Tiga Ketua Umum PMII Wafat di Bulan Februari

Tiga Ketua Umum PMII Wafat di Bulan Februari
Ilustrasi logo PMII.
Ilustrasi logo PMII.
Hingga saat ini Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) telah memiliki 17 ketua umum, mulai H Mahbub Djunaidi (1960-1967) hingga kini Agus Herlambang (2017-sekarang). Organisasi yang lahir 17 April 1960 ini pernah dipimpin oleh tiga ketua umum yang kebetulan wafat di bulan Februari, tapi beda tahun. 
 
Pertama, Muhammad Zamroni.
 
Muhammad Zamroni merupakan Ketua Umum PMII kedua setelah kepemimpinan wartawan kawakan, H Mahbub Djunidi. Zamroni mendapatkan kepercayaan penuh dari para peserta kongres karena terpilih saat dia tidak hadir di lokasi, di Malang, Jawa Timur pada 1967. Zamroni saat itu masih berada di Tokyo, Jepang, tengah berobat jari tangan kanan akibat kecelakaan mobil sewaktu konsolidasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) ke daerah Serang, Banten. 
 

Nama Zamroni memang saat itu sedang moncer di kalangan mahasiswa sebab merupakan Ketua Presidium KAMI Pusat (mulai pertama dibentuk sampai bubar). Ia dinilai berhasil berhasil menggerakkan mahasiswa dan pemuda berdemonstrasi turun ke jalan menuntut dan berhasil merontokkan rezim Orde Lama. Dia bahkan sering disebut sebagai tokoh kunci Angkatan 66.

Pada kongres berikutnya, di Makassar, Sulawesi Selatan, peserta kongres mempercayakan kepemimpinan organisasi mahasiswa dari NU itu kepada Zamroni untuk memimpin periode kedua, 1970-1973. Dengan demikian, dia merupakan ketua umum kedua dan terakhir setelah Mahbub Djunaidi yang dipercaya memimpin PMII dua periode. 
 

Pada periode kedua di bawah Zamroni, PMII berkembang sangat pesat. Banyak cabang berdiri di berbagai daerah, tidak kurang dari 120 cabang. Pada zaman kepemimpinan dia pula, PMII menyatakan diri independen yang dicetuskan di Mubes II Murnajati, Malang pada 1972. 

Zamroni wafat pada dini hari Senin 5 Februari 1996, di RS Fatmawati Jakarta Selatan pukul 03.00 WIB. Ia dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta.

Kedua, Muhammad Iqbal Assegaf.
 
Muhammad Iqbal Assegaf merupakan Ketua Umum Pengurus Besar PMII ketujuh dan sempat menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (PP GP Ansor) sampai wafatnya Sabtu, 13 Februari 1999. Iqbal wafat setelah kecelakaan mobil yang dikendarainya di pintu keluar tol Cawang – Tanjung Priuk, Jakarta. Hari itu, Iqbal bersama istrinya akan menghadiri halal bil halal warga Maluku Utara di Gelanggang Remaja Jakarta Utara. 

Iqbal lahir di kampung Bajo, sebuah desa terpencil di pulau Bacan Maluku Utara pada tanggal 12 Oktober 1957. Ia merupakan anak keempat dari dua belas orang bersaudara yang semuanya laki-laki dari pasangan Husein Ahmad Assegaf dan Rawang Abdullah Kamarullah. Ayahnya adalah keturunan langsung dari Habib Umar Assegaf, seorang pejuang kemerdekaan keturunan Arab yang berasal dari Palembang yang menikah dengan Raden Ayu Azimah, putri Sultan Badaruddin II. 

Iqbal menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) masa khidmat 1988-1991. Pada saat itu, PMII pernah mengkritik pejabat pemerintah Orde Baru, di antaranya mengkritik kinerja Menteri Agama Munawir Sadzali. Pasalnya pada musim haji tahun 1990 sekitar 1600 jamaah haji asal Indonesia meninggal di Terowongan Mina, Arab Saudi.  Iqbal meminta Menteri Agama Munawir Sadzali mundur dari jabatannya.

Setelah memimpin PMII, pada Kongres GP Ansor di Palembang pada bulan September 1995, Iqbal terpilih sebagai ketua umum masa khidmat 1995 – 2000.

Ketiga, Ahmad Bagdja.
 
Ahmad Bagdja merupakan Ketua Umum PMII keempat, yakni masa khidmat 1977-1981. Ia lahir di Kuningan, Jawa Barat 1945. Pada masa mahasiswanya, ia pernah menjadi Ketua Umum Dewan Mahasiswa IKIP Jakarta, dan Ketua Badan Koordinasi Senat-senat Mahasiswa IKIP se Indonesia (1970). Kemudian Wakil Sekjen PBNU (1984-1989 dan 1989-1994), Sekretaris Jenderal PBNU pada periode kepengurusan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang kedua, yakni masa khidmat 1989-1994. 
 

Menurut Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, saat itu Ahmad Bagdja adalah orang yang setia mendampingi Gus Dur saat berhadapan dengan penguasa yang diktator. Keberadaannya sangat penting karena saat itu Gus Dur seolah-olah sendirian. 
 

"Beliau setia mendampingi Gus Dur dalam keadaan sangat menyedihkan, sangat prihatin ketika itu NU berhadapan dengan tirani kekuasaan yang sangat otoriter dan diktator, tapi Gus Dur tidak pernah suruh tidak pernah goyang. Nah, yang mendampingi Gus Dur adalah antara lain almarhum Bapak KH Ahmad Bagdja ini," terangnya sebagaimana dirilis NU Online, Kamis 6 Februari mengenang kewafatan Ahmad Bagdja.
 
Penulis: Abdullah Alawi
Editor: Muchlishon
BNI Mobile