PM Irak Baru: Ditolak Demonstran Anti-Pemerintah, Disambut Baik Iran

PM Irak Baru: Ditolak Demonstran Anti-Pemerintah, Disambut Baik Iran
Perdana Menteri Irak baru Mohammed Tawfiq Allawi. (Foto: Reuters)
Perdana Menteri Irak baru Mohammed Tawfiq Allawi. (Foto: Reuters)
Baghdad, NU Online
Presiden Irak Barham Saleh menunjuk Mohammed Tawfiq Allawi sebagai Perdana Menteri (PM) Irak baru pada Sabtu (1/2), menggantikan Adel Abdel Mahdi yang mengundurkan diri pada November 2019 lalu menyusul aksi demonstrasi anti-pemerintah besar-besaran. 
 
Allawi memiliki waktu sebulan untuk membentuk pemerintahan, yang harus disetujui parlemen. Dia ditugaskan untuk menjalankan pemerintahan hingga pemilihan umum diadakan. Namun, belum diketahui kapan pemilihan umum diselenggarakan karena tidak ada tanggal yang ditentukan.

Dilansir Aljazeera, Ahad (2/2), penunjukkan Allawi sebagai PM Irak tersebut menyusul ultimatum Presiden Saleh yang mengatakan bahwa dia akan memilih PM baru jika partai-partai tidak menyetujui seorang kandidat pun. Akan tetapi, langkah Saleh tersebut mendapatkan penolakan dari demonstran anti-pemerintah yang menuntut perombakan total penguasa negara itu.

“Mohammed Allawi ditolak,” demikian yel-yel yang dikumandangkan para pengunjuk rasa di Alun-Alun Tahrir, Baghdad, Irak pada hari penunjukan Allawi, Sabtu (1/2). 

Penolakan Allawi bukan tanpa alasan. Para demonstran menganggap, Allawi merupakan ‘orang lama’ atau bagian tidak terpisahkan dari pendirian politik Irak pasca 2003. Tidak hanya itu, Allawi juga dianggap pro Iran. Hal ini bertentangan dengan keinginan demonstran anti-pemerintah yang menginginkan reformasi Irak secara total. 
 
Untuk diketahui, Allawi adalah penduduk Asli Baghdad dan seorang Syiah. Dia merupakan sepupu dari mantan wakil presiden dan perdana menteri Iyad Allawi. Dia mulai terjun ke dunia politik setelah 2003, usai Amerika Serikat (AS) menginvasi Irak dan mengudeta Saddam Husein.  

Allawi pernah menjabat sebagai anggota Parlemen Irak hingga 2005. Dia kemudian ditunjuk dua kali menjadi Menteri Komunikasi pada masa pemerintahan eks PM Nuri al-Maliki. Pada 2012, dia mengundurkan diri setelah diduga terlibat skandal korupsi. 

Disambut baik Iran

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Abbas Mousavi, mengatakan, Iran menyambut baik penunjukan Mohammed Tawfiq Allawi sebagai PM Irak baru. Menurutnya, terpilihnya Allawi merupakan bagian dari upaya untuk memperkuat demokrasi di Irak.

“Dalam melanjutkan dukungan untuk kemerdekaan, kedaulatan nasional, keutuhan wilayah dan memperkuat dasar-dasar demokrasi di Irak…,  Iran menyambut terpilihnya Mohammed Tawfiq Allawi sebagai PM negeri itu,” kata Mousavi, diberitakan IRNA sebagaimana dilansir laman Reuters, Ahad (2/2).

Dikatakan juga, Iran bersedia memberikan bantuan yang diperlukan untuk membantu Irak mengatasi masalah yang dihadapinya.

Didukung ulama populer Syiah

Para pendukung ulama populer Syiah Irak, Muqtada al-Sadr, mendukung penunjukan Allawi sebagai PM Irak baru. Mereka ikut turun ke jalan pada Sabtu (1/2) lalu dan berhadapan dengan demonstran anti-pemerintah, yang menolak Allawi. 

Tidak hanya itu, mereka juga menyerang markas para aktivis di Baghdad dan merusak poster dan spanduk demo. Sadr juga melarang rakyat Irak turun ke jalan. Meski demikian, imbauan Sadr tersebut tidak digubris orang-orang. Mereka tetap turun ke jalan menolak Allawi. 

Apa yang dilakukan Sadr dan pendukungnya itu berbeda dengan sikapnya sebelumnya. Semula, Sadr mendukung para demonstran anti-pemerintah dan bersikap oposisi terhadap pemerintah. Namun setelah Allawi ditunjuk menjadi PM Irak, dia kemudian mendukungnya.

Pewarta: Muchlishon
Editor: Fathoni Ahmad 
BNI Mobile