Presiden Palestina Tegaskan Tolak ‘Rencana Damai Trump’ di PBB

Presiden Palestina Tegaskan Tolak ‘Rencana Damai Trump’ di PBB
Presiden Palestina Mahmoud Abbas kembali menolak Rencana Perdamaian Timur Tengah versi Presiden AS Donald Trump di hadapan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB), Selasa (11/2). (Foto: AP)
Presiden Palestina Mahmoud Abbas kembali menolak Rencana Perdamaian Timur Tengah versi Presiden AS Donald Trump di hadapan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB), Selasa (11/2). (Foto: AP)
New York, NU Online
Presiden Palestina Mahmoud Abbas secara tegas menolak Rencana Perdamaian Timur Tengah yang digagas Presiden Amerika Serikat (AS) untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina. Hal itu kembali dilontarkan Abbas saat berpidato di hadapan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB), Selasa (11/2).

“Kami menolak rencana Amerika-Israel, yang mempertanyakan hak-hak sah warga Palestina," kata Abbas.

Menurutnya, dunia juga menolak rencana Trump yang membatasi kedaulatan Palestina tersebut. Dia mendesak DK PBB untuk menolak proposal Trump tersebut karena itu tidak akan membawa perdamaian abadi dan malah memecah tanah Palestina.

Abbas menambahkan, jika rencana Trump itu dijalankan maka Palestina hanya akan menjadi ‘negara terfragmentasi’, tanpa kendali atas wilayah udara dan perairan, serta Yerusalem Timur. 

“Jika Anda memaksakan perdamaian maka itu tidak akan bertahan lama, itu tidak bisa bertahan lama,” kata Abbas, dinukil laman AFP, Selasa (11/2).

“Kesepakatan ini bukanlah kemitraan internasional. Proposal ini berasal dari satu negara, didukung oleh negara lain untuk diberlakukan," lanjutnya.

Sebelumnya, Liga Arab, Organisasi Kerja sama Islam (OKI), dan Uni Eropa (EU) juga menolak rencana Trump tersebut. Secara umum, menurut mereka, rencana versi Trump itu tidak akan menghasilkan kesepakatan damai yang abadi karena mengabaikan aspirasi rakyat Palestina.

Untuk diketahui, pada Selasa, (28/1) lalu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan Rencana Perdamaian Timur Tengah, usai menjamu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih, Washington. Sebagai bagian dari rencananya, Trump menyatakan bahwa Yerusalem akan tetap menjadi ibu kota Israel yang tidak bisa dipisahkan. Sementara, Palestina akan diberi hak untuk mengelola Yerusalem Timur ketika nanti sudah diakui sebagai negara berdaulat.
 
Dikutip CNN, Rabu (29/1), berikut beberapa poin kunci Rencana Perdamaian Timur Tengah Trump:  Pertama, semua pemukiman Israel di Tepi Barat akan dianeksasi Israel. Kata Trump, pembagian wilayah tidak mengharuskan siapa pun untuk pindah. Kedua, Lembah Jordan juga berada di bawah kedaulatan Israel. Ketiga, Yerusalem menjadi ibu kota Israel yang tidak bisa dipisahkan. Keempat, situs keagamaan tetap bisa diakses semua pemeluk agama. Temple Mount (Haram as-Syarif) akan tetap berada di bawah pengawasan Yordania.   

Kelima, ibu kota Negara Palestina masa depan berada di daerah yang terletak tepat di timur dan utara tembok yang mengelilingi bagian dari Yerusalem. Itu bisa dinamai al-Quds atau lainnya terserah Negara Palestina masa depan. Keenam, Hamas akan dilucuti. Gaza dan seluruh wilayah Negara Palestina di masa depan akan didemiliterisasi.

Pewarta: Muchlishon
Editor: Alhafiz Kurniawan
BNI Mobile