Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download
HARLAH KE-94 NU

MUI Nilai NU Berkontribusi Penuh untuk Agama dan Negara

MUI Nilai NU Berkontribusi Penuh untuk Agama dan Negara
Sekjen MUI H Anwar Abbas (Foto: MUI) 
Sekjen MUI H Anwar Abbas (Foto: MUI) 
Jakarta, NU Online
Tepat pada Jumat (31/1) besok, organisasi sosial keagamaan terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama (NU) memperingati hari lahirnya yang ke-94 tahun. Panjatan doa dan harapan datang dari berbagai tokoh dan kalangan di negeri ini. Salah satunya dari Sekretaris Jendral Majlis Ulama Indonesia (MUI) periode 2015-2020, H Anwar Abbas. 

Menurut dia, Nahdlatul Ulama telah banyak berperan untuk bangsa Indonesia baik sebelum kemerdekaan maupun setelah kemerdekaan Indonesia. NU, menurut dia, berkontribusi penuh untuk agama dan negara. 
 
"NU adalah salah satu Ormas terbesar di Indonesia perannya di dalam mencapai kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan di negeri ini saya rasa sudah tak diragukan lagi," H Anwar Abbas ditemui di Kantor MUI Pusat di Jl Proklamasi no 51, Jakarta Pusat, Kamis (30/1) sore. 

Ia mengungkapkan, NU selalu dapat mengisi kemerdekaan dengan banyak mengabdikan diri untuk umat dan masyarakat Indonesia. Upaya NU agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar dilakukan dengan berbagai pendekatan. Karena itu ia berharap NU di masa yang akan datang lebih maju dan semakin banyak memberikan manfaat. 
 
 
"Dan. kita berharap mudah-mudahan kedepan, peran dan kontribusi NU dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta dalam hal kaitan dengan umat  semakin lebih baik lagi sehingga pikiran serta peran dari NU benar-benar dirasakan bukan hanya oleh umat islam tapi oleh komponen bangsa negara dan umat manusia di dunia," tuturnya.
 
Tokoh Muhammadiyah yang biasa disapa Buya Anwar ini menilai, banyak yang bisa kolaborasikan antara MUI dengan NU, diantaranya adalah penguatan ekonomi umat. Menurut dia, penguatan ekonomi umat oleh Ormas termasuk oleh NU perlu dikembangkan lagi.
 
Sebab sampai saat ini, ekonomi Indonesia masih dikuasai oleh kalangan elit, sementara masyarakat menengah kebawah sama sekali belum banyak terlibat secara penuh. Kedepan, MUI siap menjadi fasilitator agar ekonomi kerakyatan untuk masyarakat  diwujudkan dengan berbagai program yang terintegrasi antara NU dan MUI. 
 
"Kontribusi kita terutama dalam bidang ekonomi masih jauh dari panggang api masih jauh dengan apa yang kita harapkan. Karena sudah kita ketahui bersama, jumlah umat islam di negeri ini 90 persen nilai ekonomi yang ada di tangan kita di lapisan atas hanya sekitar sepuluh persen, saya sangat berharap NU dan ormasi Islam bisa bekerjasama dan bersinergi memacu diri agar ketertinggalan umat islam bisa kita kejar, sehingga yang kita harapkan negeri yang umat islam mayoritas, kontribusinya juga mayoritas," ujarnya.
 
Untuk diketahui, Nahdlatul Ulama berdiri pada 31 Januari 1926, latar belakang berdirinya organisasi ini didorong oleh minat para Kiai pemilik pesantren yang gigih untuk menciptakan kebebasan bermadzhab serta peduli terhadap pelestarian warisan peradaban di Arab Saudi yang saat itu akan dibuat asas tunggal yakni Madzhab Wahabi. 
 
Kalangan pesantren terpaksa membuat delegasi sendiri yang dinamai dengan Komite Hijaz, yang diketuai oleh KH Wahab Hasbullah untuk pergi ke Saudi Arabia.  Atas desakan kalangan pesantren yang terhimpun dalam Komite Hijaz tersebut serta tantangan dari segala penjuru umat Islam di dunia, Raja Ibnu Saud mengurungkan niatnya. 

Hasilnya, hingga saat ini di Mekah bebas dilaksanakan ibadah sesuai dengan madzhab mereka masing-masing. Itulah peran internasional kalangan pesantren pertama, yang berhasil memperjuangkan kebebasan bermadzhab dan berhasil menyelamatkan peninggalan sejarah serta peradaban yang sangat berharga.   
 
Berangkat dari komite dan berbagai organisasi yang bersifat embrional dan ad hoc, akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). NU pertama kali dipimpin oleh KH Hasyim Asy'ari sebagi Rais Akbar untuk menegaskan prinsip dasar organisasi ini.

Kontributor: Abdul Rahman Ahdori
Editor: Kendi Setiawan
BNI Mobile