti, ia melihat tiga pola kemunculannya, yakni momentum untuk melakukan kapitalisasi simbolik, adanya keinginan untuk mewujudkan romantisme masa lalu, dan mencari sensasi belaka untuk popularitas.

Zastrouw menyampaikan bahwa pemerintah tidak perlu gugup menghadapi fenomena demikian. Jika pun hal tersebut melanggar hukum, maka harus ditindak sesuai dengan peraturan yang berlaku.

“Kalau memang melanggar hukum ya ditindak. Gak usah terlalu berlebihan. Proporsional saja,” kata akademisi yang menamatkan studi doktor sosiologinya di Universitas Indonesia itu.

Ia melihat sebetulnya baik jika dilihat dalam konsep revitalisasi tradisi. Namun, konsep tersebut disalahgunakan, sebagaimana fenomena revtalisasi agama yang disalahgunakan menjadi idiom politik sehingga melahirkan gerakan khilafah dan semacamnya.

“Padahal revitalisasi agama spiritnya tidak seperti itu. Kalau kita baca Hassan Hanafi kan tidak begitu. Spiritualisme agama sebagai kekuatan kritis, membangun etos, atau meningkatkan kreativitas,” pungkasnya.

Pewarta: Syakir NF
Editor: Fathoni Ahmad
Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG