Zaman Berubah, Santri Harus Tunjukkan Identitas Kesantrian

Zaman Berubah, Santri Harus Tunjukkan Identitas Kesantrian
H Melvien Zainul Asyiqien (Gus Iing) pada acara Daurah Santri Muassis Nahdlatul Ulama PW RMI NU Jatim di Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo, Sabtu (1/2). (Dok. RMI Jatim)
H Melvien Zainul Asyiqien (Gus Iing) pada acara Daurah Santri Muassis Nahdlatul Ulama PW RMI NU Jatim di Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo, Sabtu (1/2). (Dok. RMI Jatim)
Sidoarjo, NU Online
Terjadinya perubahan zaman tentunya ada dampak yang ditimbulkan, baik itu dampak positif maupun negatif. Semua orang harus bisa mengikuti arus dari perubahan tersebut agar tidak tergerus dengan dampak negatif yang ditimbulkan.

Salah satu dampak perubahan tersebut adalah banyaknya orang yang berbicara agama, namun dasar keilmuan yang mereka miliki amatlah minim. Di sini santri memiliki peranan penting dalam memberikan pencerahan di tengah kegelisahan masyarakat terhadap pemahaman agama.

Hal ini sebagaimana disampaikan oleh salah satu pengasuh Pesantren HM Al-Mahrusiyah Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, H Melvien Zainul Asyiqien. Menurut dia, sudah saatnya santri menampakkan diri dan tidak perlu lagi menutupi keilmuan yang telah didapatkan selama di pesantren.

"Melihat fenomena saat ini, jika santri tidak menampakkan diri, tidak menampakkan ilmu yang didapatkan selama di pesantren, ini justru berbahaya,” ucapnya di tengah acara Daurah Santri Muassis Nahdlatul Ulama pada Sabtu (1/2) yang diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah RMI NU Jawa Timur di Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo, Jawa Timur.

Dikatakan, jika pada saat dulu santri harus bisa menjadi paku yang tidak perlu menampakkan dirinya ketika sedang berada di tengah-tengah masyarakat. Dirinya menganjurkan kepada para santri agar turut serta dan mengembangkan apa yang telah didapatkan selama di pesantren dengan wujud konten kreatif.

“Saya sering menganjurkan teman-teman santri yang ada di daerah untuk membuat suatu kajian, konten youtube, dan sebagainya,” ucap Gus Iing, sapaan akrabnya.

“Ambillah alumni atau kiai-kiai sepuh untuk memberikan dhawuh-dhawuh dan sebagainya. Istilahnya One Day One Dhawuh. Itu bisa berupa video ataupun visualisasi gambar,” lanjutnya.

Dirinya kemudian melanjutkan dengan memberikan penjelasan maksud dari program One Day One Dhawuh. Menurutnya, gerakan semacam ini nantinya akan mampu untuk menangkal dan mengimbangi konten-konten yang bukan dari Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah yang selama ini tersebar luas di dunia maya.

“Para kiai nanti akan dimintai dhawuh setiap harinya. Bentuknya bisa video atau visualisasi gambar. Insyaallah nanti akan bisa mengimbangi konten-konten yang bukan dari kita Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah,” pungkas Gus Iing.

Kontributor: Ahmad Hanan
Editor: Musthofa Asrori
 
BNI Mobile