Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

KH Hasyim Adnan:Orator Ulung dan Aktivis Dakwah di Jakarta (3)

KH Hasyim Adnan:Orator Ulung dan Aktivis Dakwah di Jakarta (3)
(Foto: koleksi keluarga)
(Foto: koleksi keluarga)
Cok…Galicok…Galagacok…Cocok!
KH Hasyim Adnan (1939-1988 M) dalam ceramahanya sering menyelipi kalimat atau ungkapan dalam bahasa Inggris selain bahasa Arab. Semua itu diutarakannya dengan fasih. Ia juga memiliki satu ungkapan yang menjadi ciri khasnya ketika berceramah, yaitu: Cok…galicok…galagacok…cocok!

Ungkapan ini dia yang buat sendiri sebagai teknik komunikasinya dengan audiens saat berceramah agar audiens tidak jenuh mendengarkan ceramahnya. Orang-orang yang pernah mendengar ceramahnya tentu tidak asing dengan ungkapan ini.

Ungkapan Cok…galicok…galagacok…cocok! Tidak punya arti apa-apa selain kalimat tambahan dari kata cocok. Ungkapan ini disampaikan ketika dia bertanya kepada audiens dari penjelasannya,”Cocok?”

“Cocok!” Jawab audiens serentak.

Cok…galicok…galagacok…cocok!” balas KH Hasyim Adnan.
 
    
Mendirikan Kampus untuk Kader Dakwah
Setelah menikah, kesibukan dakwah KH Hasyim Adnan bukann berkurang, malah banyak. Bahkan dia memiliki rencana untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan dakwah karena menurutnya tantangan dakwah dan jumlah mad`u (obyek dakwah) di Jakarta sangatlah besar, namun jumlah dainya masih sangat sedikit, apalagi dai yang berkualitas yang menguasai ilmu dakwah. Ini tidak bisa dibiarkan. 

Ada hikmah dari setiap masalah, dan seperti yang dikatakan oleh sebuah pepatah: pucuk dicinta ulam tiba; KH Hasyim Adnan mendapatkan sesuatu yang lebih daripada apa yang diharapkan atau dicita-citakan dari masalah yang dia hadapi! Ini terjadi pada tahun 1973. Ketika itu, pengajian tabligh akbar malam sabtunya di Jalan Pramuka tidak dapat lagi dilaksanakan karena tempat yang dipakai ditutup untuk dijadikan jalan jalur lambat Jalan Pramuka. Hal ini bukan membuat dirinya sendiri sedih, tetapi masyarakat sekitar dan peserta atau jamaah pengajian tablig akbarnya yang rutin datang setiap malam Sabtu juga turut bersedih. Karena, di mana lagi mereka dapat menikmati pengajian tabligh akbar malam Sabtuan KH Hasyim Adnan cs? 

Allah SWT maha membolak-balikan qalbu. Dia yang menggenggam qalbu dan yang maha menggerakan qalbu semua manusia. Setahun sudah sejak pengajian tabligh akbar malam Sabtuan di Jalan Pramuka ditutup, pada tahun 1974 atas kuasa dan kehendak-Nya, tergeraklah qalbu salah seorang kaya raya di daerah sekitar Pramuka, yaitu H Mukhtar Sanusi, yang mewakafkan sebidang tanahnya seluas 1000 meter kepada KH Hasyim Adnan yang terletak di dalam gang di tengah pemukiman penduduk di Jalan Kayu Manis, sekarang tepatnya di Jalan Kayu Manis Barat nomor 99, Jakarta Timur.

Di tahun 1974 itu juga KH Hasyim Adnan dan keluarga pindah ke Jalan Kayu Manis. Awalnya, selain pengajian, dia mengadakan kursus dakwah. Dari kursus dakwah ini dia mendirikan (Akidah) Akademi Ilmu Dakwah. Seiring dengan perkembangan zaman dan kebutuhan, pada tahun 1980, Akidah berubah menjadi Perguruan Tinggi Ilmu Dakwah (PTID) Al-Aqidah dengan rektor pertamanya adalah Prof KH Saefudin Zuhri (mantan Menteri Agama RI/tokoh NU).

Pada tahun 1985, karena alasan kesehatan, Prof. KH. Saefudin Zuhri digantikan oleh KH Abdurrahman Wahid (Presiden ke-4 RI) atau akrab dipanggil Gus Dur. Di bawah kepimpinan Gus Dur, Al-Aqidah mengalami perubahan-perubahan. Perguruan Tinggi Ilmu Dakwah berubah menjadi Perguruan Tinggi Agama Islam (PTIA) Al-Aqidah. Seiring meningkatnya kemampuan Al-Aqidah untuk meluluskan sarjana secara mandiri, statusnya meningkat menjadi Institut Agama Islam (IAI) Al-Aqidah.

Seiring perjalanan waktu, pada tahun 2009, Kampus Al-Aqidah melakukan pembenahan dan juga penyesuaian dengan kebijakan Departemen Agama dan Departemen Pendidikan Nasional yang menyatakan-kampus yang hanya memiliki tiga program studi, statusnya menjadi sekolah tinggi, sedangkan untuk institut dipersyaratkan memiliki minimal enam program studi. Dengan keterbatasan yang dimiliki Yada’i, kampus yang semula bernama Institut Agama Islam Al-Aqidah berubah menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah.

