Gus Iwan, Wujud Komitmen Ekonomi Arus Bawah

Gus Iwan, Wujud Komitmen Ekonomi Arus Bawah
Salah satu gerai Kopi Abah, perwujudan dari Gus Iwan (Foto: Istimewa)
Salah satu gerai Kopi Abah, perwujudan dari Gus Iwan (Foto: Istimewa)
Jakarta, NU Online
Arus Baru Ekonomi Indonesia (ARBEI) menjadi solusi untuk menjawab disparitas penguasaan ekonomi nasional. Pasalnya, ruh dari ARBEI adalah menguatkan yang lemah tanpa harus melemahkan yang kuat. 

Hal tersebut disampaikan Nur Rohman CEO dan Founder Gus Iwan, Ahad (2/2). Ia mengatakan saat ini ekonomi Indonesia masih mempunyai problem yang sangat besar yaitu ketimpangan penguasaan atas ekonomi.  Ekonomi Indonesia dikuasai sebagian besar pemerintah 50 persen, pengusaha swasta 40 persen, dan masyarakat hanya sepuluh persen. 

“Ini yang disebut oleh ketua umum PBNU KH Said Aqil Siroj dengan intoleran ekonomi. Keberpihakan kepada rakyat kecil di desa-desa yang notabenenya adalah petani masih sangat minim. Karena program pemerintah selalu berorientasi hanya out put tidak sampai out come, benefit apalagi impact,” ujarnya. 

Keberadaan dan keberpihakan ekonomi kerakyatan sampai hari ini juga masih kecil dan menyisakan masalah yang sangat besar. Ekonomi kerakyatan yang diwakili kelembagaan yang dimiliki masyarakat seperti koperasi dan BMT mempunyai porsi yang sangat kecil dan tidak seimbang dengan penguasa dan pengusaha besar. 

“Hal ini yang melatar belakangi lahirnya Gus Iwan (santri bagus, pinter ngaji dan usahawan) sebagai implementasi arus baru ekonomi Indonesia yang digagas oleh Wapres RI KH Ma’ruf Amin. Hadirnya Gus Iwan sebagai gerakan para santri untuk menjadi pengusaha menjadi momentum yang tepat untuk menjadi katalisator dalam mewujudkan keseimbangan dan kesejahteraan ekonomi Indonesia,” paparnya. 

Ia menambahkan, Gus Iwan sebagai gerakan santri usahawan menjadi sebuah gerakan yang menjadi fasilitator untuk akses modal, akses pasar, jaminan usaha, advokasi, pelatihan dan pendampingan bagi pengusaha yang baru mulai usaha dan yag akan mengembangkan usahanya. Selain sebagai fasilitator gerakan Gus Iwan juga menjadi brand program didalam semua sektor usaha yg salah satunya pada sektor kuliner seperti Kopi Abah. 

“Kopi Abah adalah brand usaha kopi yang digerakkan oleh para santri. Kopi Abah sebagai inspirasi brand kopi yang lahir dari santri yang bergerak dari hulu hingga hilir. Dari hulu kopi Abah bersama para petani kopi bersama mengembangkan dan mengoptimalisasikan kebun petani agar lebih produktif dan sampai 3 ton per hektar produk green been,” jelasnya. 

Di samping itu, Kopi Abah juga menggerakkan anak muda untuk belajar menjadi barista sekaligus dilatih bagaimana berjualan menggunakan digital marketing dengan era revolusi industri 4.0.
 
Dari sisi hilir Kopi Abah membuat kedai kedai yang sudah tersebar di beberapa tempat di antaranya Bandara Soekarno-Hatta terminal 3 Smmlie Center, Kantin Polda Metro Jaya Jakarta, di restoran Soerabi Bandung Rawamangun, di Warung Solo Kemang Jakarta Selatan, dan beberapa tempat lainnya.

“Kopi Abah sebagai wujud nyata gerakan para santri  berkomitmen dan berjuang untuk meningkatkan ekonomi petani dan menjadi yang tergabung dalam koperasi kopi tani juara. Gerakan pemberdayaan yang dimotori para santri ini mewujudkan kemandirian koperasi petani juara dalam skala nasional dan menjadi agregator hilirisasi nilai tambah kopi dan ekspor,” pungkasnya.

Pewarta: Kendi Setiawan
Editor: Musthofa Asrori
BNI Mobile