Visi NU dalam Perdamaian Dunia Dimulai dari Perubahan Cara Berpikir

Visi NU dalam Perdamaian Dunia Dimulai dari Perubahan Cara Berpikir
Katib Aam PBNU KH Yahya C. Staquf (Foto: NU Online/Suwitno)
Katib Aam PBNU KH Yahya C. Staquf (Foto: NU Online/Suwitno)
Jakarta, NU Online 
Katib Aam PBNU KH Yahya C. Staquf mengatakan, lambang NU yang menggunakan simbol bola dunia merupakan tanda bahwa para kiai pesantren waktu itu juga berpikiran global. Sehingga, kata dia, tidak aneh jika kemudian hari ini NU punya visi global tentang perdamaian umat manusia. 
 
Menurut kiai yang akrab disapa Gus Yahya ini langkah-langkah dan inisiatif untuk melaksanakan visi NU dalam upaya perdamaian dunia sudah dilakukan, yaitu dengan berusaha mengubah cara berpikir dalam melihat orang non-Muslim. Pada Munas NU Banjar tahun 2019 lalu, NU menyatakan bahwa sebutan kafir kepada orang non-Muslim sudah tidak relevan dalam konteks negara bangsa modern. 
 
Pada Simposium Nasional Islam Nusantara yang digelar di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Sabtu (8/2), Gus Yahya mengajak agar pemeluk agama lain juga melakukan hal yang sama. 
  
“Sebagian sudah kita lakukan. Pertama-tama, jelas kita sudah mengidentifikasi menginstrospeksi masalah-masalah yang ada di dalam diri kita sendiri. Kemudian mencari jalan keluarnya. Misalnya masalah mainset,” katanya. 
 
Ia menjelaskan, di dalam wacana dan wawasan fiqih NU masih dominan pandangan untuk mendiskriminasi kafir untuk membedakan hak dan martabatnya dengan orang Muslim. 

“Jelas. Kita sudah mengakui bahwa itu masalah dan kita memberikan alternatif berdasarkan kajian yang legitimate secara akademik bahwa sekarang kategori kafir itu tidak lagi relevan. Itu contohnya. Pertama yang dilakukan adalah identifikasi masalah secara jujur apa yang ada di dalam diri kita,” jelasnya. 

Nah, kita berharap semua orang melakukan hal yang sama. Kita berharap orang-orang Yahudi melakukan hal yang sama dan mmembangun wacana baru. Kita berharap orang-orang Kristen, Hindu, Buddha, melakukan hal yang sama.  

Kedua, kata dia, kita melakukan upaya perdamaian, resolusi konflik karena konflik sekarang yang masih terjadi ini akan terus menjadi kayu bakar untuk memperpanjang konflik. Kita harus memperjuangkan perdamaian dengan risiko apa pun. 

“Ini adalah soal pilihan. Kalau kita mau berkonflik, ada banyak alasan yang mengesahkan pilihan kita untuk berkonflik. Kalau kalian pergi berperang melawan pemerintah Filipina, ada banyak dalilnya. Tapi kita tahu konsekuensinya kalau itu dilakukan seluruh peradaban akan runtuh. 

Mari kita bangun perdamaian supaya Palestina ini sempat sekolah, sempat bekerja, sempat berpikir tentang ilmu pengetahuan, tidak terus-menerus hidup dalam darurat seperti sekarang.  

Yang ketiga, menciptakan wacana alternatif. Tapi itu tidak cukup, harus ada strategi untuk mengubah mainset masyarakat. Nyatanya sekarang masyarakat masih punya mainset yang bermasalah, orang NU sendiri. 

“Nah, sekarang bagaimana strategi mengubah mindset, kita perlu dua hal. Pertama, kita harus membangun melakukan penyesuaian sistem keagamaan kita. Harus kita tinjau lagi nih bagaimana kita mengajarkan agama kepada anak-anak kita. 

Kedua, komponennya gerakan sosial seperti NU ini yang kemudian kita punya instrumen sampai ke grassroot untuk menjalankan strategi dengan macam-macam kegiatan, dengan desiminasi wacana dan sebagainya sehingga grashroot ikut bergerak bersama-sama dengan wawasan ini. 

“Ini tidak ada di tempat lain. Kenapa seluruh Timur Tengah dan dunia Islam di luar Indonesia gagal dan runtuh? Karena tidak ada tradisi gerakan sosial. Di Arab tidak ada tradisi gerakan sosial,” pungkasnya. 

Pewarta: Abdullah Alawi
Editor: Fathoni Ahmad
 
BNI Mobile