Di Tahun 2015, STAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah Jakarta dipercaya oleh Kementerian Agama Republik Indonesia untuk mendapatkan Program Studi baru, yakni Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dan Pendidikan Guru Raudhatul Athfal (PGRA)-belakangan Kemenag mengubah nomenklaturnya menjadi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD).

Selanjutnya, pada tahun 2016, Program Studi di lingkungan STAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah Jakarta menjadi genap 6 (enam), dengan ditambahi amanah lagi oleh Kemenag RI, Program Studi baru Hukum Ekonomi Syariah (HES). Kini STAI Al-Aqidah menunggu perizinan alih status kembali menjadi institut karena sudah memenuhi syarat enam program studi sesuai aturan pemerintah.

Selain Program Studi Sarjana Strata I (S1), sejak berdiri kampus Al-Aqidah juga menjadi inisiator perguruan tinggi yang berbasis pesantren. Pada tahun 2009, Pesantren Mahasiswa tersebut berubah menjadi Ma’had Aly STAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah yang diasuh oleh KH Jamaludin Faisal Hasjim atau yang akrab dipanggil Gus Jim, putra dari KH M Hasjim Adnan (pendiri kampus). Adapun program studinya adalah Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Pendidikan Agama Islam (PAI), Ahwal Al-Syakhshiyyah, Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), dan Hukum Ekonomi Syariah.
 

Mendirikan Dewan Masjid Indonesia (DMI)
KH Hasyim Adnan juga turut menjadi salah seorang pendiri dari Dewan Masjid Indonesia (DMI). DMI adalah organisasi tingkat nasional dengan tujuan untuk mewujudkan fungsi masjid sebagai pusat ibadah, pengembangan masyarakat, dan persatuan umat. Organisasi ini didirikan pada tahun 1972 dengan maksud untuk meningkatkan keimanan, ketakwaan, akhlak mulia, dan kecerdasan umat serta tercapainya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT  dalam wilayah Negara Republik Indonesia.

DMI mempunyai kepengurusan di setiap provinsi dan kabupaten di Indonesia. Pimpinan pusat DMI dipilih secara demokratis setiap lima tahun melalui muktamar nasional. Ketua umum pengurus pusat DMI periode 2012-2022 adalah H Muhammad Jusuf Kalla, yang menggantikan Tarmizi Taher. Ia terpilih pada Muktamar VI DMI tahun 2012 di Jakarta dan diberi amanah untuk memimpin organisasi ini hingga tahun 2017. Kantor pusat DMI berada di Kompleks Masjid Istiqlal, Jalan Taman Wijayakusuma, Jakarta Pusat 10710.

Ide pembentukan DMI bermula dari pertemuan tokoh-tokoh Islam yang dihadiri oleh Bapak H Rus'an dari Dirjen Bimas Islam dan Wakil Ketua Jakarta Pusat Bapak H Edi Djajang Djaatmadja. Mereka membentuk panitia untuk mendirikan Dewan Kemakmuran Masjid Seluruh Indonesia (DKMSI). Pada tanggal 16 Juni 1970 formatur yang diketuai oleh KH MS Rahardjo Dikromo terbentuk dengan anggota H Sudirman, KH MS Rahardjo Dikromo, KH Hasan Basri, KH Muchtar Sanusi, KH Hasyim Adnan, dan KH Ichsan. Tepatnya pada tanggal 22 Juni1972 rapat tim formatur memutuskan untuk mendirikan Dewan Masjid Indonesia (DMI).
 

Berperan di MUI
KH Hasyim Adnan pada tahun 70-an dikenal juga sebagai mubaligh muda yang berperan di Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan turut serta dalam kelahiran dan perjalanan awal MUI. Kiprahnya di MUI ini tertulis di dalam buku yang berjudul Islam dan Muslim di Negara Pancasila yang ditulis oleh Fuad Nasar terbitan Gre Publishing.

Ada dialog yang menarik antar KH Hasyim Adnan dan Buya Hamka yang baru saja terpilih sebagai Ketua Umum MUI yang pertama. KH Hasyim Adnan bertanya kepada Buya Hamka: ”Apa sanksinya kalau pemerintah nanti tidak mau menjalankan suatu putusan atau fatwa dari majelis ulama?”

Buya Hamka menjawab,”Tidak ada sanksi yang dapat kita pergunakan. Kita sebagai ulama hanya berkewajiban melakukan amar makruf nahi mungkar. Kewajiban kita di hadapan Allah hanya menyampaikan dengan jujur apa yang kita yakini. Sanksi orang yang menolak kebenaran yang kita ketengahkan bukanlah dari kita. Kita ini hanya manusia yang lemah. Yang memegang sanksi adalah Allah Ta`ala sendiri.” (bersambung...)
 

Rakhmad Zailani Kiki, Sekretaris RMINU DKI Jakarta. Kesehariannya menjadi peneliti pada Jakarta Islamic Centre. Ia juga iamanahi sebagai Sekretaris Aswaja Center PBNU.
BNI Mobile