Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Gus Sholah Diberi Gelar Safinatul Ummah

Gus Sholah Diberi Gelar Safinatul Ummah
Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Muhammad Sirajuddin Syamsuddin saat menyampaikan sambutan pada tujuh hari wafanya Gus Sholah. (Foto:NU Online/Syarif Abdurrahman)
Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Muhammad Sirajuddin Syamsuddin saat menyampaikan sambutan pada tujuh hari wafanya Gus Sholah. (Foto:NU Online/Syarif Abdurrahman)
Jombang, NU Online
Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Muhammad Sirajuddin Syamsuddin menceritakan kisah masa kecilnya dulu yang ingin jadi santri Tebuireng, setelah lulus Madrasah Tsanawiyah Nahdlatul Ulama (MTs NU). Keinginan tersebut muncul setelah ia membaca majalah Kementrian Agama tentang profil pesantren.
 
"Saya dulu ingin mondok di Tebuireng dan Bahrul Ulum. Tapi karena diantar oleh paman saya maka mampirnya ke Gontor," ujarnya saat menghadiri 7 hari wafanya Gus Sholah di Tebuireng, Jombang, Sabtu malam (8/2).
 
Bahkan secara lugas Din Syamsudin menyampaikan siap memimpin tahlil saat wafatnya Gus Sholah. Meskipun hal ini tidak populer di Muhammadiyah.
 
"Saya siap memimpin tahlil. Bapak saya Syamsuddin adalah tokoh NU. Saya mantan Ketua IPNU. Saya bersyukur pernah hidup di dua alam, kecil di NU, dewasa di Muhammadiyah," tandasnya.
 
Lebih lanjut ia memberi gelar Safinatul Ummah (perahunya umat) kepada KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah). Gelar ini diberikannya karena Gus Sholah punya usaha ingin menyatukan umat.
 
"Saya ingin menambah gelar kepada Gus Sholah yaitu Safinatun Ummah untuk merajut umat selama hidupnya," jelasnya.
 
Pria yang akrab disapa Din Syamsudin menceritakan kenangan terkakhir bersama Gus Sholah. Sebelum wafat, Gus Sholah berkali-kali menghubungi Din Syamsudin untuk diskusi masalah umat.
 
Ia mengaku sudah kenal Gus Sholah sudah cukup lama, tepatnya saat putra Gus Sholah Gus Ipang ingin melamar istrinya dan saat itu ia yang menerima lamarannya. Dari pihak Gus Sholah diwakili Gus Dur.
 
"Saya mohon maaf tak bisa ikut menyalati beliau, karena perjalanannya ke Kroasia. Saya kenal Gus Sholah cukup lama, saat itu menantunya Mbak Dara adalah keponakan dan murid ngaji saya," ungkapnya.
 
Pergaulan Gus Sholah sangat luas sekali, lintas agama dan organisasi. Sehingga pada suatu hari Gus Sholah ingin mengadakan pertemuan tokoh Islam seluruh Indonesia.
Tokoh Islam yang diharapkan tersebut seharusnya berasal dari lintas organisasi. Cita-cita tersebut disampaikan Gus Sholah sebelum wafatnya.
 
"Gus Sholah adalah negarawan. Ia berapa kali mengajak kami mengumpulkan tokoh umat Islam. Sebelum sakit, ia masih ingin ada pertemuan tokoh-tokoh umat Islam," katanya.
 
Menurut mantan Ketua Umum Muhammadiyah ini motif kuat pengumpulan tokoh Islam ini dikarenakan tidak ingin ada perpecahan dalam umat Islam. Akhir-akhir ini, umat Islam terpecah belah karena berbagai kepentingan politik. Ini alarm bahaya bagi Indonesia.
 
Gus Sholah juga merupakan tokoh NU yang ingin menyatukan NU dengan Muhammadiyah dalam berbagai event dan kegiatan. Sikap ini diwarisi dari sikap KH M Hasyim Asy'ari yang sangat akrab dengan Kiai Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah.
 
Din Syamsudin dalam hal ini mendukung Gus Sholah dalam menyatukan tokoh umat Islam. Sayangnya, hingga ajal Gus Sholah menjemput, keinginan itu belum terwujud.
 
"Jika NU-Muhammadiyah bersatu maka 1/2 masalah Umat Islam Indonesia bisa teratasi. Kiai Ahmad Dahlan kalau ke Jawa Timur selalu berusaha mampir ke Tebuireng," tandasnya.
 
Kontributor: Syarif Abdurrahman
Editor: Syamsul Arifin
BNI Mobile