SIMPOSIUM ISLAM NUSANTARA

Modal Besar Muslimah Indonesia Berkontribusi Internasional

Modal Besar Muslimah Indonesia Berkontribusi Internasional
Diskusi Panel Perspektif Islam Nusantara tentang Minoritas, Disabilitas dan Perempuan dalam Simposium Islam Nusantara, Sabtu (8/2). Diskusi diselenggarakan oleh Fakultas Islam Nusantara Unusia di Gedung PBNU, Jakarta Pusat. (Foto: NU Online/Nuri Farikhatin)
Diskusi Panel Perspektif Islam Nusantara tentang Minoritas, Disabilitas dan Perempuan dalam Simposium Islam Nusantara, Sabtu (8/2). Diskusi diselenggarakan oleh Fakultas Islam Nusantara Unusia di Gedung PBNU, Jakarta Pusat. (Foto: NU Online/Nuri Farikhatin)
Jakarta, NU Online
Ketua Pengarah Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) Badriyah Fayumi mengatakan bahwa Indonesia memiliki modal besar dalam menjadikan perempuan dalam perspektif Islam Nusantara sebagai branding keunggulan untuk berkontribusi di dunia internasional.
 
"Hal itu dapat dilihat dari banyaknya perempuan-perempuan Muslim Indonesia yang saat ini berperan aktif di kencah internasional," katanya saat Diskusi Panel Perspektif Islam Nusantara tentang Minoritas, Disabilitas dan Perempuan dalam Simposium Islam Nusantara, Sabtu (8/2). Diskusi diselenggarakan oleh Fakultas Islam Nusantara Unusia di Gedung PBNU, Jakarta Pusat.
 
"Sebuat saja Huzaemah T Yanggo, perempuan Muslim yang mewakili Indonesia dalam pertemuan para mufti di seluruh dunia. Ia adalah satu-satunya perempuan yang mengikuti pertemuan dengan para mufti lainnya," kata Badriyah.
 
Selain itu terbentuknya KUPI (Kongres Ulama Perempuan Indonesia) juga mendapatkan apresiasi yang sangat besar dari dunia internasional karena telah berhasil menghimpun perempuan-perempuan Muslim dalam satu wadah yang mana di negara Islam lain belum bisa melakukannya. Hingga Presiden Afganistan pun datang ke Indonesia untuk belajar dengan KUPI bagaimana mengembangkan pola yang demikian.
 
"Masih banyak lagi kiprah perempuan Muslim yang bisa dilihat hari ini. Bahkan, kalau ditarik mundur, sejarah Indonesia ini memiliki perempuan-perempuan Muslim yang berperan aktif di ranah publik. Seperti Sultanah Malahayati, Sultanah Safiyatuddin, Ratu Kalinyamat, Ratu Shima dan ratu-ratu Islam lain dalam masa kerajaan Islam Nusantara yang mana jumlahnya itu yang terbanyak di dunia," papar Pengasuh Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur'an wal Hadist itu. 
 
Jika berbicara politik, pun banyak organisasi-organisasi yang dipimpin oleh perempuan, seperti Muslimat NU, Fatayat, dan jabatan-jabatan publik seperti walikota, gubernur, hingga presiden yang diisi oleh perempuan muslim. Itu artinya posisi perempuan Muslim Indonesia ini sudah menjadi contoh yang baik bagi lingkungan dunia Islam. 
 
"Meskipun hal itu terlepas dari masalah-masalah krusial yang perlu diselesaikan di dalamnya seperti diskriminasi, marjinalisasi, subordinasi, tindakan objek radikalisme, dan tindakan-tindakan lain yang merugikan kaum perempuan, " lanjutnya.
 
Tetapi, ia tetap optimis bahwa feminisme Muslim Indonesia akan menghasilkan sesuatu yang besar, serta dapat tumbuh dalam lingkungan masyarakat Indonesia tanpa ada jarak.
 
Beberapa modal yang telah dipaparkan itu menurutnya telah cukup sebagai tema khusus dari kajian Islam Nusantara. Sebab kajian Islam Nusantara dalam perseperktif perempuan sejatinya sangat berkaitan. Hanya saja sejarah yang dibangun oleh laki-laki tanpa menempatkan perspektif perempuan di dalamnya. Akibatnya, perempuan tidak muncul dalam kajian tersebut.
 
Kontributor: Nuri Farikhatin
Editor: Kendi Setiawan
 
BNI Mobile