Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Gaya Talqin Mbah Cholil: Jika Ditanya Malaikat, Jawab Menunggu Saya!

Gaya Talqin Mbah Cholil: Jika Ditanya Malaikat, Jawab Menunggu Saya!
Gus Baha saat mengisi pengajian di Pesantren Mbah Cholil Bangkalan. (Foto: Hairul Anam).
Gus Baha saat mengisi pengajian di Pesantren Mbah Cholil Bangkalan. (Foto: Hairul Anam).

Pamekasan, NU Online

Kehadiran Gus Baha (KH Ahmad Bahauddin Nursalim) di Pesantren Syaichona Cholil Bangkalan belum lama ini, untuk menjadi narasumber sekaligus mengaji kitab karya Mbah Cholil; Taqrifat ala Mandzumati Nuzhatit Thullab dan Isti’dadul Maut, menyisakan banyak cerita. Salah satunya adalah terkait penjelasannya yang menyebut bahwa saat Mbah Cholil mentalqin mayit yang sudah dikuburkan, beliau tidak membacakan talqin sebagaimana biasanya. Tapi menegaskan bila malaikat bertanya, si mayit didorong untuk menjawab sedang menanti Mbah Cholil.

 

"Saya masih penasaran apakah Gus Baha bercanda atau serius dengan penjelasannya itu," ujar Paisun, Dosen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA), Guluk-Guluk, Sumenep, Jawa Timur, Selasa (4/2).

 

Kata Paisun, dalam mengisi pengajian itu, Gus Baha mengurai dan menjelaskan tentang isi kitab karangan Mbah Cholil itu dengan santai tapi serius. Bahkan sempat bilang ‘kecewa’ dengan kitab tersebut.

 

"Saya sedang bercampur sedikit kecewa dengan kitab ini. Sebab, di dalamnya malah mengurai tata cara mentalqin mayit. Ini kitab perlu ada syarahnya," urai Gus Baha yang ditirukan oleh Paisun.

 

Bagi Paisun, penjelasan Gus Baha terkait talqin yang dilakukan Mbah Cholil tersebut bisa memunculkan banyak persepsi. Setidaknya ada dua persepsi.

 

"Persepsi pertama adalah cerita tersebut benar adanya. Berpangkal pada sejarah Mbah Cholil. Jadi ketika kita mentalqin mayit, cukup diarahkan untuk menjawab pertanyaan malaikat dengan bilang menunggu Mbah Cholil," urai Paisun.

 

Persepsi kedua, lebih pada substansi historis. Yaitu, setiap hal jangan dibikin ruwet. Tapi, diusahakan menjadi mudah ketika dikaitkan dengan kehidupan dan kematian suatu kaum.

 

Karena masih memungkinkan muncul banyak persepsi, pihaknya tidak mau berkutat pada pandangan itu-itu saja. Karena itu, Paisun berniat untuk silaturrahim langsung ke Gus Baha sekalian mengaji kitab.

 

"Insyaallah ketika jadwal mengajar di kampus mulai longgar, kami akan ke Gus Baha. Beliau guru kebanggaan NU dan umat Islam saat ini. Semoga beliau selalu sehat dan dalam lindungan Allah. Amin," tukas Paisun.

 

Reporter: Hairul Anam

 

Redaktur: Aryudi AR

BNI Mobile